ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 89


__ADS_3

Setelah dua hari tidak sadarkan diri akhirnya Rain pun bangun dari koma. Saat pertama kali sadar ia sedikit merasa linglung dan juga pusing.


Setelah beberapa menit barulah ia sudah bisa melihat ke kiri dan ke kanan melihat ke arah lain.


Manik kelabu itu langsung menatap ke arah sang ibu yang sedang mengelus pipi orang yang ditakuti Rain.


Yap benar! Rain memang takut dengan Arn karena tatapan Arn yang selalu menatap dia pandangan yang tidak bisa diartikan dan pasti ia menatap kearah Rain lama sekali.


Kening Rain berkerut mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Leonard.


Tak terasa air mata pun menetes dari pelupuk mata Rain mendengar semua ucapan Leonard.


Bukankah selama ini ia hanyalah seorang anak yang egois? yang merasa paling tersakiti padahal sebenarnya jauh dari apa yang dipikirkannya ada orang yang lebih menderita dari dia.


Mengingat masa lalu bagai membuka luka lama untuk Rain dan ketika mendengar ucapan Leonard luka itupun mulai sembuh tapi bekas yang ada pasti tidak akan pernah hilang.


Sekuat apa kita berusaha yang namanya kenangan pasti akan selalu tersimpan di pikiran.


'Maafkan aku yang terlalu banya egois Bu, mari kita mulai hidup bahagia kita, hanya kita bertiga.'Batin Rain sambil menghapus air mata.


"Apakah kalian akan terus berpelukan, tidak lihatlah kalau masih ada aku disini."ucap Rain dengan nada datar.

__ADS_1


Leonard dan juga Arn mengurai pelukan mereka dan menoleh kearah Rain yang menatap kearah mereka dalam posisi tidur.


Leonard langsung berdiri dan berjalan ke arah Rain.


Wanita itu pun duduk di kursi yang tadi ia dudukkan dan Leonard memberi saku kecupan di dahi Rain.


"Ada yang sakit?"tanya Leonard.


Rain hanya menggeleng sambil mengulum senyum dengan mata yang berkaca kaca.


"Aku pengen peluk ibu."ucap Rain merentangkan tangan minta dipeluk.


Tanpa menunggu lama Leonard langsung memeluk Rain dengan lembut sambil sesekali mengelus rambut gadis itu.


Yang ia rasakan benar benar campur aduk, senang, sedih, terharu dan juga bangga memiliki ibu seperti Leonard seperti bercampur dalam dirinya sehingga ia tidak bisa mengekspresikan itu.


"Hikss hikss."Rain menangis di pundak Leonard cukup lama.


Meskipun Leonard harus membungkuk dalam waktu yang lama ia tak masalah, yang penting bagi Leonard adalah menikmati moment ia dan putrinya.


"It is okay, semua sudah baik baik aja."ucap Leonard menenangkan Rain yang menangis semakin kencang.

__ADS_1


Arn ternyata juga sudah berdiri di samping ranjang Rain sambil menatap dua wanita yang amat sangat ia sayangi saling berpelukkan.


Ternyata meskipun banyak hal yang menghalangi jalan cerita mereka tapi pada akhirnya dengan hati yang kuat mereka bisa kembali ke tempat awal.


Dimana cinta yang begitu besar dan luas tidak bisa di hitung.


Rain melepas pelukan lalu ia menghapus air matanya dan juga ingus yang keluar dengan selimut yang di pakai.


"Ihhh cantik cantik kok jorok sih."ucap Arn menggoda Rain.


"Tisunya jauh jadi lapnya di sini aja."ucap Rain tak mau kalah.


"Lihatlah keras kepala mu, turun ke anak kita Leo."ucap Arn mengelus pipi Rain.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


jangan lupa untuk like and vote ya 🙂.


salam hangat dari author 💙


__ADS_2