![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Hai halo hai, temans. Renjanasa adalah novel yang akan terbit. Nggak saya tulis di platform manapun kisah Alan dan Serena ini. Beberapa part akan saya post di sini kalau kalian penasaran. mirip Herryl, sih, kelakuan Alan, tapi nggak seabsurd Ketua OSIS 😁
Bab 1: Bersua
"Serena?" sapa sebuah suara maskulin. Gadis berambut sebahu dan berkacamata itu merasa namanya dipanggil sehingga ia menoleh ke arah suara.
Meski sudah memakai kaca mata, Serena masih memicingkan matanya, mencoba mengingat wajah yang tampak familiar. Siapa?
"Ya, maaf, dengan si... Alan?" Akhirnya gadis itu menyadari lelaki tegap yang memanggilnya tadi.
"Hei, jangan pakai -si. Kalau digabung jadi nggak enak dengarnya," protes lelaki yang kini sudah berhadapan dengan Serena. Lelaki itu tertawa dengan cara anggun yang tidak pernah lepas dari sosoknya. Mereka berdua sedang duduk di gazebo fakultas bahasa dan sastra yang bernuansa coklat. Waktu seakan melompat ke masa lalu, saat mereka baru melepas seragam abu-abu. Berganti pakaian kasual yang pantas dikenakan saat menjalani perkuliahan. Jangan lupakan jas alamamater yang sering dikenakan saat ada bermacam kegiatan di kampus kesayangan. Kampus yang salah satu gazebonya saat ini mereka tempati.
"Apa kabar?" tanya Alan. Lelaki itu selalu berinisiatif untuk berbicara terlebih dahulu. Aura mendominasi yang menguar itu tetap dapat Serena rasakan. Sama seperti saat mereka bersama di organisasi kampus.
"Baik. Bagaimana denganmu?" Kaku gadis itu menanyakan kabar. Ada rasa rendah diri yang selalu muncul bila berdekatan dengan Alan, lelaki atletis dengan raut wajah tegas.
__ADS_1
"Papa Alan! Aku ambil daun yang sudah jatuh!" teriak seorang anak laki-laki yang kiranya berusia lima tahun. Ia tanpa canggung menghampiri dua anak adam yang sedang reuni itu sambil menunjukkan berlembar daun sewarna batang pohon pada Alan.
"Untuk apa daunnya?" tanya Alan. Bahkan lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Serena.
Orang ganteng, mah, bebas.
"Dibuang ke tempat sampah," jawab anak kecil tersebut yang kemudian berlalu meninggalkan kedua manusia dewasa tersebut.
"Itu... anakmu?" tanya gadis itu sambil menyiapkan hatinya. Patah lagi? Tapi, untuk apa? Toh selama ini ia tidak pernah berharap, bukan?
"Keponakan," jawab Alan sambil menepuk celananya yang sempat terkena debu dari daun kering tadi.
"Tapi... Papa Alan?"
Serena mengangguk pelan, mencoba mengerti keadaan si kecil tadi. "Oh, iya. Kamu ngapain di sini?"
Hening sejenak. Desau angin menghantarkan dingin karena disertai gemulung awan.
"Jalan-jalan," jawab Serena pada akhirnya, "mencari ide untuk cerita berikutnya." Perempuan itu mencoba menatap laki-laki di depannya meski rasa inferior itu masih mengada.
__ADS_1
"Kamu?"
"Ajak Kian jalan-jalan," jawab Alan, "mumpung libur."
"Libur? Di hari kerja?" tanya Serena lagi. Kali ini gadis berusia 26 tahun itu tidak lagi canggung berbincang dengan teman lamanya.
"Aku coach public speaking, pekerjaanku lebih banyak justru saat hari libur," jawab Alan sambil menjelaskan pekerjaannya. Serena bukan tidak mengetahui jenis pekerjaan temannya itu. Dengan bayaran puluhan juta rupiah, lelaki itu hanya bekerja dua jam. Sangat sesuai dengan sosoknya yang anggun dan menjadi role model bagi siapapun di bidang public speaking.
Tiba-tiba ada daun kecil yang menempel erat di dagu lelaki itu. Serena segera mengulurkan tangannya, menunjuk dagu menawan milik Alan.
--------------
Alan adalah seorang coach yang mapan di usia medio dua puluhan. Dengan ketampanan, materi, serta kecerdasan yang dimiliki, ia dapat memilih perempuan mana pun yang ia mau. Tapi tidak. Ia memiliki perasaan khusus pada gadis yang dulu kuliah bersamanya, Serena. Gadis manis yang menghilang dari lingkaran pertemanannya sejak kelulusan bertahun lalu.
Suatu hari, Alan berjalan-jalan di kampus. Tanpa sengaja ia bertemu dengan sosok yang selama ini dirindukan, Serena.
Pertemuan itu membuat Alan membangkitkan lagi perasaannya yang dahulu sangat memuja Serena. Hanya gadis itu yang menjadi tujuan hatinya. Namun, sikap tak acuh sang penulis membuatnya ragu.
Apakah mereka akan berakhir bersama? Atau kata cinta itu tak akan pernah terucapkan?
__ADS_1
Gimana? siap untuk next order?
Sebelum Renjanasa, Herryl ada info dulu. Kisah Herryl akan segera terbit! wow!