ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 85


__ADS_3

Leonard turun saat mobil berhenti di depan sebuah rumah sakit besar diikuti oleh Arn.



Arn dan juga Leonard berjalan beriringan memasuki rumah sakit itu, mereka langsung berjalan menuju lift karena tadi sudah tau dimana letak kamar inap Rain.



Tak ada percakapan diantar keduanya, mereka asik dengan pikiran masing-masing.



Hingga pintu lift terbuka mereka masih tak membuka suara.



Mereka pun berhenti di sebuah kamar VVIP yang dijaga oleh dua orang bodyguard didepannya.


"Aku ingin masuk."ucap Leonard dengan suara datar tapi dengan wajah yang masih tampak tenang.


"Maaf nyonya, tapi tuan Brain tidak memperbolehkan siapapun masuk kecuali dokter atau perawat."ucap salah satu bodyguard.


Manik hitam itu berubah tajam saat perkataan dia dibantah.


"Kami hanya menjalan tugas nyonya, kalau nyonya memang benar benar ingin masuk maka izinlah dulu pada Tuan Brain."ucap Bodyguard yang satu lagi.


"Kenapa aku harus meminta izin?!! Aku ibunya dan tidak ada yang berhak melarang aku untuk bertemu dengan anakku."ucap Leonard dengan suara mulai naik.


"cepat buka pintunya!!"perintah Leonard dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Arn yang melihat keadaan yang makin tidak kondusif pun menarik Leonard ke dalam dekapannya, menenangkan wanita itu.


Arn mengambil hp dan menelpon Brain. Cukup lama menunggu akhirnya Brain pun menjawab telepon itu.


"Buka pintu ruangan Rain! aku ingin masuk."ucap Arn dengan tegas.


"Kamu datang dengan siapa?" tanya Brain dari seberang sana.


"Aku datang dengan ibunya Rain."


Terdiam beberapa saat, Brain sepertinya masih sedikit trauma dengan leonard.


Leonard dapat mendengar semua percakapan itu sebab ia masih berada dalam dekapan Arn.


Leonard mendongakkan kepala menatap Arn dengan wajah polos lalu Arn pun ikut menunduk melihat Leonard.


"Cepatlah!!! atau kau ingin rumah sakit ini rata dengan tanah olehku."ucap Leonard mengancam Brain.


Dan tak lama salah satu Bodyguard pun mendapatkan telepon dari Brain yang menyuruh mereka untuk membuka pintu kamar inap Rain.



Tanpa mengucapkan apa-apa Leonard dan juga Arn pun langsung masuk kedalam ruangan itu.



Tampaklah Rain yang sedang berbaring dengan alat oksigen yang berada disekitar hidung.


__ADS_1


Gadis itu tampak tenang dalam tidurnya seperti putri tidur yang menanti pangerannya datang untuk membangunkan.



Leonard berjalan mendekati bangkar Rain lalu ia duduk di kursi samping Bangkar itu sambil mengambil tangan Rain lalu ia menciumnya.



Arn berdiri di belakang Leonard dengan tatapan mata menatap kearah wajah Rain yang begitu mirip dengan Leonard.


Sebuah pertanyaan pun tiba tiba muncul di otk Arn.


Apakah Rain adalah anaknya?


"Bukankah Rain ingin main sama sama barang ibu kan? bukankah Rain ingin belajar masak sama ibukan? semua keinginan Rain akan ibu penuhi asalkan Rain bangun ya, nak."ucap Leonard dengan begitu lembut.


"Rain ingin mendengarkan penjelasan ibukan? Kalau Rain bangun ibu akan menjawab semua pertanyaan Rain, ibu janji."lanjut Leonard yang tak menyerah membawa Rain berbicara.


"Ayo bangun sayang, ibu nggak kuat kiat kamu terbaring tak berdaya seperti ini, harusnya kalau ibu tidak mengorbankan kamu maka kamu akan baik baik saja sekarang."


"Maafkan ibu ya sayang, maafkan ibu yang selalu meninggalkan kamu."


.


.


.


bersambung

__ADS_1


jangan lupa untuk like and vote ya 🙂.


salam hangat dari author 💙


__ADS_2