
Hari sudah gelap, cahaya matahari digantikan oleh bulan yang tampak sudah hampir sempurna, mungkin seminggu lagi akan jadi bulan purnama.
Di sebuah ruangan bawah tanah yang berfasilitas lengkap dan juga mewah duduk lah Brain di depan sang ayah, Magraf.
Magraf menatap datar sang anak sedangkan Brain hanya memakan brownis yang ia beli tadi dengan santai.
Brain tadi menawarkan ayahnya Brownies tapi dia bilang tidak mau.
"Apa kau akan makan brownis saja disini?"ucap Magraf atau lebih tepatnya menyindir Brain.
Brain tersenyum dan meletakan piring lalu mengambil air putih lalu diminum.
"Kau nampak banyak berubah setelah gadis kecil itu ada disini."ucap Magraf lagi, lalu ia mencondongkan badannya ke Brain yang duduk di depannya terpisah oleh meja.
"Ingat rencana awal kita, jangan sampai kamu dipermainkan oleh permainan mu sendiri."ucap Magraf dengan suara kecil tapi tegas.
Brain yang tadi sedang enak enak minum langsung berhenti, raut wajah Brain langsung berubah saat sang ayah mengatakan hal itu.
Brain meletakkan gelas itu kembali lalu ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, ia mengurut pelipisnya yang tiba tiba terasa pusing.
"Minggu besok ayah dapat hadir ke acara itu dengan hati tenang karena aku sudah memastikan kalau semua aman."ucap Brain mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan hingga Arm bisa melepaskan aku begitu saja?"tanya Magraf menatap sang anak heran.
"Sebenarnya kemarin...."
"Kembali ke pertanyaan pertama ku, siapa yang melakukan itu?"ucap Arm menatap Brain penuh intimidasi.
Brain mencari beberapa foto yang ada di handphonenya kali mengirimnya pada Arm.
Foto yang pertama adalah foto surat kematian dari Arm yang asli, disana ada di tuliskan tanggal, bulan dan juga tahun dimana Arm yang asli meninggal.
Foto kedua adalah foto Leonard da Keylix yang sedang berada di sebuah cafe bersama seseorang pria.
Foto ketiga adalah foto surat warisan keluarga Altarik.
Brain mengeratkan dahi ketika melihat Arm yang tampak santai saja dengan tiga hal besar yang ia berikan.
Lalu kembali Brain mengirimkan suatu pesan ke handphone Arm.
Mereka ada disini, tepatnya di sebelah kiri dinding itu. Jika kau ingin berkerja sama denganku maka hilangkan hukuman yang dijatuhkan pada ayah ku.
itulah pesan Brain.
__ADS_1
Arm menatap ke arah Brain dan tersenyum lalu ia berkata.
"Baiklah."
Magraf terdiam mendengarkan cerita Brain, ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan apa yang di bicarakan oleh Brain.
"Sekarang ayah sudah bisa keluar dari persembunyian ini, tenang saja kita sudah mendapatkan keamanan dari Leonard dan Arm juga tidak akan pernah mengganggu kita karena aku juga berkerja sama dengan Arm."ucap Brain tersenyum sombong.
Magraf menghela nafas panjang.
"Kau jadi kambing hitam sekarang? kau tau apa resiko yang kau ambil Brain? jika saja antara mereka tau kalau kamu yang menyebarkan informasi kedua orang itu maka bukan kau saja yang bermasalah tapi seluruh keluarga mu akan menjadi incaran mereka berdua."ucap Magraf yang sepertinya sudah mulai insaf.
"Ayah tenang saja aku punya kartu AS keduanya."
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙