
"Oleh karena itu, ayah sangat ingin aku menjadi pewaris keluarga Altarik agar aku memiliki kekuasaan menjaga orang yang aku sayangi dan disegani oleh banyak orang."ucap Brain dengan dahi berkerut.
Brain sungguh pusing saat ini, ia harus memilih jalan seperti apa yang akan ia jalani setelah ini.
"Sungguh aku ingin keluar dari semua hal ini Rain, aku ingin hidup sebagai orang biasa yang tetap tertawa walaupun hanya makan dengan nasi dan telur."
"Hidup seperti ini walaupun kita bergelimang harta tapi aku tidak pernah merasakan rasa nyaman yang sebenarnya. Hati ku selalu merasa tidak tenang dimana pun, ketika aku pergi kerja aku selalu memikirkan orang yang ada dirumah, aku takut tiba tiba saja rumah ini di serang dan begitu pula jika aku dirumah."
"Setiap saat aku dihantui rasa takut akan hal yang akan terjadi di masa depan, aku takut kehilangan dan aku takut ditinggalkan."ucap Brain lalu ia menutup matanya.
Cup
Satu kecupan di dahi Brain yang diberikan oleh Rain.
"Tak ada yang sempurna di dunia ini bang, adakalanya kita yang merasa tidak sempurna ini, orang malah merasa iri dengan kita dan begitu juga kita melihat orang, kita juga merasa iri dengan mereka kan?"ucap Rain sambil mengelus rambut Brain.
"Kita tidak bisa mematokkan kebahagiaan dengan melihat orang karena kebahagiaan setiap orang itu berbeda beda."
Brain mendongak menatap gadis mungil yang masih belia tapi memiliki pemikiran yang begitu luas.
__ADS_1
Tak menyangka Brain akan bisa mendapatkan hati gadis itu walaupun Rain belum pernah mengatakan suka secara langsung kepadanya tapi Brain yakin kalau di hati gadis itu sudah ada namanya.
Hati Brain berbunga bunga merasakan kecupan yang diberikan Rain di keningnya.
Sejak ibu Brain pergi, Brain tak pernah merasakan kasih sayang yang ia rasakan seperti saat ini Brain dipaksa untuk menjadi kuat dan berjiwa pemimpin karena sedari awal ia memang harapan Ayahnya untuk menjadi pemimpin kerajaan bisnis keluarga Altarik.
"Dan begitu juga dengan kebahagiaan aku, mungkin Abang pikir aku akan sedih ketika bertemu dengan ibuku tapi Abang tau, saat aku bertemu langsung dengannya setelah mengetahui semuanya, aku malah merasa itu adalah sebuah momen yang membahagiakan dalam hidupku."ucap Rain menatap ke arah jendela.
"Sungguh, itu adakah hal yang begitu membahagiakan dalam hidupku bang."ucap Rain sambil menatap ke arah Brain.
"Hmm, ternyata banyak hal di dunia ini yang bisa membahagiakan kita dengan cara sederhana."ucap Brain mengambil tangan Rain yang sedari tadi mengelus kepalanya lalu mencium tangan itu dengan lembut.
"terima kasih."ucap Brain.
"Untuk apa? aku rasa aku tidak melakukan apa-apa."ucap Rain dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Karena sudah hadir di kehidupan pria sial ini, untuk semua cinta yang kamu berikan dan untuk pelajaran hidup yang kamu berikan."Brain berbicara dengan tulus.
Rain tersenyum.
"Kamu mengajarkan aku bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.
Setelah itu Brain memeluk perut Rain erat dan begitu juga dengan Rain, ia memeluk kepala Brain sesekali mencium rambut pria itu.
.
.
.
Bersambung
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙
__ADS_1