
Amberly membuka matanya dan kembali hanya besi besi yang dapat ia lihat dengan cahaya yang begitu redup sebabia berada di penjara paling ujung dan pastinya mendapatkan penerangan yang paling sedikit.
Rasa dingin menusuk tulang selalu dirasakan oleh Amberly sejak ia memasuki penjara ini.
Tidur dengan sebuah selimut tipis tanpa adanya kasur membuat ia susah tidur dan juga hal itu berpengaruh pada kesehatan Amberly yang semakin hari semakin menurun.
Amberly menyandarkan tubuhnya ke dinding dingin itu dengan kedua tangan mengelus lengannya memberikan kehangatan.
Amberly tak pernah menyesali ia masuk penjara ini karena ia tau kalau semua ini adalah demi kekasihnya.
"Kau tau sayang, sudah lama kita berpisah tapi aku masih mengingat semuanya tentang dirimu dan melupakannya saja aku tidak bisa."ucap Amberly dengan suara kecil.
"Sayang...."panggil Amberly pada sang kekasih dengan nada manja tangan yang menggandeng lengan pria tampan itu.
"Apa?"tanya Arm sambil mengelus rambut Amberly yang sedang bersandar di dadanya.
Walaupun Arm dan Amberly sering LDR tapi tak pernah dari mereka berselingkuh, keduanya tetap menjaga perasaan pasangannya.
Arm yang kuliah jauh di Rusia selalu menyempatkan pulang ke Turki hanya untuk bertemu dengan kekasihnya.
"Aku merasa ada yang mengganjal rasanya."ucap Amberly.
__ADS_1
Tatapan Arm langsung tertuju pada Amberly.
"Kamu tau beberapa hari ini, saat aku mikirin kamu ada rasa sesak di dada aku dan aku selalu khawatir sama kamu."ucap Amberly mendongak menatap Arm.
Arm tampak tersenyum dan mengelus pipi putih Amberly.
"Nggak apa apa, itu pertandanya kamu takut kehilangan aku, jangan berpikir macam macam nanti kamu jadi sakit."ucap Arm mencoba mengurangi ke khawatiran Amberly.
"Tapi dada aku selalu sesak, aku kayak punya firasat buruk."ucap Amberly yang tiba tiba menangis.
Air mata Amberly makin deras turun dan Amberly tak kuasa lagi untuk berbicara.
Arm memeluk Amberly sambil mengelus punggung sang kekasih mencoba meredakan tangisan Amberly.
Dan tanpa disadari oleh Amberly Arm pun juga menitikkan air mata.
"Bukankah aku sudah bilang aku tuh cemas sama kamu."ucap Amberly pelan.
Amberly membuka matanya dan tampak manik cokelat itu berair dan juga merah.
Begitu sakit yang dirasakan oleh Amberly bahkan ketika memikirkan selama lima menit saja dia bisa mengeluarkan air mata.
"dua hari lagi, cuman dua hari lagi aku akan membalaskan semua yang kamu rasakan sayang. tunggulah aku sebentar lagi akan bertemu dengan mu."ucap Amberly dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.
.
.
__ADS_1
.
Arm yang mabuk berat tadi malam pun bangun dengan kepala yang sangat sakit, ia memegang kepalanya yang sakit dan pusing serta perasaan mual ingin muntah.
Arm berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi. Saat sampai ia langsung memuntahkan semua isi perutnya.
Saat Arm sedang muntah ada tangan lentik dan dingin mengelus tengkuk belakangnya dengan lembut.
Setelah rasa mual sedikit memudar Arm pun mencuci mulutnya dan mendongak menatap ke arah cermin.
Dan nampaklah orang yang tadi mengelus tengkuknya.
Seorang wanita yang memakai kaos hitam dengan rambut di ikat kuda dan manik mata hitam kelam yang menatap ke arah Arm dari cermin.
"Bukankah aku menepati janjiku Arnold?"
.
.
.
bersambung
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙
__ADS_1