[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Senyatanya Satu Rasa


__ADS_3

Maya sudah didandani oleh Riana. Gadis itu ingin sahabatnya yang merias dirinya. Nyonya Anggi dan Bu Rini juga dirias oleh Riana.


"Ri, takut," ujar Maya. Gadis itu meremas jarinya sendiri.


"Kamu cuma gugup. Kamu mau lihat ijab qabulnya?" tanya Riana. Sesuai permintaan Maya, ia akan keluar bila ijab qabul sudah sah. Maya mengangguk. Riana mengajak Maya melihat dari balkon ruang rias ke lantai bawah, tempat Herryl sedang duduk berhadapan dengan Pak Sugeng dan dua saksi yang tak lain adalah paman dari kedua pihak mempelai.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Herryl Herdiansyah bin Ardhiwijaya dengan putri saya Maya Anggraini binti Sugeng dengan mas kawin 500 gram logam mulia dibayar tunai," ujar Pak Sugeng yang membuat Maya berdegup kencang. Sebentar lagi statusnya akan berubah. Diremasnya genggaman tangan Riana.


Herryl menarik nafasnya, kemudian lelaki dalam balutan stelan putih itu mengucapkan bagiannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Maya Anggraini binti Sugeng dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Terbukti sudah sikap ksatria seorang lelaki, meminta tanggung jawab atas hidup anak perempuan ayahnya. Herryl merasa gugup ketika menyadari kini ia akan menggantikan posisi Pak Sugeng atas Maya.


Teriakan sah membahana di lantai satu hall tersebut. Riana memeluk sahabatnya yang telah berganti status itu. Bagaimana dengan Maya?


Gadis itu menitikkan air matanya.


"May ... sudah jadi istri, ya?" tanyanya lagi. Gadis itu seolah tidak percaya dengan status barunya. Ada haru yang ia rasakan, bahwa ia bisa sampai di titik ini. Riana mengangguk sambil tersenyum.


"Yuk ke bawah. Kamu harus menandatangani buku nikah, kan?" ajak Riana. Maya mengangguk dan mereka berdua menuruni anak tangga dengan anggunnya.


Herryl sendiri masih mencoba menguasai dirinya yang sempat gugup setelah mengucap ijab qabul. Lelaki itu terkejut begitu menyadari ada Maya duduk di sampingnya.


"Di mana saya tanda tangan, Pak?" tanya Maya yang membuat Riana ingin mencubit pipi sahabatnya itu.


"May, ini bukan proyek di Metal," bisik Riana gemas. Herryl tertawa kecil mendengarnya. Maya dengan caranya telah mengurai ketegangan yang dialami lelaki itu.


"Di sini, Mbak Maya," jawab penghulu yang merupakan petugas dari KUA. Maya dan Herryl bergantian menandatangani buku nikah mereka.


"Silakan berfoto," ujar penghulu lagi. Seketika flash berbagai macam kamera saling berkedip. Riana tidak menyiakan kesempatan itu. Diambilnya foto Maya dan Herryl.


"Mas Herryl bisa cium kening Mbak Maya," fotografer mengarahkan.


Wajah Maya pias saat itu. Cium? Kalau melihat di film atau di buku yang ia baca Maya sudah terbiasa. Tapi melakukannya, di depan umum pula? Ia menatap Herryl, memohon untuk melakukan pose lain. Raut wajahnya membuat Herryl ingin tertawa. Menggemaskan.


"Sekali saja, untuk kebutuhan foto," ujar Herryl lembut. Maya masih malu, gadis itu hanya diam saja. "Senyum, May, biar fotonya bagus," lanjut Herryl. Tapi apakah kita bisa tersenyum saat gugup? "Anggap hanya ada aku dan kamu di sini."


KLIK!


Selesai dan Herryl melepas ciumannya di kening Maya. Herryl segera merengkuh kepala Maya.


"Ryl?"

__ADS_1


"Biarkan begini sebentar." Herryl berkata seolah ingin mempercayai bahwa mereka sudah berada dalam ikatan pernikahan. Maya sendiri malu dan bingung karena mereka saat ini sedang menjadi pusat perhatian. Perlahan gadis itu merasa nyaman dengan perlakuan Herryl sehingga tergambar di wajahnya kenyamanan itu. Ia tersenyum.


KLIK!


Fotografer mendapatkan foto candid yang bagus kali ini. Setelah agak lama, Herryl melepas rengkuhannya.


"Aku akan membimbingmu. Jadi, jangan khawatir, okay?" ujar Herryl sambil menatap Maya lembut yang dijawab anggukan oleh gadis itu.


Lelaki itu mendekati telinga Maya dan berbisik, "kalau mau minta cium yang lainnya nanti, ya,"


GYUTT!!


"Wadouw!"


Mata Maya menatap Herryl. Semburat merah terlihat di pipi gadis itu. Herryl tersenyum melihatnya. Begini, ya, rasanya, menikah?


Selesai prosesi akad, Maya kembali ke ruang rias untuk beristirahat. Gadis itu lapar. Panitia sudah menyiapkan sandwich kesukaannya dan jus alpukat. Maya menyelesaikan kegiatannya segera karena setelah ini masih ada resepsi pernikahan mereka.


CEKLEK!


Maya menoleh. Rupanya Herryl masuk. Lelaki itu sudah berganti pakaian untuk resepsi.


"Makan, Ryl. Tuh bagianmu," ujar Maya santai. Tepatnya berusaha santai. Gadis itu belum terbiasa berduaan dengan status mereka saat ini. Maya berdiri untuk segera berganti pakaian.


"Cantik."


Gadis itu masih tetap belum terbiasa dengan perlakuan Herryl meski sudah bertahun-tahun. Ia mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Herryl mengungkung Maya dengan kedua tangannya.


"May, aku sudah bilang, kalau kita menikah supaya nggak berbatas," ujar Herryl lembut dengan wajah yang semakin mendekat.


"Ry-Ryl?" panggil Maya gugup.


"Termasuk yang ini," lanjut Herryl setengah berbisik sambil memiringkan kepalanya. Maya terdiam sedetik lalu menurunkan sedikit tubuhnya dan bergeser agar bisa keluar dari kungkungan Herryl. Detik berikutnya gadis itu berhasil keluar dan sedikit berlari untuk membuka pintu.


"May mau ganti baju!" teriaknya sebelum menghilang dari balik pintu. Meninggalkan Herryl yang tertawa kecil melihat tingkah istrinya. Malu, ya?


Lelaki itu duduk lalu memakan makanan bagiannya. Memikirkan kejutan apa yang akan ia alami kelak bersama Maya dalam rumah tangga.


"Bagaimanapun, kita akan mengatasi masalah bersama, May."


Sementara itu, Maya masih mengatur ritme jantungnya. Riana yang baru datang merasa heran melihat Maya berdiri di luar ruang rias.


"Lho, May, kok belum ganti baju?" tanya Riana.

__ADS_1


"Ada Herryl di dalam," jawab Maya menutupi gugupnya. Riana mengerutkan alisnya.


"Ada masalah? Dia, kan, suami kamu," tanya Riana lagi.


"Nggak ada masalah, sih. Tapi ...," jawab Maya lagi. Riana menepuk dahinya.


"May, kalian, kan, sudah menikah. Haduh, aku jadi kasihan sama Herryl. Punya istri begini amat," keluh Riana lagi. Deja vu, dulu di SMA juga sikap Maya unik kalau terkait asmara.


"Tapi ...."


"Sudah, ayo ganti baju. Sebentar lagi resepsi kalian, kan?" paksa Riana sambil membuka pintu kamar.


"Ryl, Maya mau ganti baju katanya," ujar Riana. Herryl tersenyum kemudian menyelesaikan makannya. Lelaki itu berjalan ke arah pintu di mana Maya masih berdiri.


"Nanti kita lanjutkan, ya," goda Herryl saat mereka berpapasan. Maya menegang, terbayang kejadian tadi. Wajah gadis itu memerah.


"Herryyyyyl!"


Herryl tertawa di luar kamar.


...***...


Resepsi kali ini menggunakan adat Jawa di mana tradisi sungkeman dan rangkaian adat lainnya dilakukan. Injak telur dilanjutkan dengan kacar kucur yang merupakan penuangan beras serta kacang hijau dalam kantong. Selesai acara adat, Maya dan Herryl menyambut tamu yang berdatangan memberi selamat. Acara tersebut berlangsung selama dua jam lamanya.


"Selamat, ya, May. Kamu cantik banget," ujar Hardi yang hendak menyalami Maya di panggung bersama Riana. Herryl langsung meraih tangan Hardi, menjabatnya. "Ya, ampun. Salaman aja nggak boleh?" goda Hardi.


"Nggak. Kamu dilarang," protes Herryl yang ditingkahi tawa kecil Hardi.


"Tuh, May. Kalau mau tahu suami kamu sikapnya." Hardi memeluk Herryl sambil tersenyum. "Selamat, ya, Ryl. Perjuangan kalian nggak sia-sia. Jaga Maya. Kalau kamu nyakitin dia, aku-" ucapan Hardi terpotong oleh sebuah suara.


"Aku apa, Di?" tanya Riana dengan tatapan tajam. Maya dan Herryl tertawa melihat pasangan itu.


"Aku ... kita ... musuhin dia. Iya, musuhin dia," lanjut Hardi terbata. Tawa Herryl berganti senyum saat melihat Maya tertawa. Cantik. Lelaki itu terpaku melihat gadis yang, menurutnya, kecantikannya mengalahkan perempuan lain di ruangan ini.


"Cieeee dilihatin terus, Ryl," goda Riana yang membuat Herryl gelagapan. Maya melirik suaminya dan memahami maksud Riana. Gadis itu kembali tersipu.


"Makan, yuk. Biarin mereka kenyang makan malu," ajak Hardi sehingga mereka bersalaman dengan Pak Ardhiwijaya dan Nyonya Anggi. Tentu, sepasang kekasih itu lanjut makan di buffet yang disediakan oleh panitia.


Herryl menggandeng tangan istrinya kemudian tersenyum. Maya juga membalas senyum Herryl hingga genggaman tangan itu terlepas ketika ada tamu yang datang.


...-Selesai-...


Hai halo hai. Terima kasih temans atas dukungan kalian selama ini, kini cerita Herryl dan Maya benar-benar selesai. Sebenarnya berat untuk selesai menulis kisah mereka berdua. Tapi, nyatanya goal tercapai, masalah selesai. Maya dan Herryl sudah mencapai cita-cita mereka dan menikah.

__ADS_1


__ADS_2