ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 80


__ADS_3

Keberuntungan tidak selalu berpihak terhadap Tuan Adrian, lihatlah sekarang dia merasakan apa itu jatuh sejatuh jatuhnya tanpa ada satu pun tangan yang membantu ia berdiri.


uhukk


Tuan Adrian terus batuk darah dengan wajah yang sudah dipenuhi darah tapi batuknya tidak juga reda rasanya tenggorokannya sangatlah gatal.


Bahkan untuk meminta tolong saja dia tidak bisa karena batuk yang tidak mau berhenti.



Rain terduduk memegangi dadanya yang berlumuran darah, ia menatap ke arah sang ibu yang keadaannya tidak jauh beda dari Rain.



Leonard tampak sudah sangat pucat tapi ia tetap memberikan sebuah senyuman tulus pada Rain.


"Sayang...sayang.... jangan tidur dulu aku akan membawa mu ke rumah sakit."ucap Brain yang langsung menggendong Rain dan membawa keluar tanpa mempedulikan yang ada dalam ruangan.


Meskipun ia menangis darah pun Magraf tidak akan kembali lagi dan mungkin sudah saatnya ia mulai menerima takdir.



"Leo...Leo..."Arn menepuk pipi Leonard dengan pelan saat mata leonard yang sudah tampak sayu.


"Aku tidak akan pingsan sebelum melihat dia mati."Ucap Leonard dengan wajah pucat tapi kata kata yang tajam.


Uhukk uhukk



Tuan Adrian pun terus batuk batuk sampai nafasnya mulai sesak karena batuk yang semakin menjadi jadi.


uhuk uhukk

__ADS_1


Tuan Adrian terjatuh dari kursi sambil memegang tenggorokan sendiri lalu tangan tuan Adrian tampak mencekik leher sendiri.



Sebuah senyuman tipis tercipta di bibir pucat Leonard saat melihat Tuan Adrian mencekik leher sendiri karena sudah lelah batuk batuk terus dan ditambah lagi hidungnya juga mengeluarkan darah.



Lalu Leonard mengambil pistol yang berada di atas meja dan melemparkan ke dekat Tuan Adrian, tapi karena tenaga Leonard yang sudah sangat lemah hingga pistol itu berjarak satu meter dari tuan Adrian.


uhukk uhukk


Tuan Adrian tidak mencekik leher lagi tapi ia merangkak mendekati pistol yang dilemparkan Leonard sambil tetap batuk batuk yang tidak berhenti.



Leonard dan juga Arn menatap bagaimana tuan Adrian mengarahkan pistol itu ke kepala sendiri dengan pandangan datar.




Darah kembali memenuhi ruangan itu saat sebuah tembakan mengenai kepala Tuan Adrian.


"Sudah lama aku menunggu saat saat seperti ini."ucap Leonard lalu ia pun menutup matanya.


Arn yang tadinya tertegun menatap ke arah tuan Adrian yang tergeletak tak berdaya pun sadar kalau Leonard sudah pingsan.


Tanpa pikir panjang Arn pun langsung menggendong Leonard dan membawa keluar dari ruangan itu.



Saat keluar dari ruangan itu Arn langsung dihadapkan dengan darah yang berceceran dari para bodyguard bodyguardnya.

__ADS_1



Arn menatap kearah Leonard sebentar lalu ia pun kembali melanjutkan langkah.



Tak akan ada yang percaya kalau wanita bertubuh kecil seperti Leonard akan bisa melakukan semua ini.



Tapi meskipun bisa ia tetap harus menanggung resiko dari tindakan yang ia ambil dan lihatlah sekarang ia dihadapkan dengan kematiannya sendiri.



Jika hati sudah keras maka inilah yang terjadi, Leonard tak peduli lagi dengan apapun yang terpenting baginya adalah bisa membalaskan segala dendam yang ada dalam hatinya bisa menghancurkan orang yang merusak keluarganya.



Membalaskan kesakitan yang harus ia tanggung hanya karena dendam masa lalu dari orang lain.



Dan sekarang dia telah melakukan itu semua, ia sudah terlepas dari jerat sakit hati yang terus melingkupi seluruh relung hatinya.


.


.


.


bersambung.


jangan lupa untuk like and vote ya 🙂.

__ADS_1


salam hangat dari author 💙


__ADS_2