
Jika menginginkan kesuksesan pasti ada sesuatu yang harus kita korbankan, bahkan untuk mencapai keinginan sendiri kita harus mengorbankan banyak hal.
Dan seperti itu pula yang terjadi pada Brain, dalam mendapatkan kekuasaan di keluarga Altarik ayahnya harus berkorban.
Sedih? itu adakah hak pasti yang dirasakan oleh Brain.
Tapi ketika mengingat kata kata sang ayah yang mengatakan kalau semua yang ia lakukan adalah untuk Brain membuat Brain bertekad bulat agar bisa memimpin keluarga Altarik tanpa ada berat sebelah.
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan pada ayah, tapi ayah sudah pergi lebih dulu dan membuat aku harus bertanya tanya."ucap Brain menatap peti kayu tempat persemayaman terakhir Magraf.
"Apakah ayah menukar nyawa ayah agar aku menjadi kepala keluarga Altarik? sungguh pertanyaan itu selalu menjadi benalu di otakku yang sangat susah untuk keluar.
Brain berbicara dalam posisi berdiri menghadap ke arah peti mati dengan mata yang memerah dan juga berair.
"Tapi apapun yang terjadi aku akan tetap menjalankan tugasku sesuai dengan janjiku padamu."ucap Brain dengan tekad yang bulat.
"Aku harap kau tenang disana, aku akan selalu mengingat setiap apa yang kamu katakan pada ku."ucap Brain mengelus foto Magraf lalu meletakkan sebuah bunga mawar putih diatas peti.
Brain terdiam beberapa saat lalu ia pun memutar tubuh dan pergi dari sana.
.
__ADS_1
.
.
Sedangkan di suatu tempat lain, ada Arn yang sedari tadi bolak balik di depan ruang UGD sambil menggenggam tangan erat.
Detak jantung Arn begitu cepat dan begitu kuat karena takut akan hal yang mungkin saja terjadi pada Leonard.
Kemungkinan kemungkinan yang keluar dari otaknya membuat ia menjadi takut sendiri dan membuat ia menjadi parnoan.
Mata Arn menatap kearah lampu yang masih merah yang berarti keadaan masih darurat.
"Bagaimana keadaan Leo sus?"tanya Arn menghentikan langkah suster tersebut.
"Pasien lagi kritis, ia banyak kehilangan darah dan dilengannya banyak terdapat peluru sepertinya tangan pasien tidak bisa digerakkan untuk sementara waktu."ucap Suster itu cepat sambil terus berjalan me dekati pintu UGD.
"Maaf ya, kami harus berkerja cepat dan saya mohon agar tuan tidak mengganggu pekerjaan kami"ucap Suster itu lalu masuk dan langsung menutup pintu UGD itu.
Arn menatap pintu tersebut dengan pikiran yang berkecamuk.
__ADS_1
Saat menatap wajah Leonard saat memasuki ruangan tadi sambil membawa kepala Asker, Arn langsung terkejut, tak pernah terbayangkan oleh Arn kekasihnya yang begitu lugu dan juga sangat polos bisa melakukan itu.
Tapi meskipun begitu tak ada sedikitpun rasa yang berkurang di hati Arm malahan cinta yang tersimpan itu berkembang dengan begitu lebat.
.
.
.
"AYAHHH...."teriak Nona Zika dari sebuah ruangan tertutup dengan Gio yang menjadi penjaga.
Tangan dan juga kaki nona Zika diikat erat ke belakang kursi yang diduduki oleh Nona Zika dan didepan nona Zika terdapat sebuah komputer yang menayangkan cctv dari ruangan tempat pembantaian terjadi.
Tetesan air mata pun tak berhenti keluar dari mata gadis manis itu melihat dengan mata kepala sendiri, daddy-nya mati bunuh diri dengan keadaan yang begitu mengerikan.
"kau tidak perlu menangisi orang gila itu."
.
.
.
bersambung
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙
__ADS_1