[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Mencinta Penjaga


__ADS_3

Maya mengambil ponsel di tasnya, mengabadikan momen langka berupa wajah tidur Herryl dengan kamera ponselnya.


"Ma, Pak. Maya sudah lulus," tulis Maya di layar percakapannya dengan mama dan bapak. Pesan itu kemudian ia kirim pada kedua orang tersayangnya selain Herryl. Sayang, ya?


"Ri, May sudah lulus," tulis Maya di layar percakapannya dengan Riana.


"Sidang kamu lancar? Selamat, ya. Nanti kita makan siang bareng, mau?" ajak Riana dalam balasannya.


"Nanti tanya Herryl dulu dia mau ikut atau nggak," jawab Maya.


"Herryl datang? Bukannya dia lanjut S2?"


"Dia pulang sebentar, kembali ke Inggris bulan depan."


"Oh, aku baru ingat siang ini ada janji dengan editor senior. Kamu makan sama Herryl, ya," tulis Riana lagi. Gunakanlah waktu kalian, May.


"Iya."


Maya tidak mendapat balasan lagi. Dibukanya galeri, mengecek foto-foto yang tersimpan. Banyak foto kiriman Herryl terkait Oxford. Jadi ingin ke Oxford. Setelah selesai, Maya menyimpan ponselnya lalu mengambil buku Memoar of Sherlock Holmes dari dalam tasnya. Ia mengisi waktu dengan membaca.


Maya baru membaca setengah dari novel itu ketika perutnya berbunyi. Ia melanjutkan bacaannya sampai belasan menit kemudian sebuah suara menghentikan kegiatannya.


"Kamu lapar?" tanya Herryl yang sudah bangun. Ia masih belum beranjak dari pangkuan Maya. Maya menyingkirkan bukunya.


"Iya. Kamu tahu dari mana?" tanya Maya. Herryl segera bangun.


"Perut kamu tadi. Yuk, makan," jawab Herryl kemudian.


"Eh, memangnya kamu sudah bangun?"


"Dari tadi."


"Ryl, sebentar," ujar Maya. Herryl duduk di sampingnya, menoleh lagi.


"Kenapa?"


"Kaki May kram," ujarnya lagi yang membuat Herryl tertawa kecil.


"Ya, sudah. Aku gendong, ya," usul Herryl yang dibalas dengan tatapan tajam Maya.


"Herryl."


"Biar romantis, May. Aku gendong ala bridal style, ya."

__ADS_1


"Nggak mau. Tunggu aja sebentar juga sembuh," ujar Maya.


"Maaf, ya, gara-gara aku," ucap Herryl sambil menepuk kepala Maya. Ia tersenyum lembut.


"Nggak apa-apa. Kamu, kan, capek," sahut Maya.


"Bikin tambah sayang."


"Herryl." Maya cemberut lagi karena ia masih merasakan kram tapi Herryl malah menggodanya.


"Iya, aku temani."


Setelah kakinya sudah tidak lagi kram, Maya membereskan perlengkapannya dibantu Herryl.


"Makan di rumah kamu, ya. Aku kangen masakan Bu Rini," pinta Herryl. Maya mengangguk. Mereka berdua bersisian menuju halte bus.


Sesampainya di rumah, Maya segera berganti pakaian sebelum akhirnya membawakan makanan ke ruang tamu.


"Maaf cuma ada kangkung sama tempe," ucap Maya. Herryl tersenyum lalu menepuk kepala Maya.


"Kangen sama masakan Indonesia," ucap Herryl. "Nanti waktu balik ke Oxford, aku mau bawa sambel," lanjutnya lagi.


Oxford ...


Maya menghentikan senyumnya. Ah, May baru ingat, Herryl masih harus ke Oxford lagi. Wajahnya mendung kembali.


"Aku masih sebulan di sini. Apa kamu mau nikah dulu?" tawar Herryl yang dijawab dengan tatapan tajam mata Maya.


"Herryl."


"Aku makan dulu," ujar Herryl cuek.


Ponsel Maya berdering sehingga ia pergi ke kamar untuk mengambil ponsel miliknya.


"Nduk, selamat, ya. Mama senang kamu sudah lulus. Sekarang kamu di mana?" ucap mama diakhiri pertanyaan.


"Terima kasih, Ma. May di rumah, Ma. Herryl minta makan masakan Mama katanya," jawab Maya.


"Lho, ada Nak Herryl? Iya, nggak apa-apa, makan saja. Mama kerja dulu, ya, Nduk," ucap mama sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.


Maya meletakkan ponselnya lalu keluar kamar. Dilihatnya Herryl sedang makan.


"Ayo, May. Makan. Kamu lapar, kan?" ajak Herryl.

__ADS_1


"Tapi ...."


"Mau kusuapi?" goda Herryl.


"Apa, sih? Kamu nggak lihat itu kangkung sudah pindah ke piringmu semua?" omel Maya berang. Herryl hanya memamerkan giginya.


"Maaf, maaf. Enak, sih. Kupesenin makan, ya, buat kamu," bujuk Herryl.


"Nggak usah. May mau masak aja," tolak Maya.


"Masak apa?"


"Masak air," jawabnya sambil berjalan ke dapur. Herryl tertawa mendengarnya.


Orang lain selesai sidang bisa langsung makan. May? Makanan May malah dihabiskan tamu jauh. Nasib.


Gadis itu kemudian mengiris tipis wortel, kol, dan daun bawang. Setelah itu ia campurkan telur dan sedikit tepung. Maya bukan penyuka asin sehingga ia hanya memberi sedikit garam dalam adonannya. Setelah minyak dalam penggorengan panas, gadis itu memasukkan adonan tadi. Tidak perlu menunggu lama untuk melihat masakannya matang.


"Baunya enak," ujar Herryl yang baru akan mencuci piring bekas makannya.


"Nggak boleh minta," sahut Maya mengingatkan. Herryl tertawa sambil mencuci piringnya. Maya sendiri baru melepas celemeknya. Gadis itu mengambil piring di rak untuk wadah telurnya.


"Kita kayak suami istri, ya," ucap Herryl sambil meletakkan piring di rak, membuat Maya terdiam karena punggungnya tak sengaja menempel pada dada Herryl yang menaruh piring. Debaran jantungnya tidak beraturan. Herryl kemudian keluar dari dapur terlebih dulu. Hampir saja.


Maya membawa telurnya ke ruang tamu. Nasinya tadi ia letakkan di sana.


"Okonomiyaki?" tanya Herryl saat melihat telur di piring Maya. Maya hanya mengedikkan bahunya. Herryl kemudian duduk mengamati gadisnya makan sampai selesai.


"Kamu nggak ada agenda lain?" tanya Maya setelah selesai makan. Herryl menggeleng.


"Aku pulang cuma untuk kamu. Agendaku ya cuma kamu," jawab Herryl.


"Bisa nggak ngomong biasa saja nggak pakai gombalan?" pinta Maya.


"Aku itu nggak ada niatan nggombal, May. Gimana lagi aku jelasinnya?"


"Tapi May mau istirahat, Ryl," ujar Maya.


"Tidur di kamar, sana. Kunci. Aku di sini jagain. Pintu depan juga kubuka, kok." Herryl menepuk kepala Maya.


Usul Herryl membuat Maya tersentuh. Herryl seolah ingin mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Maya menuruti usul Herryl kemudian membereskan alat makan.


Saat Maya di kamar, Herryl pun tidur di ruang tamu. Ia masih merasa lelah.

__ADS_1


...-bersambung-...


hai halo hai. Terima kasih, semua, sudah mengikuti kisah Maya dan Herryl sejauh ini. Kira-kira tadi Maya masak apa ya?


__ADS_2