[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
More Than Words


__ADS_3

Maya baru saja selesai membersihkan kamar mandi dan mencuci pakaian. Ia beristirahat sebentar untuk mengisi tenaga. Setelah ini ia masih harus membersihkan kaca jendela dan debu di dalam rumah. Begitulah kesehariannya jika di rumah. Hanya memasak yang tidak dilakukannya karena Mama selalu memasak untuk keluarga kecil mereka. Selesai pekerjaan rumah, Maya rencananya akan bersiap untuk ke sekolah, perpisahan klub karate. Maya memilih celana jeans sebetis yang tidak ketat di kakinya. Kaos hijau muda berkerah juga ia kenakan sebagai atasan. Mama berpesan agar sesantai apapun harus rapi dalam penampilan.


Sore ini Maya bertemu dengan teman-teman klub yang ia rindukan. Mau bagaimana lagi, selama ini ia terlalu fokus pada ujian dan tidak memiliki ponsel untuk mengetahui informasi terbaru terkait klub.


"May, sini," panggil Hardi. Maya menuruti ketuanya itu. Duduk di pinggir lapangan bersebelahan. Maya menahan degup jantungnya yang mengikuti rumus gerak tidak beraturan. Ah, bahkan rumus fisika masih kuingat, batin Maya.


"Belum mulai, Di?" Maya bertanya pada lelaki di sampingnya.


"Belum. Sensei belum datang," jawab Hardi sambil menggeleng pelan. Maya ber-oh ria kemudian membalas sapaan teman-teman lainnya yang duduk di dekat mereka. Kini mereka semua duduk membuat lingkaran di salah satu sisi lapangan. Tidak lama kemudian sensei datang dan Kak Andi membuka acara sampai akhirnya sensei berbicara.


"Saat ini kalian sudah memiliki cukup bekal untuk menghadapi kehidupan di luar sekolah. Kuatkan jiwa kalian supaya pertahanan diri kalian maksimal dalam menghadapi berbagai masalah. Semoga cita-cita kalian tercapai. Ingat, karate bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk bertahan." Sedikit dari sekian petuah Sensei Iksan mereka dengarkan. Acara berlanjut dengan makan-makan dan pemberian hadiah sebagai kenang-kenangan pada kelas 3 lalu diakhiri dengan makan bersama.


Maya dan Hardi masih duduk di sisi lapangan sementara anggota klub lainnya sudah pulang. Hanya beberapa siswa berlalu lalang di sekitar mereka. Sepertinya itu klub lain.


"May, aku berencana akan pergi ke Jepang untuk kuliah," ucap Hardi.


Mendengar itu, Maya menoleh. Pergi? Ke Jepang?


"Teknik Lingkungan di Tohoku sepertinya bagus," ucap Hardi. Sepertinya ia ingin mendekat dengan leluhurnya. Maya kembali melihat ke lapangan. Masih belum berani menatap lama lelaki di sampingnya.


"Tapi bukannya Kyushu University sudah berhasil dalam praktiknya, membersihkan sungai Kitakyushu dari tidak layak sampai jadi akuarium air tawar?" Komentar Maya mencoba mengusulkan kampus lain di Jepang.


"Hmm, boleh juga. Aku akan mencoba tes di kedua tempat itu. Terima kasih, May," sahut Hardi. Ia makin kagum dengan keluasan wawasan yang Maya miliki meski gadis itu tidak memiliki akses internet di rumahnya. Ponsel saja belum punya.


"Sama-sama," jawab Maya pelan. Kembali ia memeluk lututnya.


"May. Daisuki dayo," ucap Hardi. Maya menoleh, menatap sebentar wajah keturunan Jepang yang tersenyum manis itu. Maya bukan tidak mengerti arti ucapan Hardi. Hanya saja ia tidak menyangka akan mendengar ungkapan perasaan dari lelaki yang disukainya. Maya merasakan degup jantungnya sangat cepat seolah memompa darah ke wajahnya sehingga ia rasakan mukanya panas, memerah.


Bagaimana dengan Hardi? Meski merasa lega, ia juga merasakan degup jantungnya tidak beraturan. Mereka biarkan angin mengisi keheningan di antara keduanya.


"Aku nggak minta jawaban kamu, May. Aku cuma ingin nggak menyesal sebelum pergi ke Jepang," lanjut Hardi akhirnya, setelah ia berhasil menguasai dirinya.


"Aku duluan. Kamu jangan pulang terlalu malam, ya," pesan Hardi yang kemudian menepuk puncak kepala Maya lalu berdiri dan berjalan menuju gerbang.

__ADS_1


Maya masih berusaha menenangkan dirinya, meredakan degup jantungnya yang sangat cepat. Tapi ada sedih juga di hatinya mengetahui Hardi akan ke Jepang meninggalkannya. Setelah Adrian, sekarang Hardi. Lalu siapa lagi? Perlahan air mata menitik di pipinya.


TEPP!


Maya berjengit karena pipinya merasa dingin ditempel sesuatu. Saat ia menoleh, dilihatnya Herryl memegang kaleng biru minuman isotonik.


"Nih, minum," ucap Herryl sambil tersenyum. Tangannya menyodorkan kaleng minuman berlisensi Jepang itu pada Maya kemudian ia duduk di depan Maya.


"Eh? Kok duduk di situ?" Maya bertanya karena tumben sekali posisi Herryl di depannya.


"Nih, pakai seragamku kalau mau nangis," jawab Herryl sambil menyodorkan punggungnya. Herryl memang melepas kancing kemejanya sehingga menggantung bebas. Sebagai dalaman ia memakai kaos berbahan katun.


"Hardi mau ke Jepang. Dia tadi bilang suka," cerita Maya sambil meraih ujung kemeja Herryl kemudian mengarahkan ke hidungnya sambil terisak.


SROOT!!


"Hei! Nggak ada orang ngelap ingus pakai kemeja!" Panik Herryl berteriak.


Maya malah terus menangis sehingga membuat Herryl duduk diam. Butuh beberapa menit untuk Maya agar berhenti menangis. Gadis itu meletakkan kaleng minumannya dan meraih ujung kemeja Herryl.


"Apa? Jangan, May. Jangan di sini," elak Herryl semakin panik. Anak ini kalau sedih malah kacau, ya?


"May cuci di wastafel," lanjut May pada akhirnya. Ia merasa bersalah sudah mengotori kemeja Herryl yang tidak bersalah kali ini.


"Oh, itu. Iya," jawab Herryl menurut dan membuka kemejanya. Maya langsung berdiri dan menuju wastafel sambil membawa kemeja yang sudah diserahkan oleh Herryl.


Sekolah semakin sepi, sementara Herryl masih duduk di tempatnya sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia malu dengan kesalahpahaman tadi. Kok bisa-bisanya, sih?


Maya selesai mengucek bagian kemeja Herryl yang kotor karena ulahnya. Ia segera kembali ke tempat Herryl membawa kemeja tersebut.


"Nih, terima kasih untuk tadi," ujar Maya sambil menyodorkan kemejanya.


"Lho, sekalian, dong, cuciin," elak Herryl, ia tidak menerima kemeja itu sehingga Maya masih memegang kemejanya.

__ADS_1


"May sudah tanggung jawab di bagian May. Selebihnya tanggung jawab kamu," sahut Maya sambil menyodorkan kemeja itu lagi.


"Nggak mau, harus kamu cuciin bajunya," kata Herryl lagi sambil menghindar. Ia berlari sambil membawa kaleng minuman mereka berdua. Untunglah tasnya sudah ia pakai jadi tidak merepotkan saat berlari.


"Herryl!" Maya memanggil lelaki itu sambil mengejarnya. Mau tidak mau mereka berkejaran lagi sampai keluar gerbang, dan berhenti saat akan menyeberang jalan.


"Ryl, ini. May buang nih kalau nggak mau bawa pulang," ancam Maya akhirnya.


"Buang aja, nanti kamu ganti yang baru tapi," sahut Herryl tidak mau kalah.


Mata Maya membulat demi mendengar itu. Tetap saja, May yang rugi. Sambil mencebik, dirapikannya kemeja itu untuk kemudian ia bawa pulang. Pada akhirnya Maya harus mencucikan kemeja Herryl.


Melihat Maya sudah memasukkan kemeja ke dalam tas plastiknya, Herryl mendekat.


"Nih, minum," perintah Herryl sambil menyodorkan kaleng minuman yang tadi belum sempat Maya minum.


Maya menerimanya dan duduk di halte sambil menenggak habis minuman tersebut. Herryl masih setia menemani gadis itu.


"Setelah Hardi pergi, siapa lagi yang mau pergi?" keluh Maya sambil memegang kaleng minuman kosong. Herryl mengambil kaleng tersebut lalu membuangnya di tempat sampah yang ada di halte tersebut.


"May, kamu punya cita-cita, kan? Begitu juga Hardi. Dia pasti punya cita-cita. Kita sebagai teman baiknya cuma bisa mendukung, mendoakan. Kamu bisa, kan, ciptakan teman baru di kampus nanti?" nasehat Herryl.


"Tapi kenapa dia harus bilang suka kalau dia mau pergi?" tanya Maya pada angin di depannya.


"Untuk melegakan hatinya," jawab Herryl akhirnya. Mendengar itu, Maya menoleh.


"Eh?"


"Ya. Hardi sama sepertiku, May. Mungkin juga sama seperti yang lainnya, termasuk kamu. Akan merasa lega ketika kita mengungkapkan perasaan kita. Apapun hasilnya, yang penting kita sudah mencoba." Herryl menjelaskan.


Maya terdiam. Mungkin benar kata Herryl.


"Pulang, yuk," ajak Herryl ketika melihat langit semakin gelap. Lelaki itu menepuk puncak kepala Maya. Maya kemudian berdiri dan mereka berjalan bersisian.

__ADS_1


...-bersambung-...


Hai, halo hai. Sudah update, nih. Akhirnya Hardi ungkap perasaannya. See ya di next chapter...


__ADS_2