ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 72


__ADS_3

Ternyata yang ditangan Leonard adalah sebuah pisau lipat yang sangat tajam.



Pergerakan cepat Leonard membuat Asker tak dapat berpikir jernih ditambah dengan tengkuknya yang disayat dengan pisau membuat dar\*h menyembur dari lehernya.



Tangan Leonard menancapkan pis\*u itu di punggung Asker dan dengan cepat ia mengambil pistol yang sudah berada di tangan kanan Asker.



dor dor



tembakan itu karena perebutan pistol.


Pada akhirnya pistol itu pun terjatuh keluar mobil.


Leonard menunduk dan menendang pistol itu ke kolong mobil lalu mengangkat kepalanya dan ia tersenyum manis seperti psikopat.



Leonard menangkap tangan Asker yang ingin meninjunya dan memelintir hingga berbunyi.



"akkk."pekik Asker tertahan.



"Sakit ya? mana yang lebih sakit mati langsung atau lambat?"tanya Leonard dengan alis naik sebelah.



Asker tak menjawab tapi ia menatap tajam kearah Wanita yang ia pikir adalah wanita baik baik malah ternyata adalah seorang penjahat.


__ADS_1


"Kau tak mengenalku, asker? tidakkah aku mirip dengan seseorang ?"tanya Leonard masih dengan tersenyum manis.



"Kau seperti malaikat maut."ucap Asker tajam.


"hahahahahahaha." Suara tawa Leonard menggema di jalan sepi itu.


"aku memang malaikat maut mu Asker."ucap Leonard sambil melepaskan tangan kanan Asker yang telah patah.



Lalu Leonard mengambil sesuatu di dalam kantong celananya.


Mata Asker terbelalak melihat benda itu.


.


.


.


"Bagaimana kabarmu Magraf?"ucap Anka yang berada di samping Magraf dengan seulas senyum.


"Aku pikir kamu sudah mati dimakan binatang buas ditempat persembunyian mu."ucap Rain Adrian dengan menatap sinis ke arah Magraf.


"Aku rasa binatang buas disana tidaklah sebuas disini."ucap Magraf masih tersenyum tapi ucapan menusuk.



"Apakah paman lebih takut dengan binatang buas disini? makanya memilih untuk tinggal di hutan."ucap Alex.



"Ya begitulah, aku bukan takut sama orangnya aku cuman takut akan kelicikan kelicikan mereka."jawab Magraf.


"Kalau orang licik maka kita harus licik juga paman agar kita tau berapa beda licik kit dengan orang itu. kalau hidup di tempat binatang buas lama kelamaan kita juga akan semakin buas paman."ucap Alexa lalu meminum kopinya.


"Kau harus belajar menjadi cerdik Rain agar bisa menjadi pemenang, sebab kau hanya melihat dunia dengan mata saja kamu tidak akan bisa masuk di keluarga Altarik, sebab dunia Altarik lebih dari yang tampak saja."ucap Anka pada Rain.

__ADS_1



Rain menatap ke arah Anka tapi ia tidak tau harus berekspresi seperti apa sebab ia juga tidak mengerti apa yang sedang mereka katakan.



Rain hanyalah gadis tujuh belas tahun yang baru tamat sekolah, sehingga ia masih belum memiliki pengalaman apapun dalam hidup.



Dan ketika ia dibawa pada pertemuan keluarga seperti ini ia benar benar tak mengerti harus mengatakan apa.



Ceklek



Pintu kembali terbuka dan mata orang orang pun kembali tertuju ada pintu tersebut.



Ternyata Arm lah yang datang dengan wajah datar memakai jas merah dengan kemeja putih yang dua kancing terbuka memperlihatkan sedikit dada kekarnya dan dipadukan dengan celana hitam.



"Selamat pagi semuanya, maaf atas keterlambatan saya."ucap Arn sambil tersenyum menatap semua orang.


tiba tiba mata Arn berhenti pada sosok gadis kecil yang membuat jantungnya berdebar-debar ketika melihat manik abu abu itu.


"Rain."


.


.


.


bersambung

__ADS_1


jangan lupa untuk like and vote ya


salam hangat dari author 💙


__ADS_2