ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 73


__ADS_3

"Rain."ucap Arn pelan tapi bisa didengar oleh semua orang yang berada di sana.


Setiap orang dapat berpikir kalau Arn memiliki rasa dengan Rain melihat tatapan Arn yang tampak melembut melihat gadis itu.


"Bukankah dia gadis yang manis Arm?"goda Alex pada Arn.


Arn mengalihkan tatapannya pada Alex lalu tersenyum tipis.


"iya."ucap Arn sambil berjalan menuju ke tempat duduk. Arn duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Tuan Adrian.


Arn tak menyapa Tuan Adrian, dia cukup memberikan sebuah senyum simpul.


Tuan Adrian kembali menyeruput kopinya.


"Sampai kapan kita akan menanti!!! apakah Pengacara itu sedang mempermainkan kita!!"ucap Alex dengan wajah kesal.


Alex adalah seorang yang tempramental, dari seluruh anggota keluarga Aktarik dia lah yang paling tidak bisa mengendalikan emosi.


"Mungkin terjadi sesuatu dijalan hingga dia menjadi sedikit terlambat."ucap Abizard menenangkan putranya.


Sedangkan Arn hanya terus menatap ke arah Rain yang tampak manis dengan dress abu abu yang senada dengan warna mata gadis itu.


"Jangan terus menatapnya Arm, dia menjadi takut jika ditatap seperti itu terus."ucap Anka pada Arn.


"benar, kau seperti om om nakal yang sedang mencari mangsa saja, tapi kan kau memang sudah om om ya."ucap Alexa sambil terkekeh.


Anka serta Abizard juga terkekeh mendengar itu.


Arn hanya menatap Alexa dengan malas.

__ADS_1


"Carilah kekasih lagi Arm, jangan kau menjadi perjaka tua karena tak juga memiliki kekasih. Ini sudah waktunya untuk mu memiliki keluarga."ucap Anka memberi nasehat.


"iya nek."ucap Arn.


"Jangan panggil aku seperti itu, sudah aku bilang panggil bibi saja."ucap Anka merasa kesal dengan panggilan itu, ia merasa dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil nenek oleh Arn.


"Apakah kau tertarik dengan milikku Arm?"ucap Brain sambil merangkul bahu Rain.


Melihat tatapan yang ditunjukkan Arn pada Rain membuat Brain yakin kalau sepupunya itu memiliki rasa pada Rain.



"hmmm"Arn hanya bergumam membuat semua orang menjadi yakin kalau Arn benar benar tertarik dengan Rain.




Pada akhirnya Rain hanya menunduk sambil \*\*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\* gaunnya.



"Dia sudah menjadi milikku Arm dan sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan."ucap Brain dengan bangga.


Tatapan Arm beralih pada Brain, Arn memberikan sebuah senyuman tipis pada brain membuat kening Brain berkerut.


Magraf tak mengatakan apapun ia memilih diam sambil sesekali meminum kopi.


__ADS_1


"oh iya, Zika dimana Arm?"tanya Anka kembali ingat kalau Zika akan masuk bersama dengan Arn.


"Aku tidak tau."ucap Arn santai lalu ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menatap kearah Tuan Adrian yang menatap Arn tajam.


Kembali Arn memberikan senyuman simpul pada tuan Adrian.


Tuan Adrian mengalihkan pandangan lalu ia mengambil handphone menghubungi seseorang, tuan Adrian beranjak dari tempat duduk berjalan ke sudut ruangan untuk berbicara.


Abizard yang melihat itu semua pun hanya dapat tersenyum simpul.


"Apakah kau tidak ingin membunuh paman Magraf sekarang Arm, dia ada disamping mu saat ini."ucap Alex pada Arn.


Arn meletakan gelas kopi lalu menatap kearah samping tepat dimana Magraf duduk terpisah tiga kursi dari Arn.



"Dia ingin membunuh orang lain waktu itu, bukan aku."


.


.


.


bersambung


jangan lupa untuk like and vote ya 🙂


salam hangat dari author 💙

__ADS_1


__ADS_2