ÉCLAIR

ÉCLAIR
episode 27


__ADS_3

"Kenapa kamu disini?"terdengar suara datar dari arah belakang Amberly.



Mata Amberly terbelalak kaget, ia berusaha mengatur nafasnya agar terlihat normal dan tidak membuat curiga Arm.



Amberly pun berdiri tegak dan berbalik.



"Tadi saya disuruh sama tuan Adrian untuk memberikan botol obat ini tuan."ucap Amberly sambil menunjuk botol yang berisi pil obat diatas meja kerja Arm.



"Tak seharusnya kamu masuk ke ruangan kerja saya tanpa meminta izin ke pada saya."ucap Arm ketus.



"Maaf tuan." Amberly hanya meminta maaf tanpa membantah karena jika ia membantah maka urusannya akan semakin rumit.



Arm menatap Amberly lama, ia berpikir ingin menanyakan sesuatu pada Amberly.


'Sekarang adalah waktu yang pas untukku bertanya.'batin Arm.


"duduk!"perintah Arm, ia juga duduk di kursinya.



Arm bersandar sambil menatap Amberly lekat yang membuat Amberly menjadi sedikit gugup atau mungkin salah tingkah.



"Ada apa tuan?"tanya Amberly pada akhirnya karena Arm tak kunjung berbicara.



hembusan nafas kasar terdengar dari Arm.

__ADS_1



"Sebelum pertemuan kita di club malam waktu itu, apakah pernah kita bertemu?"tanya Arm to the point.



Manik kelam itu nampak membesar mendengar pertanyaan Arm dan hal itu dapat ditangkap oleh manik kelabu Arm.



"Belum pernah tuan."



"jika memang belum pernah kenapa kamu terkejut saat saya bertanya?" Arm meras ada yang di sembunyikan oleh Amberly.



"Saya memang terkejut tapi saya cuman terkejut karena pertanyaan yang tuan berikan tak pernah terpikirkan oleh saya, dan juga saya belum pernah bertemu dengan *tuan Arm* sebelumnya." ucap Amberly tanpa ragu.



Dahi Arm sedikit berkerut ketika Amberly menekankan kata tuan Arm saat ia berbicara.




Amberly menelan ludah kasar mendengar hal itu, ia mengambil nafas panjang.



"tapi itu bukan kamu Amberly, dia Leo, namanya leonard."lanjut Arm.



Amberly tak lagi bisa mengendalikan dirinya, manik kelam itu berkaca kaca dan tangan Amberly mengepal kuat.



"Kenapa kamu sedih?"tanya Arm dengan dahi berkerut.

__ADS_1


Amberly hanya menggeleng karena ia juga tidak tau harus mengatakan apa.


"Sebenarnya siapa kamu di masa lalu saya?"tanya Arm lagi.


"Saya tidak pernah mengenal Tuan Arm sebelumnya."Amberly masih tetap kekeh dengan jawabannya tadi.


"Jika kamu memang tak mengenal saya sebelumnya terus kenapa kamu bersedih, tak mungkin kamu bersedih tanpa ada alasan." suara Arm naik satu oktaf.



"Saya tidak pernah mengenal Tuan Arm sebelumnya."ucap Amberly menunduk takut akan tatapan tajam penuh intograsi manik kelabu itu.



"Jangan mengatakan itu lagi! sekarang kamu pergi saya muak melihat wajah kamu."ucap Arm kesal dan juga marah.


Amberly tak mengucapkan apapun lagi, ia langsung pergi dari ruangan itu.


Ia berjalan dengan cepat kearah lift sesekali mengelap air mata yang satu persatu meluncur dari matanya.



Setelah sampai di lift dia langsung menekan tombol satu disana, ia berjongkok dan menutupi wajahnya di lututnya.



Air mata terus keluar rasa sesak yang selama ini seperti berpacu untuk keluar lewat buliran air mata.


"Kamu bukan wanita cengeng Amberly."ucap Amberly menghapus air matanya.


Sejak kecil ia selalu menguatkan hatinya agar tidak menangis, tapi meskipun begitu ia masih tetap wanita dengan hati yang rapuh.


.


.


.


bersambung


jangan lupa like and vote ya 🙂

__ADS_1


salam hangat dari author 😘


__ADS_2