
Brain membuka pintu kamar dan dapat ia lihat Rain yang sedang terbaring dengan satu tangan berada di atas kening.
Rain tampak sedang berpikir.
"Bagaimana? apakah itu sakit sekali?"tanya Brain duduk di samping Rain.
Rain membuka mata dan menatap Brain yang tampak tersenyum lembut ke arahnya.
"Ia sakit, Aku seumur umur baru kali ini di tikam sama belati dan ternyata ini sangat sakit."ucap Rain memegang perutnya yang terbalut kain kasa.
"Setelah ini kamu harus biasa dengan hal itu karena kita tidak tau apa yang terjadi besok atau nanti."ucap Brain mengelus kepala Rain.
"Aku memiliki banyak musuh dan kamu mungkin akan jadi sasaran mereka karena kamu sekarang adakah orang yang terpenting dalam hidup ku."Brain tampak memandang Rain dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Jangan pernah tinggalkan aku."sebuah permintaan keluar begitu saja dari mulut Rain tanpa memikirkan terlebih dahulu.
Entah kenapa Brain justru terkekeh mendengar permintaan itu.
'Pada akhirnya kita akan tetap berpisah.'batin Brain begitu pilu.
mungkin inilah yang dikatakan tersenyum diluar menangis didalam dan itulah yang terjadi pada Brain saat ini.
"Apakah bisa?"tanya Rain dengan tatapan penuh permohonan.
"Aku tidak bisa mengatakan iya, tapi aku akan berusaha agar kita selalu bersama dalam suka maupun duka."ucap Brain masih terus mengelus rambut Rain.
Rain hanya tersenyum tak tau harus berkata apa karena sejatinya hati Rain masih dilanda keraguan setelah kejadian tadi.
"Istirahat dulu aku akan membangunkan kamu saat makan siang."ucap Brain merapikan selimut Rain.
Brain memberikan sebuah kecupan lembut di kening Rain setelah itu baru ia berbalik dan keluarga dari kamar Rain.
__ADS_1
.
.
.
Arm menatap Amberly yang masih saja diam sedari tadi, sudah sekitar tiga puluh menit mereka duduk di ruangan ini tapi belum ada yang membuka suara.
Ruangan introgasi yang dimiliki keluarga Altarik yang berada di bawah tanah dengan berbagai macam alat yang bisa digunakan agar setiap orang bisa berkata jujur.
"Kenapa kamu menusuk gadis itu?"pada akhirnya Arm lah yang mulai bertanya pada Amberly.
Sungguh, saat melihat Rain berlumuran darah tadi ia merasa begitu sakit.
Amberly tidak menjawab ia masih tetap diam dengan kedua tangan berada di atas pahanya masih tetap menunduk.
Amberly masih tetap diam tapi ia mengangkat wajahnya dan menatap Arm dengan tenang.
huhh
Hembusan nafas kesal terdengar dari Arm. Arm meminum segelas air yang di sediakan untuknya sampai habis.
"Jika kamu masih tidak juga berbicara maka kamu akan saya masukkan ke penjara yang ada disini Amberly!"
__ADS_1
Meskipun Arm memberikan peringatan Amberly masih tetap tutup mulut.
Arm hanya ingin Amberly menjawab pertanyaan tapi sepertinya kecurigaan Arm pada Amberly memang benar adanya.
Ternyata memang wanita ini memiliki suatu siasat untuk menghancurkan keluarga Altarik.
"Gio! bawa wanita ini ke penjara paling ujung."ucap Arm lalu ia berdiri.
Manik kelabu itu masih melihat kearah Amberly sebelum akhirnya ia berbalik dan pergi dari sana.
"Ayo."ucap Gio sambil jalan terlebih dahulu.
Amberly hanya diam sambil terus mengikuti langkah Gio dan pada saat itu ada sebuah senyuman kecil tercipta di bibir Amberly.
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙