![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Hardi pergi. Rasanya terlalu mendadak. Bisakah waktu diputar lagi supaya kumanfaatkan sebaik mungkin bersamanya? Maya membatin di dalam kamar sambil meluruhkan air mata yang ditahannya selama di mobil Herryl.
"Lho, Ryl? Di sini? Nduk, ada Nak Herryl ini, lho," panggil Bapak yang baru pulang kerja.
"Nggak apa-apa, Pak. Maya lagi pengen sendiri di kamar," sahut Herryl menenangkan Bapak. Ia salim takzim pada Bapak.
"Oh, ya, sudah. Bu, minta teh, ya. Ryl, kebetulan. Nak Herryl bisa ajarin Maya komputer?" Bapak bertanya sambil meletakkan dus putih bergambar laptop di depan Herryl.
"Bisa, Pak. Tapi, setahu saya Maya sudah bisa komputer, Pak," jawab Herryl.
"Itu, kan, komputer sekolah. Ini, kan, laptop. Mungkin ada bedanya, Bapak juga nggak tahu," ujar Bapak menerangkan sepengetahuannya saja. Herryl mengangguk. Ibu membawakan pesanan Bapak kemudian meminta Bapak mandi terlebih dahulu.
Herryl mengetuk pintu kamar Maya. Masih belum ada jawaban. Masih nangis? Herryl tersenyum getir. Apa kalau aku yang pergi nanti kamu sesedih ini? Herryl mengetuk pintu Maya lagi, kini bernada. Kalau didengar seperti lagu "Balonku".
"Berisik!" Hardik Maya kemudian. Terdengar suaranya agak serak. Herryl tersenyum. Kini ia menyeringai sambil meneruskan ketukannya.
CEKLEK.
"Kamu nggak dengar, ya? Berisik." Maya ketus setelah membuka pintu kamarnya. Herryl tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sehingga langsung menarik tangan Maya ke ruang tamu. "Sakit."
"Ini, ada laptop. Buka, deh," ucap Herryl tanpa peduli keluhan Maya.
"Kenapa harus May buka?" Maya masih cemberut karena kesal akan sikap Herryl.
"Itu buat kamu, Nduk. Pak Wimono bilang kamu perlu buat kuliah," kata Bapak menjelaskan. Beliau sudah selesai mandi dan sekarang memakai kaos hijau muda.
"Terima kasih, Pak," jawab Maya bersyukur. Maya terdiam mengamati kardus putih di hadapannya.
"Nih, bukanya dari sini." Herryl mengarahkan ke sebuah bukaan dari bagian kardus tersebut. Maya menurut dan ia bisa melihat isi kardus tersebut. Sebuah laptop biru muda beserta beberapa CD program.
"Bapak nggak nyangka bisa dapat laptop ini, Nduk. Belajar yang bener, ya," ucap Bapak. Maya melihat mata Bapak berkaca-kaca. Bapak bukan orang yang mudah menangis sehingga Maya bisa membaca seberapa tersentuhnya Bapak kali ini.
"Iya, Pak," jawab Maya. Sementara Herryl sudah menekan tombol power, melakukan tugasnya untuk menginstall program dalam laptop tersebut.
Tanpa disangka, mama ikut bergabung sambil membawa kroket sebagai cemilan mereka berempat.
__ADS_1
"Rezeki, ya, Pak. Pak Wimono memang baik," komentar Mama sambil mengusap bahu Maya. Maya mengangguk sambil menatap Mama yang tersenyum.
Herryl melihat adegan tersebut dan tersenyum. Hatinya menghangat melihat betapa harmonisnya keluarga ini. Ia segera kembali fokus pada laptop.
Kegiatan lelaki berkulit coklat itu tidak luput dari pandangan Maya. Bila sedang serius bekerja, Herryl terlihat sangat keren di matanya. Mungkin ini yang dilihat fansnya. Wajar, sih.
"Kalau ngelihatin terus nanti naksir, lho," goda Bapak ketika mengetahui anak gadisnya sedang menatap intens tamu mereka. Maya tergagap karena ketahuan sedang mengamati Herryl.
"Ap-Apa, sih, Pak?" Maya mengelak sambil mengalihkan pandangannya ke luar rumah. Herryl menoleh dan mendapati wajah Maya merona. Sebuah senyum simpul terbit di wajahnya, kemudian ia kembali fokus dengan laptop di depannya.
"Oke, tinggal nunggu selesai," ucap Herryl sambil mengangkat jarinya dari keyboard laptop. Ia bersandar pada dinding di belakangnya.
"Kroketnya, Nak," tawar Mama kemudian. Herryl menegakkan punggungnya kembali.
"Eh, iya, Bu. Terima kasih," jawab Herryl. Ia pamit untuk mencuci tangannya di dapur sebelum memakan kroket yang ditawarkan oleh Mama.
"Saya makan, ya, Bu," ucap Herryl meminta izin sambil mengambil sebuah kroket di piring. Mama mengangguk.
"Berapa lama?" Maya bertanya. Ia sudah menguasai dirinya yang sempat malu tadi.
"Bapak mau makan dulu. Herryl juga, ya, sudah waktunya makan ini," ajak Bapak menawarkan. Mama langsung beranjak dari duduknya, bersiap menuju dapur.
"Ayo, Nduk. Ambil makanan," perintah Mama. Maya segera meletakkan buku manual yang dibacanya kemudian mengikuti Mama. Tidak berapa lama kemudian, kedua perempuan beda usia itu sudah kembali membawa piring berisi lauk dan tempat nasi. Maya kembali ke dapur untuk mengambil sayur.
Herryl menggeser laptop agar merapat ke dinding kemudian membantu menata sajian sore itu. Mereka berempat kemudian makan bersama. Selesai makan, Herryl kembali berkutat dengan laptop yang sudah selesai diinstal.
Maya tidak perlu diajari lagi karena selama ini ia sudah belajar komputer di sekolah. Herryl pamit setelah tugasnya selesai.
"Nduk, sekarang kamu mau kuliah. Mama beli hp untuk kamu, ya," usul Mama setelah mereka duduk bertiga. Maya menggeleng.
"Ma, Maya belum butuh hp. Nanti kalau Maya butuh hp, May bisa pakai tabungan Maya, kok, Ma," elak Maya halus menolak. Maya terdidik untuk membeli barang sesuai kebutuhan. Jadi, bila ia merasa belum butuh, maka ia tidak akan membelinya.
...***...
Hari ini Maya ke sekolah untuk melengkapi berkas pendaftaran. Mengenakan pakaian bebas tapi sopan, Maya menuju ruang Bu Yuniar. Diketuknya pintu kemudian masuk ke ruangan setelah diizinkan.
__ADS_1
"Apa kabar, Nak?" sapa Bu Yuniar yang sudah beberapa hari terakhir tidak melihat Maya.
"Baik, Bu. Ini, fotokopi Kartu Keluaga dan Akta Kelahiran saya," jawab Maya sambil meletakkan lembaran fotokopi berkas di atas meja. Melihat itu, Bu Yuniar menyerahkan berkas lain dalam sebuah map.
"Ini dibawa ke bagian pendaftaran Universitas Angkasa, ya," perintah Bu Yuniar lembut.
"Baik, Bu," jawab Maya kemudian membereskan berkas tersebut lalu pamit untuk bergegas naik angkutan umum ke Universitas yang letaknya 3 km dari sekolah.
"May," panggil seseorang. Maya menoleh dan mendapati Herryl sedang berjalan ke arahnya. "Mau daftar, ya? Selamat, ya, May."
Maya mengangguk kemudian pamit untuk segera menyelesaikan pendaftarannya.
Kapan kamu akan melihat ke arahku, May?
Herryl menatap sedih kepergian gadis yang disukainya itu.
...***...
Maya sudah sampai di sebuah tempat dengan monumen bertuliskan Universitas Angkasa. Monumen kecil itu terletak di depan gerbang hitam yang panjangnya muat untuk dua mobil. Maya kemudian memasuki gerbang dan mendapati banyak orang sedang berlalu lalang di halaman gedung yang berada di kiri jalan. Gedung pertama yang ia lihat setelah memasuki gerbang tadi.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa seseorang ramah. Maya menoleh dan mendapati seorang perempuan--sepertinya mahasiswa juga--berambut panjang dan memakai jas almamater biru muda dengan logo Universitas Angkasa tersenyum kepadanya. Jas almamater itu menutup kaos berkerah navy dan celana jeans yang dipakainya.
"Saya ingin ke ruang administrasi, Kak," jawab Maya.
"Oh, gedung administrasi. Tepat sekali kita berada di depannya. Yuk, saya bantu mengurus keperluanmu." ajak perempuan tersebut. Maya tidak langsung menuruti.
"Oh, iya, kenalkan, saya Shally, jurusan Bahasa Inggris," lanjut Shally mengenalkan diri.
"Maya, saya ingin mendaftar ke Teknik Sipil," jawab Maya.
"Wow! Keren!" puji Shally. Mereka berdua kemudian berjalan ke dalam gedung administrasi.
...-bersambung-...
Maya sudah akan kuliah. Syukurlah sedihnya nggak lama-lama, ya, ditinggal Hardi.
__ADS_1