[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Mencecap Rengkuhan


__ADS_3

"Kamu nggak apa-apa pakai baju itu lagi?" tanya Herryl. Maya menggeleng sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa, kok. Boleh, Tante?" jawab Maya sambil meminta persetujuan Nyonya Anggi. Biasanya, kalangan atas akan malu memakai pakaian yang sama lebih dari sekali di suatu acara.


"Nggak apa-apa kalau Maya nyaman," jawab Nyonya Anggi.


"Terima kasih, Tante. Selamat beristirahat," ujar Maya tersenyum. Mereka sudah sampai di hotel Mercure, tempat yang sama seperti tahun lalu. Kedua orang tua Herryl sudah nyaman dengan hotel ini jadi mereka tidak ingin menginap di hotel lain.


"Herryl antar Maya dulu, Ma, Pa," ujar Herryl yang dijawab anggukan oleh kedua orang tuanya.


"Nggak usah masuk. May sehat, kok," larang Maya saat lelaki itu hendak melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Herryl tertawa kecil menanggapi larangan Maya.


"Iya. Istirahatlah," sahut Herryl sambil tersenyum. Tak lupa diusapnya kepala gadis yang selalu ia sayangi itu. Maya mengangguk dan ikut tersenyum.


...***...


Setelah mengabari kedua orang tuanya, Maya yang baru terjaga itu segera ke kamar mandi, membersihkan diri. Perjalanan kali ini hanya selama 4 hari karena Herryl harus segera bekerja di perusahaan, begitu katanya.


"May, sudah siap? Kita makan," ajak Herryl di ambang pintu kamar. Maya yang memang menunggu kedatangan lelaki itu segera keluar dan mengunci pintu kamar.


Malam ini Nyonya Anggi ingin makan di resto. Mereka berempat saling bergandengan menuju resto.


"Om sama Tante romantis, ya," gumam Maya melihat Pak Ardhi menggandeng tangan Nyonya Anggi.


"Terus aku?" tanya Herryl sambil mengacungkan genggaman tangannya yang membuat Maya tertawa kecil.


"Butuh pengakuan, nih?" goda Maya.


"Butuh peresmian." Herryl menjawab telak.


Sesampainya di resto, mereka memesan menu yang mereka suka. Maya dengan mudah menyesuaikan pilihannya dengan menu yang ada. Hal tersebut membuat kedua orang tua Herryl tersenyum.


...***...


"Ini Roger, Ma, Pa, May," ujar Herryl mengenalkan temannya. Roger menjabat tangan tiga undangan Herryl tersebut.

__ADS_1


"Maya, right? Kamu tahu, Herryl bisa menyusul kami meski dalam pemulihan kecelakaan," sapa Roger. Maya dan kedua orang tua Herryl seperti tersetrum. Kecelakaan? Tiga pasang mata melayu itu kemudian menatap Herryl, meminta penjelasan.


"E-eh, kita sarapan dulu, yuk," ajak Herryl menutupi rasa gugupnya.


"Roger, kapan kejadiannya?" tanya Maya lembut tapi matanya menatap tajam pada Herryl.


"Empat bulan lalu. Dia sempat dirawat di rumah sakit dan tertinggal selama seminggu. Bagusnya adalah dia bisa mengumpulkan judul disertasi walau telat sepekan," cerita Roger.


Empat bulan lalu, ketika Herryl sulit dihubungi. Dia juga cuma bilang sibuk saat telepon. Pantas saja.


"Terima kasih, Roger, sudah menjaga anak kami," ujar Pak Ardhiwijaya sambil menjabat tangan pemuda Inggris itu.


"Terima kasih, Roger," ujar Maya sambil menjabat tangan teman Herryl itu.


"May, mau kuambilkan sandwich?" tanya Herryl mencoba mengalihkan pembicaraan. Maya hanya menatap tajam lelaki itu. Gadis itu tidak menjawab apapun dan pergi mengambil makanan sendiri.


"Herryl, kamu hutang penjelasan pada kami setelah wisuda," ujar Pak Ardhiwijaya. Kedua orang tuanya juga pergi mengambil makanan.


"What happen, Ryl?" tanya Roger.


"Kamu bisa minta maaf dan jelaskan kondisinya. They will get the point," saran Roger. Herryl mengangguk. Tidak semudah itu, Roger. "How about our graduation? Let's go!"


Herryl menuruti usul Roger meski hatinya gundah. Maya bersama kedua orang tua Herryl menyusul. Herryl mengikuti prosesi wisuda bersama teman-temannya, diabadikan dalam kamera oleh Maya. Sesuai permintaan Nyonya Anggi. Setelah dua jam berjalan, prosesi itu selesai. Herryl mencari tiga orang berharga baginya. Ia bertemu di taman depan hall.


"Pa, Ma," sapa Herryl. Ia mendapat pelukan dan ucapan selamat dari kedua orang tuanya. "Maafin Herryl yang nggak cerita, Ma, Pa."


"Minta maaf sama Maya juga, Ryl," perintah Pak Ardhiwijaya.


Herryl kemudian beralih ke Maya yang masih diam saja.


"May," panggil Herryl lembut di hadapan Maya.


"Selamat, Ryl," ucap Maya dengan nada datar. Gadis itu mencoba untuk bersikap biasa saja karena menghormati kedua orang tua Herryl.


"May, aku minta maaf. Aku salah nggak cerita tapi aku nggak mau kamu dan orang tuaku khawatir," ucap Herryl. Maya masih diam saja. "May," panggil Herryl lagi.

__ADS_1


Tiba-tiba Maya memukuli dada Herryl sambil meracau.


"Kamu jahat! Kamu maunya apa nggak cerita, Ryl? Kamu anggap May apa? May khawatir, Ryl!" Maya terus saja meracau sambil menangis.


Tangan kekar Herryl merengkuh kepala gadis itu ke dalam pelukannya.


"Maaf."


Maya terkesiap. Jantungnya berdegup kencang meski hanya kepalanya yang dipeluk. Gadis itu tidak siap dengan perlakuan Herryl yang di luar dugaannya. Terlebih, ini di depan umum. Dengan menahan malu, didorongnya Herryl.


"Apa, sih, kamu?"


"Minta maaf," jawab Herryl sambil tersenyum. Maya membuang muka, malu menatap Herryl. Segera saja lelaki itu menggenggam tangan Maya.


"Ayo, makan. Ma, Pa, kita cobain makanan di kafe Exeter, ya," ajak Herryl dengan genggaman tangannya yang tidak lepas dari tangan Maya.


Keempat warga Indonesia itu duduk berhadapan setelah Herryl memesan makanan untuk mereka.


"Jadi?" tanya Pak Ardhiwijaya.


"Iya, Pa. Herryl kecelakaan, hp Herryl rusak. Herryl pikir, nggak mau cerita takutnya malah membuat Mama, Papa, Maya khawatir. Apalagi Herryl, kan, jauh. Maaf kalau Herryl salah," jawab Herryl.


Mendengar hal itu, kedua orang tua Herryl tersenyum. Mencoba memahami niat baik Herryl. Bagaimana dengan Maya? Gadis itu sudah meluapkan perasaannya sehingga diam saja menyimak penjelasan Herryl.


Herryl mendengar namanya dipanggil untuk mengambil makanan. Saat sudah di depan petugas, Herryl melihat seseorang membantunya. Maya. Lelaki itu tersenyum.


"Terima kasih."


...-bersambung-...


Hai halo hai temans. terima kasih sudah menyimak kisah Herryl dan Maya sampai saat ini 😊


masih ada yang bingung terkait rengkuhan Herryl? Semacam ini


__ADS_1


__ADS_2