![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Skripsimu tentang apa nanti, May?" tanya Riana. Saat ini mereka sedang memesan makanan di salah satu resto cepat saji khas Jepang. Sejak diajak makan oleh Herryl, Maya menyukai resto siap saji khas negara matahari terbit tersebut. Menurutnya, menunya lebih lengkap dan murah.
"May lagi cari bahan tentang penanganan banjir, Ri. Coba buat desain rumah anti banjir. Tapi, belum cukup sumbernya," jawab Maya.
"Di internet banyak, May, yang sudah membuat desain begitu. Bisa, kok, jadi sumber kamu," usul Riana.
"Nggak, Ri. Desain di internet semuanya desain untuk perumahan atau gedung. Biaya yang diperlukan juga mahal. May terpikir desainnya yang terjangkau masyarakat menengah ke bawah," tolak May atas usul Riana.
"Oh, begitu." Riana melihat pramusaji membawakan pesanan mereka. "Terima kasih," ucapnya pada pelayan tersebut. Maya juga berterima kasih pada pelayan tersebut karena sudah membawakan pesanan mereka.
"Tapi sempat terpikir juga untuk membuat bahan bangunan tahan gempa, Ri. Menurutmu yang mana?" tanya Maya. Riana menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Maya.
"Lebih baik kamu diskusinya sama Herryl, deh. Dia, kan, pintar kalau soal begini. Apalagi kalau yang nanya tuh kamu," goda Riana yang membuat Maya mengambil sepotong eggroll di piring Riana. Bagaimanapun juga Riana melihat semburat merah di pipi sahabatnya.
"Kamu, tuh, Herryl terus."
"Kamu lucu, sih, May, dengar nama Herryl aja sudah malu begini. Dulu disapa sama Hardi aja nggak semalu ini," lanjut Riana menggoda. Maya menghentikan makannya. Hardi, ya?
"Beda, lah. Hardi apa kabar, Ri?" tanya Maya.
__ADS_1
"Bedanya, Hardi nggak semanis Herryl, ya, sikapnya?" goda Riana lagi. "Dia lagi magang di Kankyo Mirai," lanjutnya.
"Udah, dong, bahas Herrylnya. Kankyo Mirai perusahaan apa?"
"Kontrol air tanah gitu. Coba aja cari di internet," jawab Riana lagi. Sebuah telepon berdering, ponsel milik Riana. Ia meminta izin Maya untuk mengangkat telepon tersebut.
"Iya, Di. Ini, lagi sama Maya. Mau bicara? Oke. May, Hardi," ucap Riana. Maya terkesiap. Terakhir bertemu di bandara 3 tahun lalu. Maya merasa debaran jantungnya bersicepat. Teringat ungkapan perasaan Hardi padanya.
"May, apa kabar?" sapa Hardi ketika ponsel sudah di tangan Maya.
"Baik, Di. Hardi bagaimana?" Maya mengatur nafasnya agar lebih beraturan dan tidak terdengar gugup.
"Dianya jauh, Di, kalau mau berantem," jawab Maya.
"Oh, iya, sekarang kalian lebih banyak sayang-sayangan, ya? Hahaha," goda Hardi lagi.
"Hardi." Maya mulai merajuk. Kenapa hari ini semua teman menggodanya terkait Herryl?
"Herryl sudah cerita, May. Syukurlah kalau kamu ingat janji kalian waktu kecil. Jangan lupa undang aku kalau kalian menikah, ya."
__ADS_1
"Hardi ...." Maya menggantung panggilannya. Ada air mata yang mendesaknya keluar. Riana segera mengambil tisu dan menyodorkannya pada Maya.
"Sudah lama kita nggak ngobrol, ya? Nanti kalau luang, kita ngobrol lagi. Aku kerja dulu, jam istirahat hampir selesai," ucap Hardi yang diiyakan oleh Maya. Mereka memutus sambungan telepon.
"May, kamu udah ada Herryl, jangan baper sama Hardi gitu, dong," komentar Riana yang melihat Maya diam memandangi ponsel Riana.
"Eh? Apa, sih, Ri? Oh, iya, aku boleh minta nomor Hardi?" tanya Maya.
"Untuk?"
"Mau diskusi soal penanganan banjir dan gempa di Jepang," jawab Maya. Tampak Riana gemas sampai mengambil potongan katsu di piring Maya.
"Kamu, tuh, nggak pernah mikirin selain pelajaran," keluh Riana.
"Boleh?" tanya Maya lagi.
Riana hanya memutar bola matanya.
...-bersambung-...
__ADS_1
Hai halo hai, terima kasih masih setia menyimak kisah Herryl dan Maya.