
Magraf hanya diam saja tapi jauh di dalam otak Magraf ia sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh wanita yang waktu itu menemuinya.
"*Misi mu memang berhasil, Arm memang sudah mati tapi karena hal itu kekasihku yang harus menggantikan posisi Arm*."
Masih terngiang ngiang di kepala Magraf ucapan itu. Awalnya ia tidak mengerti tapi setelah melihat Arm pada hari ini ia pun paham apa maksud wanita itu.
"Kalau ingin membunuh kau emang dia mau membunuh siapa lagi di keluarga ini, hanya kau lah yang menjadi penghalang dia menjadi kepala keluarga."ucap Alex.
"Aku tidak tau, hanya dia yang tau untuk siapa dia merencanakan hal itu."ucap Arn lalu mengambil rokok dan menghidupkan.
Asap rokok pun mengepul ke udara, Arn memindahkan rokok ke sela jari telunjuk dan jari tengah lalu sedikit memajukan tubuhnya.
"Sebenarnya ada yang lebih berbahaya dari misi paman Magraf mu itu Alex."ucap Arn lalu menghembuskan asap rokok ke atas.
Dahi Alex tampak berkerut mendengar ucapan Arn, ia tak berpikir kalau ada pisau lain diantar keluarga Altarik yang siap menusuk kapan saja.
__ADS_1
"Tak perlu berpikir seperti itu Lex, kau akan mengetahuinya sebentar lagi."ucap Arm kembali meletakan rokok di bibirnya.
Dan bersamaan dengan hal itu Tuan Adrian kembali duduk di tempat duduknya.
Tok tok tok
Bunyi ketukan di pintu masuk ruangan itu membuat dahi orang yang berada didalam sana menjadi berkerut.
Bukankah sedari tadi tidak ada yang mengetuk pintu dan langsung masuk saja tapi ini malah mengetuk pintu dulu.
"Siapa itu? kenapa dia tidak langsung masuk saja."ucap Alexa yang berdiri ingin membuka pintu.
Para anggota keluarga yang lain hanya menatap dari tempat duduk masing masing.
Alexa membuka pintu tapi orang yang berada di dalam ruangan itu masih belum bisa melihat siapa yang datang karena terhalang oleh tubuh Alexa.
Tubuh Alexa tampak menegang, lalu kaki Alexa pun menjadi lemas dan ia pun terjatuh terduduk.
Saat itu pula semua orang pun dapat melihat siapa yang datang dan mata mereka semua pun membulat melihat orang itu.
Seorang wanita berkaos putih yang penuh bercak darah dengan kaca mata bertengger di hidungnya dipadukan dengan jins hitam.
Tapi bukan hal itu yang membuat mereka terkejut tapi apa yang ada di tangan wanita itulah yang membuat Alexa terduduk lemas.
__ADS_1
Tangan wanita itu dengan santainya menggenggam kepala Asker sambil menganyun ngayunkan.
"Tadi aku sebenarnya mau membawa dengan tubuhnya juga tapi karena berat ya mau gimana lagi, cuman kepalanya aja deh yang aku bawa."ucap wanita itu dengan santai.
"Lagi pula dia bodoh sih mau mau aja menjual informasi keluarga Altarik dengan harga murah pada orang lain, kalau lebih mahalkan bagus."lanjut wanita itu sambil terkekeh.
Wanita itu memindahkan kepala Asker ke tangan kiri lalu tangan kanannya yang berlumuran darah itu ia sodorkan pada Alexa yang masih terduduk di lantai.
"Sini aku bantu."ucap Wanita itu tak lupa dengan sebuah senyuman manis di wajah cantik itu.
Untuk soal membunuh Alexa sudah berulang kali melakukannya tapi untuk memutuskan kepala orang ia tidak pernah melakukan itu.
Dan kali ini ia dihadapkan dengan kepala yang masih mengeluarkan darah segar jelas kalau hal itu baru dilakukan.
"oh kamu jijik ya sama darahnya, tunggu sebentar biar aku lap dulu."ucap wanita itu sambil mengelap tangannya ke baju.
"ayo aku bantu berdiri."
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙