![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Maya sudah berada di tahun ketiga perkuliahannya. Hampir tidak ada waktu baginya bersantai. Tugas Besar, praktikum, laporan, asistensi dengan dosen. Maya sendiri terkejut dirinya bisa bertahan sampai saat ini. Nyaris nggak ada bedanya dengan mahasiswa kedokteran, batin Maya. Mengukur tanah, mengecek sampel tanah, pengadukan semen. Menghitung kendaraan yang lewat dalam penelitian lalu lintas.
...***...
"Kamu jadi gelap begitu, Nduk," komentar mama begitu Maya pulang dari penelitian. Maya hanya tersenyum. Bahkan Herryl bilang dia bisa kembaran kulit dengan Maya nanti.
"Kulit kamu bisa diperbaiki, kok, warnanya. Yang penting hati kamu, sikap kamu," pesan Herryl menenangkan ketika dilihatnya di layar ponsel Maya cemberut karena disebut gelap.
"Tapi nggak usah nyamain sama kulit Herryl juga," keluh Maya. Herryl tertawa mendengarnya.
"Iya, maaf. Oh, iya, sudah dapat tempat kerja praktek?" tanya Herryl lagi.
"Ada. Crown Construction namanya. Perusahaan menengah, sih. May nanti jadi asisten arsitek senior di sana. Duh, bakal ngadepin om-om semi kakek rewel kayaknya," jawab Maya yang ditingkahi tawa kecil Herryl.
"Iya kalau om-om serem. Kalau ganteng gimana? Kamu bakal cinlok, nih, di sana," goda Herryl.
"Nggak, lah. May udah-" elak Maya terpotong oleh dirinya sendiri. Wajahnya mulai merona.
"Udah apa? Udah ada aku, ya?" goda Herryl lagi.
"Ap-apa, sih." Maya gugup menjawab lalu menutup telepon.
Kamu imut, May, kalau lagi malu. Terima kasih, ya, sudah menjaga hatimu untukku. Herryl memandangi layar ponselnya yang sudah tidak menampakkan wajah Maya lagi.
...***...
Hari ini adalah hari pertama Maya dan Randi kerja praktek di Crown Construction. Maya bertugas di divisi perencanaan sedangkan Randi di bagian pengadaan. Mereka dikenalkan pada senior masing-masing.
"Kenalkan saya Albert, arsitek senior di sini. Mbak Maya bisa bantu saya dalam perancangan?" ucap Albert McFadden, pria keturunan bertubuh tegap di depan Maya dan Randi. Sementara itu, Randi diajak oleh lelaki yang lebih tua bernama Dimas Herlambang ke ruang pengadaan.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Maya. Albert kemudian mengambil salah satu map biru untuk kemudian dijelaskan kepada Maya. Cepat juga dia memahami. Sepertinya aku akan terbantu, batin Albert. Mereka bekerja sampai tiba waktunya makan siang. Randi mengajak Maya makan bersama di kantin kantor.
"Ayo, May. Sebelum jam kerja lagi," ajak Randi. Maya segera membereskan berkas-berkas yang sudah dikerjakannya. Mereka berdua kemudian menuju kantin bersama.
Kantin Crown Construction menyediakan berbagai makanan selingan. Makan besar dihidangkan secara gratis dan diambil prasmanan.
"Silakan, Dik. Ini gratis, kok," ujar salah satu penanggung jawab kantin.
"Wah, bisa perbaikan gizi, nih," celetuk Randi. Menanggapi hal itu, Maya geleng-geleng. Randi memang Maya kenal sebagai pemburu makanan.
Maya duduk bersama Randi, mereka berdoa kemudian mulai menyantap menu nasi padang rendang yang sudah berada di depan mata.
Selesai jam makan siang, kedua mahasiswa Universitas Angkasa itu kembali ke meja kerja masing-masing. Hari ini Maya ditugaskan untuk mendata kebutuhan dua buah proyek di pusat kota Jakarta. Kebutuhan itu didata berdasarkan desain bangunan yang dibuat oleh Albert. Lumayan memakan waktu sehingga Maya baru bisa menyelesaikannya sekitar 2 jam. Maya melaporkan data tersebut untuk diperiksa oleh Albert.
"Oke, kerja yang bagus. Hmm, ini. Kamu harus menghitung dengan pasti terkait pondasi. Saya ada contohnya. Ah, ini, kamu bisa gunakan untuk acuan," komentar Albert sambil memberikan sebuah map hijau berisi data yang Maya butuhkan.
"Baik, Pak. Akan saya kerjakan kembali, terima kasih," ucap Maya sebelum kembali ke meja kerjanya.
"Terima kasih untuk hari ini. Besok kamu bersiap untuk tugas berikutnya," ucap Albert bangga.
"Baik, Pak. Saya permisi, selamat sore," salam Maya pamit. Setelah melihat Albert mengangguk, Maya memakai tas ranselnya kemudian melenggang keluar ruangan.
...***...
"Gimana tadi?" tanya Herryl. Ia baru selesai mengerjakan tugas ketika jam menunjukkan pukul 13.45 waktu Oxford. Maya di kamar baru selesai makan malam.
"Capek, Ryl. Mungkin karena hari pertama, ya? Pak Albert, arsitek senior, orangnya baik. May langsung dikasih tahu salahnya di mana, dikasih saran," jawab Maya.
"Ganteng, nggak?" goda Herryl lagi.
__ADS_1
"Ganteng, sih. Muka bapak-bapak anak 2, Ryl. Tadi May lihat di mejanya ada foto keluarganya, anaknya masih SD gitu. Nggak penting banget bahas mukanya, yang penting, kan, May lancar di sana, Ryl," jawab Maya.
"Iya. Istirahat dulu, May. Biar besok kamu siap kerja lagi. Aku juga mau ... May?" panggil Herryl setelah mendengar suara nafas Maya di seberang telepon. Herryl tersenyum. "Tidur, ya?"
Alih-alih menutup teleponnya, Herryl malah memasangkan earphone di ponsel dan telinganya. Ia tidak ingin memutus sambungan telepon, khawatir membangunkan Maya dengan suara penanda telepon diputus. Nanti saja ia putus ketika suara nafas Maya terdengar menjauh, yang artinya ponsel tidak lagi di telinga Maya.
Herryl kembali berkutat dengan buku terkait ekonomi yang semalam ia baca. Ini sudah tahun kedua dia berada di Oxford. Waktu cutinya ia gunakan untuk melancong ke berbagai negara di Britania Raya, mencoba kehidupan urban yang mulai biasa ia lakukan. Tidak lupa ia kirimkan foto-foto pemandangan serta kehidupan di tempat-tempat yang ia kunjungi pada Maya dan mama.
...***...
"Maya, hari ini ikut saya mengecek lapangan setelah data itu kamu serahkan ke bagian pengadaan," perintah Albert.
"Baik, Pak. Saya permisi," jawab Maya pagi itu. Jam kerja baru dimulai dan Maya sudah harus ikut memeriksa di lapangan. Tidak lama kemudian, mereka berdua sudah berada di dalam mobil Albert. City car putih itu seolah menggambarkan pemiliknya yang rapi, bersih, dan teliti. Dalam waktu tempuh 30 menit mereka sudah sampai di lokasi. Albert diikuti Maya menuju pos pengawasan, meminta Alat Pelindung Diri (APD) untuk mereka berdua.
Maya teringat saat kuliah K3 (Keamanan dan Keselamatan Kerja) mereka mengenal APD untuk berada di lapangan. Sepatu safety bermacam jenisnya tergantung lapangan kerja. Kini Maya selesai memasang rompi dengan reflektor, lalu ia memakai helm dan siap mengikuti Albert selama di lapangan. Tidak lupa buku catatan ia genggam agar memudahkannya mencatat apa saja yang diperlukan.
Maya diajarkan menghitung luas area dan perencanaan bangunan di mana saja. Albert sangat serius ketika menjelaskan sesuatu pada Maya dan mandor. Tak lupa Maya mencatat beberapa penjelasan Albert dan laporan Pak Gani sang mandor. Seketika Maya teringat raut wajah Herryl bila sedang serius. Herryl.
Setelah selesai memeriksa, Albert mengajak Maya kembali ke kantor.
"Kamu mau minum apa? Kamu bisa ambil sendiri di kulkas," tawar Albert sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Maya kemudian membuka kulkas dan matanya tertuju pada minuman isotonik yang sering Herryl berikan dulu padanya.
Mereka berdua tiba di kantor jelang jam istirahat.
...-bersambung-...
hai halo hai, sedikit mengulik kerja praktek mahasiswa Teknik Sipil, nggak apa-apa, ya. Kuliah mereka berat, lho. Maya aja sampai kukitnya makin gelap karena panas-panasan, hehehe.
Oke, terima kasih sudah setia menyimak kisah Herryl dan Maya sampai saat ini. Share ke teman-teman, ya, link cerita ini, biar bisa ngghibahin kelakuan Maya dan Herryl bareng, hehehe.
__ADS_1