
Arm membuka matanya perlahan, ia memegang kepala karena merasa sangat pusing dan juga sakit.
Tiba tiba Arm teringat pertemuan ia dan Leonard yang seperti nyata atau mimpi karena setelah Amberly ingin mengatakan tentang orang yang berkerja sama dengan dia ingatan Arm hilang.
Kejadian itu seperti kaset yang terpotong di tengah jalan dan tidak bisa dilanjutkan.
"Apakah tadi itu mimpi?"tanya Arm pada dirinya sendiri.
Arm tampak memegang pipinya dan ia masih ingat bagaimana tangan dingin itu mengelus kedua pipi Arm dengan begitu lembut.
"Aku berharap itu nyata dan Kay memang menemuiku."ucap Arm lalu bangkit untuk duduk.
Arm mengambil air putih yang ada di samping tempat tidur dan meminumnya hingga habis setelah itu Arm pun bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tentang mimpi yang Arm alami atau mungkin kenyataan, Arm mengesampingkan itu semua karena ada yang lebih penting dari itu.
Setelah lima belas menit bersiap siap akhirnya Arm pun melangkahkan kaki keluar dari kamar.
Saat membuka pintu ia berpapasan dengan adiknya, tampak sang adik yaitu Nona Zika lagi menelpon seseorang dengan wajah yang terlihat kesal.
"Kan sudah aku bilang jangan pernah ketemu dia dulu sebelum waktunya, kamu mau rencana yang kita jalani sudah payah malah berantakan."terdengar suara Nona Zika yang sepertinya tidak melihat Arm dan berjalan lurus saja ke kamarnya.
Arm tak jadi melangkahkan kakinya malah menatap kearah punggung sang adik dengan kening berkerut.
Kata kata yang diucapkan oleh sang adik seperti berkaitan dengan apa yang terjadi padanya.
Tapi itu hanya pemikiran sepintas Arm saja karena ia juga tidak tau apa yang ia alami tadi benar adanya atau hanya sebuah mimpi.
__ADS_1
Arm terdiam memikirkan sesuatu, ia baru mengingat sesuatu.
.
.
.
Seorang pria berpakaian bodyguard tampak berjalan menuruni tangga ke ruang bawah tanah.
Tidak ada yang berani menghalangi pria itu semuanya hanya diam seperti tak melihat pria itu.
Langkah kaki panjang itu terus berjalan menuju penjara paling ujung tempat tahanan yang paling berbahaya tempat dimana minim cahaya dan juga sangat dingin.
Langkah pria itu tampak berhentu di depan jeruji besi itu.
Amberly tampak tak terganggu dengan laki laki yang masih diam menatap punggungnya walaupun Amberly tau laki laki itu menatap ke arah dia.
Tanpa mengatakan apapun laki laki itu pun pergi dari situ tanpa mengatakan apapun.
setelah mendengar langkah kaki lali laki tadi menjauh barulah Amberly memutar tubuhnya dan berdiri lalu berjalan menuju pintu penjara.
Tampak sebuah kertas putih dilipat dua berada di sela itu.
__ADS_1
Amberly membuka kertas itu dan tampaklah beberapa kalimat yang begitu mengejutkan menurutnya.
"baiklah aku akan menjalan tugasku."ucap Amberly dengan senyuman misterius sambil merobek kertas itu hingga menjadi kertas kecil kecil.
Lalu Amberly kembali menuju ke dinding yang mau dia gambar.
.
.
.
Bersambung
Untuk Nama Arm akan diubah menjadi Arnold Benvolio karena memang sebenarnya Arm sudah mati.
Setelah ini saya akan menulis Arn bukan Arm, cuman beda m diganti dengan n
Saya harap teman teman selalu enjoy dengan cerita saya.
Jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
__ADS_1
salam hangat dari author 💙