
Arnold Benvolio
Arm Altarik
.
.
.
"HAHAHAHAH."suara tawa menggelegar di dalam sebuah ruangan.
*Orang pemilik tawa itu tak berhenti henti tertawa merayakan kemenangan yang telah ia dapatkan*.
*Hanya dua orang yang ada di dalam ruangan itu, dua orang lelaki yang sama sama menatap ke tv yang sedang menyala*.
" *Kemungkinan besar putra tunggal tuan Adrian tidak bisa selamat karena Jurang ini sangatlah dalam dan para anggota autopsi tidak bisa masuk lebih jauh karena takutnya ada binatang buas yang membahayakan*."
Suara narasumber yang ada di berita itu terdengar di saat lelaki itu tertawa.
"Tentu saja tidak bisa masuk karena kuncinya sudah ada padaku."ucap lelaki yang tampak lebih tua.
*Sedangkan lelaki yang satu lagi tampak seperti remaja SMA, tapi tatapan lelaki itu tak kalah tajam dari lelaki tuan di sampingnya*.
"*Selangkah lagi, cuman selangkah lagi kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan Brian."ucap lelaki itu pada anaknya*.
__ADS_1
"Iya yah."Hanya itu yang dapat diucapkan oleh lelaki remaja itu karena bagaimanapun yang ayahnya lakukan pastilah untuk dia.
*Lelaki yang lebih tua mengambil sesuatu di dalam lacinya dan Brain hanya dapat melihat dengan tatapan penasaran*.
"*Ini kau akan menjadi penerus keluarga Altarik berarti kamu harus bisa bersikap seorang pemimpin dan kalahkan semua musuh, bunuh orang yang menghalangi jalan mu."ucap lelaki itu memberi sebuah pistol Magnum pada Brain*.
"*Pistol ini adalah pistol keberuntungan ayah dan semoga kamu bisa mendapat keberuntungan juga dengan pistol ini."ucap Ayah Brain*.
*Brain menatap ke dalam mata sang ayah dan dapat ia lihat kalau dalam mata itu banyak harapan untuk dia mendapatkan sebuah \*kemenangan*\*.
"*Arm pasti mati karena sebelum itu aku sudah memberikan racun pada makanannya."ucap Ayah Brain lagi*.
*Sejak ia mengenal dunia ayahnya, Brain menjadi sadar kalau dunia tidaklah sebersih yang ia pikirkan, banyak hal kotor yang terus menerus mengotori dunia meskipun hal terkecil sekalipun*.
*Termasuk yang dilakukan oleh ayah Brain, membunuh adalah makanan sehari hari baginya, tak ada lagi rasa resah di hatinya ketika menghilangkan nyawa seseorang*.
*Sebab dari lahir ia sudah diajarkan kalau dia tidak membunuh maka dia sendiri yang akan dibunuh*.
__ADS_1
*Kerasnya latihan yang Ayah Brain rasakan membuat ia juga mendidik Brain juga sama kerasnya dan mungkin lebih*.
"*Tapi tuan Adrian masih memiliki putri yang baru berumur 3 tahun yah, dan otomatis kekuasaan akan turun pada gadis kecil itu."ucap Brain*.
*Ayah Brain kembali tersenyum, ia menepuk bahu Brain pelan*.
"*Membunuh kakaknya saja aku bisa apalagi membunuh anak kecil yang baru berumur 3 tahun."Ucap ayah Brain sombong*.
*Obsesi membuat Ayah Brain menjadi begitu gila untuk mendapatkan keinginannya dengan cara apa pun*.
Ketidakadilan yang didapatkan sejak kecil hanya karena dia anak hasil pernikahan kedua atau dari istri kedua membuat ayah Brain diberlakukan semena mena oleh keluarga Altarik.
Dan semua yang ia lakukan ini adalah untuk membalas segala ketidakadilan yang ia dapatkan dan cemooh orang padanya.
"*Bagaimana pun Adrian mengelak, kekuasaan keluarga Altarik akan jatuh padamu, Brain."usap Ayah Brain memegang bahu sang anak*.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙
__ADS_1
dadah👋