![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Pagi itu Maya sedang bersiap untuk berangkat ke Metal ketika Herryl menyodorkan ponsel hitam milik lelaki itu.
"Apa?" tanya Maya.
"Telepon toko kue."
Sebuah jawaban yang membuat sang istri mengerutkan kedua alisnya.
"Hari spesial," lanjut Herryl lagi yang membuat Maya menutup mulut dengan tangan. Mereka berdua segera menelepon toko kue untuk memesan beberapa jenis dessert. Syukurlah sudah ada yang buka sepagi ini. Bahkan, mereka sengaja buka lebih pagi untuk hari spesial ini. "Ayo, sebelum terlambat."
Maya meraih tasnya dan mengikuti sang suami ke mobil. Saat melihat kaca spion, dirinya mendapati tumpukan kado di jok tengah. Raut wajahnya menyiratkan tanya pada sang suami yang menatapnya.
"Kemarin kusiapkan."
Perjalanan yang memakan waktu setengah jam itu berhenti setelah mereka sampai di depan gerbang. SMA Angkasa.
"Pak Adit," sapa Herryl yang membuat lelaki berseragam tersebut terdiam. Sepertinya sedang meneliti tamunya. "Selamat Hari Guru, Pak," ujar Herryl sambil menyalami takzim sekuriti tersebut diikuti oleh sang istri. "Herryl."
Seketika semringah hadir menghiasi wajah lelaki tersebut.
"Mas Herryl, ngganteng sekarang, ya," puji Pak Adit. "ini?"
"Saya memang ganteng dari lahir, Pak," sahut Herryl yang kemudian dicubit lengannya oleh sang istri. "Aduh. Hobi banget, sih, May?"
"Lho, ini ... Mbak Maya?" tanya Pak Adit lagi. Maya tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Pak," jawabnya. "Ini, untuk Pak Adit," ujar Maya sambil mengangsurkan sebungkus kado berbentuk kotak nan panjang.
"Wah, terima kasih. Tapi, saya bukan guru, lho," ujar Pak Adit lagi.
__ADS_1
"Bapak sudah mengajarkan saya untuk tetap sopan pada orang yang lebih tua, siapapun itu, tidak hanya yang berprofesi guru atau orang tua sendiri," ujar Maya sambil tetap tersenyum.
"Mbak Maya memang baik. Mas Herryl beruntung punya istri njenengan," puji Pak Adit.
"Iya, Pak. Saya yang kurang beruntung punya suami seusil dia," jawab Maya sengaja dikeraskan, membuat Pak Adit tertawa.
"May, kamu kok gitu, sih?" keluh Herryl.
"Kalian belum berubah, ya?"
"Bapak nggak datang, sih, di acara pernikahan kami. Nggak lihat dia-" ucapan Herryl terpotong oleh ucapan Maya.
"Maaf, Pak. Mas Herryl agak kekanakan."
"Nggak apa-apa. Mbak Maya mau masuk?" Pak Adit menawarkan. Lelaki itu siap menjadi bodyguard bagi kedua tamunya. Dipanggilnya anak buah untuk tetap berjaga di depan. Ya, sekarang Pak Adit adalah kepala sekuriti di SMA Angkasa.
"Selamat Hari Guru, Pak, Bu," ujar lelaki itu diikuti oleh Maya. mereka berdua menyerahkan kue dan kado sambil menyalami takzim para guru yang ada.
"Terima kasih, Ryl," ujar Pak Gunawan yang siap dengan setelan olahraga miliknya.
"Kalian jangan lari-lari depan ruang guru lagi," pesan Bu Wiwit pada Maya yang membuat perempuan tersebut tersipu.
"Berarti kalau bukan di depan ruang guru boleh, Bu?" tanya lelaki berkemeja abu-abu tersebut.
Haduh, punya suami kok bikin malu, sih?
"Terima kasih, Bu. Saya bisa jadi arsitek karena bimbingan Bapak dan Ibu," ujar Maya ketika dikelilingi oleh Bu Yuniar dan beberapa guru lainnya. Saat itu ia yang menyajikan potongan kue pada para guru tersebut.
"Kami yang bangga karena kamu bisa mencapai cita-cita kamu, Nak," ucap Bu Yuniar.
__ADS_1
"Iya, syukurlah, Bu. Kami berangkat dulu," pamit Maya akhirnya. Dilihatnya sang suami sudah bersandar di pintu menunggunya.
"May," panggil Herryl saat mereka melewati kelas di lantai satu. "Ini," ujarnya sambil menyerahkan sandwich beserta mawar lavender.
"Eh? Kapan kamu ...?"
"Aku belum pernah, kan, di sekolah, ngasih ini?"
Hati Maya kini kebat-kebit dengan sikap suaminya, apalagi diiringi senyum yang menawan. Meskipun sudah menikah, rona merah itu tetap hadir di wajahnya bila sang suami sudah bersikap manis.
"Cieeeee," sorak sorai beberapa siswa yang melihat dari jendela kelas terdengar oleh Maya. Jangan lupakan kini beberapa siswa juga berkerumun mengitari mereka.
"Herryl! Maya! Jangan bikin keributan kalian!" teriak Pak Gunawan yang semakin mendekati kerumunan tersebut.
"Nggak ribut, kok, Pak, mereka," bela Arga, ketua OSIS yang sedang menjabat tahun ini.
Mendengar hal tersebut, Herryl segera menarik tangan istrinya untuk membelah kerumunan siswa, berlari menuju gerbang sambil tertawa.
"Ayo, May!"
"Apa?"
Maya tersentak dan spontan mengikuti suaminya.
"Kita nggak boleh ditangkap Pak Gunawan," ujar Herryl lagi.
...-------------...
...SELAMAT HARI GURU...
__ADS_1