
Manik mata cokelat itu terus menatap ke arah luar jendela mobil, menatap setiap tetes air hujan yang turun tiada henti sedari tadi.
Udara dingin yang begitu menusuk tulang tapi tidak lebih dingin dari tatapan pria itu.
Dengan wajah datar, tatapan dingin dan mulut yang sedari tadi hanya bungkam tapi percayalah dalam otak pria itu terdapat banyak pertanyaan pertanyaan.
Hidup di antara orang orang jahat membuat dia tidak tau lagi seperti apa orang baik itu. Hidup di lingkungan pembu*uh membuat pria itu merasa kalau memb*nuh adalah hal biasa.
Tapi sekarang dia seakan sadar bahwa ternyata lingkungan lah yang telah merusak dia sedari kecil.
Hidup dilingkungan apapun sangatlah berpengaruh terhadap pola pikir kita, aktivitas kita dan bahkan dengan hati kit sendiri.
Dan begitu juga dengan Brain, hidup di lingkungan keras membuat ia juga berwatak keras, ia yang tau kalau salah harus di hukum tanpa ada yang namanya pertimbangan.
Sejak bertemu dengan Gadis bermata kelabu itu membuat Brain paham kalau di luar sana tidak semua orang hidup dengan caranya.
Ada di luar sana orang hidup dengan hati yang begitu lembut dan pastinya di lingkungan orang yang berhati lembut juga.
Tapi semakin ia tau maka semakin besar pula rasa tidak percaya diri yang ada dalam diri Brain.
Apakah mungkin gadis berhati lembut itu mau dengan dia yang berhati kerasa dan kasar?
__ADS_1
Semakin bertanya semakin banyak jawaban yang membuat dia merasa kalau dia tidaklah pantas untuk gadis itu.
Haruskah ia merubah dirinya?
Pertanyaan itu seakan muncul dalam otak Brain tapi kembali lagi pada kehidupannya, hidup dengan hati lembut di lingkungannya tidak lah bisa malah membuat kita akan dianggap lemah oleh orang lain, apalagi dia sudah menjadi kepala keluarga yang berarti dia harus keras dan juga tegas.
Apalagi ibu dari gadis itu mempunyai dendam pada ayahnya dan juga ayah Brain kah yang membuat ayah gadis itu dalam masalah.
Mungkin benar kata orang, ketika kita mengenal cinta maka semakin banyak masalah yang harus kita hadapi.
"Sudah sampai tuan."terdengar suara Garda dari kursi kemudi membuat lamunan Brain pun buyar.
Brain menatap kearah Garda lalu mengangguk.
Garda membuka pintu dengan satu tangan memegang payung.
Brain pun keluar dari mobil masih dengan setelan kerja, ia pun lanjut melangkah memasuki rumah sakit.
Kaki itu melangkah lebar menyusuri lobi.
Hingga pada akhirnya sampailah Brain di depan pintu kamar Gadisnya, Rain.
__ADS_1
Sejenak ia terdiam memandang kearah pintu itu.
"Tuan."
Akhirnya Brain pun membuka pintu itu. Saat pintu itu terbuka nampaklah tiga orang yang sedang berpelukan dengan penuh kasih sayang.
Mata Brain langsung menatap ke arah Rain yang tersenyum begitu lebar sampai matanya menyipit.
Mata kelabu itu pun menatap ke arah pintu yang terbuka yang menampakkan sosok Brain berdiri tegak tatapan lurus kearahnya.
Arn melepas pelukan begitu juga dengan Leonard, keduanya beralih menatap ke arah Brain yang masih berdiri di pintu.
"Kesinilah! kau ingin melihat Rain kan?"ucap Leonard sambil tersenyum lalu ia berdiri mempersilahkan Brain untuk mendekat
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙