![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Ini aku, Adrian van Coen," ucap Adrian. Hari ini ia mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan warna navy.
Maya mengusap air matanya, menghentikan tangisnya. Matanya kini menatap wajah lelaki di hadapannya. Ada rasa gugup menyergap saat menyadari bahwa mereka bertemu. Setelah sekian lama berpisah tanpa komunikasi sama sekali, apa yang diharapkan saat bertemu muka? Ngobrol biasa? Tentu tidak. Seperti yang mereka berdua alami saat ini. Gugup.
Bel tanda masuk berbunyi sehingga Riana harus mengingatkan Maya akan kewajiban mereka untuk belajar di kelas.
"Ayo, May. Kami duluan, Adrian," pamit Riana yang sudah lebih dulu menguasai dirinya. Ia sama gugupnya dengan kedua temannya itu.
"I.. Iya," jawab Maya sambil mengangguk.
"Aku tunggu pulang sekolah," pesan Adrian sebelum kedua temannya itu berlalu.
Riana dan Maya kemudian kembali ke kelas mereka. Sementara itu, Adrian duduk di kantin.
...***...
Jam pelajaran hari ini berakhir. Adrian sudah bertemu dengan Hardi di pinggir lapangan. Maya dan Riana bergegas mengecek di koridor dan mendapati posisi kedua temannya terlihat dari lantai 2. Mereka berdua tidak membuang waktu meski merasa canggung dengan Adrian.
Maya menatap Adrian lagi. Kali ini tatapannya tajam.
"Dasar! Pergi ke mana selama ini? Ngilang di tengah tugas. Kamu ngerepotin kelompok kita, tahu!" Maya mengomel tanpa henti. Sementara itu, Adrian tersenyum menyimak ocehan gadis di hadapannya ini.
"May, aku..."
"May belum selesai! Kamu nggak tahu, kan, May merasa sendirian? May nggak punya teman diskusi soal Conan!"
"Sudah? Aku boleh jawab?" Adrian bertanya. Maya diam saja tidak menjawab dan hanya mendengus sebal.
"Yuk, duduk di sana dulu," ajak Riana, mencoba meredam emosi Maya yang meluap. Baik Maya, Hardi maupun Adrian menuruti saran Riana. Mereka berempat duduk di kursi batu dekat lapangan. Karena sudah jam pulang sekolah, tempat ini cenderung sepi dari lalu lalang siswa.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena pergi mendadak dari sini. Saat itu aku harus ikut ke Belanda karena kakekku meninggal. Sebagai anak satu-satunya, Papi harus menggantikan Opa di sana. Kami semua juga harus stay di sana. Aku dan kakakku meneruskan sekolah di Belanda. Sekarang aku mengurus beberapa berkas dari sekolah ini untuk kuliah di sana," rinci Adrian menjelaskan.
Maya terdiam mendengarkan penjelasan Adrian. Ternyata kamu mengalami masa yang begitu berat, ya? Maya membatin kembali.
"Kuliah di sana, Yan?" Riana kembali bertanya.
"Iya. Aku ingin bersekolah kepolisian supaya menjadi detektif. Semoga aku bisa bergabung di AIVD," jawab Adrian.
"AIVD?"
"Dinas Intelijen dan Keamanan Umum Belanda. Aku ingin mengikuti jejak Shinichi Kudo. Mungkin terdengar lucu menurut kalian," lanjut Adrian sambil tersenyum.
Maya menggeleng.
"Itu keren. Kamu pasti bisa, Yan," ucap Maya menyemangati.
"Kalau begitu, kamu bisa jadi Ran-nya?" Adrian menawarkan pada Maya. Ran adalah kekasih Shinichi Kudo dalam seri Detektif Conan.
TAK!!
__ADS_1
"Aduh! Masih suka jitak, ya," keluh Adrian kesakitan sambil memegangi kepalanya yang dijitak Maya.
"Kalau ngomong yang bener," sahut Maya kesal. Riana tertawa kecil melihat mereka berdua.
"Sakit, Di," celetuk Adrian sedikit manja.
"Kenapa?" Hardi bertanya pura-pura tidak tahu.
"Kasar dia, Di. Aku dijitak," jawab Adrian lagi.
"Dih, manja," celetuk Maya ketus. Melihat Hardi tertawa, Maya semakin kesal karena begitulah hubungan Hardi, Maya, dan Adrian. Hardi akan selalu melindungi Adrian sahabat berharganya.
"Eh, dari tadi, Adrian bilangnya aku kamu, udah nggak gue elo lagi. Efek di Belanda?" Riana bertanya keanehan yang ia amati sejak tadi. Adrian mengangguk.
"Di sana aku di sekolah Belanda, bukan sekolah Internasional, Ri," jawab Adrian.
"Ke kantin, yuk," ajak Hardi pada Adrian.
"Yeay! Kamu di sini, ya, aku mau pergi. Takut sama yang dari tadi ngelihatin kita. Mukanya serem," ucap Adrian sambil berdiri.
"Kok horor, sih?" celetuk Maya cemas. Masa iya siang-siang begini muncul?
"Tuh, dia berdiri di sana," ujar Adrian mengarahkan pandangannya ke ujung kanan lapangan. Maya, Hardi, dan Riana mengikuti arah pandang Adrian.
"Ya ampun, kirain hantu," ucap Maya akhirnya. Lega.
"Dia cemburu ngelihat kamu sama Maya," sahut Hardi membuat Maya keki.
"Ada-ada aja," ucap Maya setelah kedua teman lelakinya pergi.
"Kamu nggak khawatir Herryl akan gegabah?" Riana bertanya. Maya menoleh demi mendengar itu.
"Kenapa harus gegabah?" tanya Maya, membuat Riana harus memutar bola matanya.
"Ayolah, May. Kamu kan tahu dia suka sama kamu," jawab Riana.
"Terus? Soal gegabah?" tanya Maya lagi.
"Sahabatku ini juara sekolah tapi nol banget, ya, soal hati. Yuk, pulang ajalah," keluh Riana karena mendengar Maya tidak mengerti maksud ucapannya.
Maya hanya mengedikkan bahunya dan mengikuti Riana. Mereka berjalan ke arah gerbang.
"May. Herryl ke sini," ucap Riana. Maya melihat Herryl mendekat ke arah mereka.
"Belum tentu," elak Maya. Sampai akhirnya mereka bertemu di satu titik.
"May," panggil Herryl sambil menghentikan langkahnya. Riana dan Maya ikut menghentikan langkah mereka.
"Tuh, kan," celetuk Riana.
__ADS_1
"Jadi dia?" Herryl bertanya tentang lelaki yang dilihatnya akrab dengan Maya.
"Nggak ada urusannya sama kamu," elak Maya.
Mendengar itu Herryl terdiam sejenak.
Bukan urusanku, ya?
Tidak lama kemudian, sebuah senyum terbit di wajahnya. Tangannya bergerak menepuk kepala Maya seperti biasa.
"Semangat, ya, tugasnya," ucap Herryl kemudian berlalu ke arah yang berlawanan dengan Maya dan Riana.
"Herryl perhatian banget, May. Duh, kalo aku pasti melting deh," komentar Riana yang menyaksikan sikap Herryl pada Maya barusan.
"Ya udah buat kamu aja," sahut Maya.
"Kamu bener-bener..." ujar Riana heran dengan sikap sahabatnya yang cuek. Padahal beberapa minggu yang lalu dilihatnya Maya menangis karena Herryl.
...***...
"Kamu masih njagain Maya?" Adrian bertanya sambil mengaduk orange jus miliknya.
"Nggak," jawab Hardi.
"Kenapa?"
"Laki-laki tadi, Herryl namanya. Dia lebih bisa njaga Maya," ujar Hardi menjelaskan. Adrian tersenyum.
"Kirain kalian bakal semakin dekat setelah aku pergi," sahut Adrian lagi. Hardi menggeleng sambil tersenyum.
"Maya selalu ingat kamu. Conan selalu dia bawa kalau ada kesempatan," elak Hardi sambil menceritakan bagaimana ia mempertahankan komik Conan dari tangan Herryl.
"Kejadiannya mirip denganku, ya? Adu mulut hampir tiap hari," gumam Adrian. Kedua sahabat itu kemudian tertawa bersama.
"Aku minta nomormu," ucap Hardi akhirnya. Mereka berdua saling menyimpan nomor kontak masing-masing. Banyak yang Hardi ceritakan terkait Maya. Sesekali Adrian mengerutkan alis, sering ia tertawa mendengar kekonyolan Maya.
"Dulu dia nggak berani pakai karate padaku," ucap Adrian. Hardi mengedikkan bahu untuk menyatakan ketidaktahuannya.
"Kamu berapa hari di Jakarta?" tanya Hardi.
"Besok sudah kembali ke Amsterdam," jawab Adrian lagi.
"Cepat sekali. Dan... perasaanmu?" tanya Hardi.
"Tadi dengar, kan, dia menolak?" Adrian menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Kamu ngomongnya begitu, nggak serius," sahut Hardi.
"Apa aku harus bawa cincin untuk confess?" tanya Adrian lagi. Hardi tertawa kecil mendengarnya. Mereka menghabiskan minum kemudian pulang bersama.
__ADS_1
...-bersambung-...
Hai halo hai, Adrian muncul! Kayaknya nggak bikin Maya galau, ya? Apa dia sudah nggak punya perasaan sama siapapun, ya? Let's see temans