![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Ma, Selamat Hari Ibu," ujar Herryl pagi itu pada perempuan cantik nan anggun di hadapannya. Disalaminya takzim tangan wanita paruh baya yang sedang tersenyum. Bergantian dengan sang menantu. Maya kemudian mengajak seluruh anggota keluarga di rumah itu untuk memakan puding coklat buatannya.
"Yil, mana kadonya?" tagih Bu Anggi. Ya, kultur keluarga yang menjadikan anak sebagai teman membuat perempuan tersebut dengan santainya bercanda dengan pasangan muda kesayangan.
"Kasih sayang, dong, Ma," jawab Herryl sambil tersenyum bangga. Yakin bahwa idenya akan disetujui oleh papa dan mamanya. "Keren, kan?"
"Mas," tegur Maya yang tidak menyangka bahwa suaminya akan seusil itu. Tadi di perjalanan, Herryl mengatakan bahwa dirinya sudah menyiapkan kado spesial. Ternyata kadonya ...
"Lho, kenapa?" tanya Herryl menyanggah. "Bukannya bagus? Memangnya Mama nggak mau dapat kasih sayang dari aku?"
Bikin malu aja, sih? Maya membatin kesal. Ia khawatir ibu mertuanya akan mengira bahwa dirinya yang mengajari sang suami untuk tidak memberi hadiah. Banyak, kan, di media sosial kisah istri yang perhitungan pada mertuanya. Atau mertua yang curiga pada menantunya.
"Kamu, tuh, selalu begitu," sahut Bu Anggi diiringi gelak tawa. "Lihat, Maya sampai pucat. Sayang, Eyil ini memang suka begitu kalau sama Mama. Tapi, dia orang yang paling perhatian sebelum yang lainnya," cerita sang mertua yang membuat raut wajah Maya berubah. "Nanti tahu-tahu pulang sekolah, atau pas kuliah, kerja, bawa buket. Sweet banget."
"Maaf, Ma. May kira ...," sesal Maya atas pikirannya sendiri yang merupakan prasangka buruk. Saat itu sebuah tangan merangkul bahunya.
"Sayang, jangan khawatir, ya. Mama nggak akan tersinggung dengan tingkah anak yang sudah Mama kenal dari lahir," ucap Bu Anggi mengeratkan rangkulannya yang dijawab anggukan oleh sang menantu. "Kalian bahagia, itu sudah kado terindah sepanjang hidup Mama."
__ADS_1
Setelah selesai kegiatan kecil di rumah Ardhiwijaya, pasangan muda tersebut meluncur menuju rumah Pak Sugeng.
"Kamu sudah siapkan hadiah yang kubeli kemarin, kan?" tanya Herryl sambil menyetir.
"Mas," ucap Maya. "Kenapa ke Mama Anggi nggak langsung kasih hadiah, tapi ke Mama kita bawa?" tanyanya tidak mengerti atas sikap sang suami.
Saat itu Herryl tersenyum.
"Beda, May," jawabnya. "Mereka orang tuaku yang baru kukenal ketika aku menikahi kamu. Tentu energiku masih banyak yang belum kusalurkan untuk mengungkap rasa sayangku ke bapak dan mama."
Jeda sejenak. Memberi kesempatan pada sang istri untuk merenung. Bersyukur bahwa suaminya juga menyayangi bapak dan mama.
"Nggak ada meeting, Mas?" tanya Maya heran. Ini hari kerja, kok malah ...
"Nggak. Nanti sore kujemput, ya," pintanya lagi. Hening kembali memberi waktu pada keduanya untuk mengingat kembali berbagai kejadian di taman kota. Sedih, senang, momen penting yang mereka alami di tempat itu.
...***...
__ADS_1
"Nduk," ujar Bu Rini. "Terima kasih."
"Maya yang berterima kasih untuk semua bentuk sayang Mama, juga Bapak, sampai May bisa sampai seperti sekarang. Kalau bukan karena doa Mama, Bapak, usaha Mama yang terbaik ...," sahut Maya sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang mama.
"Ridho kami selalu bersamamu, Nduk, selama itu di jalan yang benar," ucap Bu Rini. Pak Sugeng yang melihat itu kemudian tersenyum. Herryl yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum.
"Istri saya keren, kan, Pak," komentar Herryl membuat ayah mertuanya menoleh.
"Itu anak saya. Wajar dia keren."
Tidak mau kalah, suami sang arsitek itu menepuk bahu mertuanya.
"Tapi dia keren karena dia istri saya, Pak."
Melihat menantunya bersikukuh membuat Pak Sugeng tertawa.
"Kamu sudah ketularan Maya, Ryl," komentar lelaki paruh baya tersebut di sela gelak tawanya. "Nggak mau kalah."
__ADS_1
Raut wajah putra tunggal Pak Ardhiwijaya itu pias. Warna merah padam karena malu telah memenuhi seluruh wajahnya dari putih semula.
...***...