![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Hari ini Maya dan Dahlia mencari nasi goreng kesukaan Dahlia. Malam ini Maya menemani Rahmat untuk lembur. Dahlia juga membawa pekerjaannya untuk menemani suaminya. Sebagai penulis freelance, Dahlia bisa mengerjakan tugasnya dari mana saja.
Selesai membeli nasi goreng, keduanya berjalan kaki untuk kembali ke kantor.
"Wah, malem-malem jalan, neng? Abang temenin, ya," goda seorang pemuda tanggung yang datang entah dari mana. Jalanan lumayan sepi saat itu karena memang ini bukan jalan utama. Dahlia merapat ke arah Maya. Maya langsung memasang sikap waspada. Pemuda tanggung itu berjumlah dua orang. Seorang kepalanya plontos dan seorang lagi rambutnya keriting.
"Kami mau lewat," ujar Maya di depan pemuda tersebut. Bukannya menyingkir, pemuda plontos itu malah menyeringai.
"Galak amat, neng. Abang cuma mau main sebentar," godanya.
Si keriting malah menyentuh bahu Maya yang segera ditepis tangan gadis itu.
"May ...," panggil Dahlia ketakutan.
"Mundur, Kak. Biar May aja," ujar Maya seraya menyiapkan kuda-kuda. Kaki kirinya sudah sedikit menekuk di depan.
"Ayo, Neng," goda si plontos sambil mendekat.
DUAKK!! DUAKK!!
"ARGH!!"
Maya bergerak cepat menendang wajah dan perut si plontos yang membuatnya pingsan seketika. Si keriting yang melihat itu segera lari.
"Maya nggak apa-apa?" tanya Dahlia.
"Nggak apa-apa, Kak. Ayo kita ke kantor," ajak Maya. Mereka berjalan cepat agar segera sampai.
Telepon Maya berbunyi. Herryl. Tumben. Maya menggeser layar untuk menerima telepon.
"May, di ma-awas belakang!" teriak Herryl di layar ponselnya. Maya masih sempat menghindar sehingga hanya tangannya yang terkena pisau.
Tepat ketika Maya menerima telepon, si keriting membawa temannya yang lebih kuat sepertinya. Ia tadi mengarahkan pisau ke punggung Maya yang sempat ditangkis dan hanya mengenai lengan Maya. Seketika Maya memutus sambungan telepon agar bisa fokus menghadapi dua berandal.
"Lari, Kak!" perintah Maya yang dituruti oleh Dahlia.
"Lukanya Abang cium juga sembuh, Neng," goda si keriting tadi.
"Herryl aja nggak berani ngomong sampah kayak kamu! Hiyaaaa!!" omel Maya sambil meninju wajah dan bibir si keriting kemudian melakukan tendangan cangkul mengenai tengkuk musuhnya. Seketika itu juga si keriting terjatuh ke aspal.
Maya masih bersiaga karena di depannya ada satu lagi berandal.
__ADS_1
"Berhenti! Ada apa ini?" perintah sekuriti kantor yang berlari, segera mendekati dan mengamankan berandal yang tersisa.
"Terima kasih, Pak Rudi," ucap Maya pada sekuriti Metal Estate yang datang bersama Dania.
"May! Kamu berdarah!" pekik Dahlia.
Maya mengamati tangannya. Baru terasa sakit di sana. Perih.
"Darahnya nggak berhenti. Kita ke klinik, May," ajak Dahlia lagi.
"Kami antar, May. Sebentar aku pinjam mobil kantor," lanjut Rahmat. Maya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah di klinik terdekat dari kantor. Maya sedang ditangani oleh dokter ketika ponselnya berbunyi untuk ke sekian kalinya. Tadi saat berkelahi gadis itu tidak menggubris dering telepon. Kini setelah meminta izin dokter, ia menerima panggilan tersebut.
"Ya."
"May. Gimana kondisimu?" Herryl panik, terdengar dari nada suaranya.
"Aman, kok. Makasih, ya, tadi."
"Makasih katamu? Itu bahaya banget, May. Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Iya, nggak apa-apa. Cuma luka di tangan."
"Nggak usah, Ryl."
"Apa yang nggak usah? Gadis yang kusayang terluka dan aku cuma diam saja?"
Kalimat terakhir Herryl membuat Maya berdebar.
"May sudah berobat, kok."
"Berobat di mana?"
"Klinik. Kak Dahlia sama Pak Rahmat yang antar. Ini lagi dijahit," jawab Maya santai.
"Jahit!?" Kepanikan Herryl membuat Maya harus menjauhkan sedikit ponselnya.
"Berisik. May tutup, nih," ancam Maya.
"Jangan. Tapi sampai dijahit, May."
__ADS_1
"Iya, sedikit, kok. Cuma tujuh jahitan kata dokter."
"Tujuh kamu bilang cuma!? May, aku mau pulang."
"Nggak usah berlebihan, deh, Ryl. Ini sudah selesai."
"Tapi aku nggak bisa tenang, May."
"Terus kalau kamu pulang, mau ngapain? Mau bikin marah Om Ardhi? Terus akhirnya nggak jadi nikah, begitu?"
"Jangan, May. Aku mau nikah sama kamu."
"Ya, sudah. Diam di sana. Fokus sama disertasi kamu aja." Maya memberi nasehat setelah dokter melilitkan perban.
"Iya, deh. Kamu kabari aku perkembangan kamu, ya."
"Iya. Sudah dulu teleponnya, May mau ke kasir."
"Iya, hati-hati May," sahut Herryl lirih. Maya memutus sambungan teleponnya.
"Maaf, Dok, kalau saya tadi berisik," ujar Maya meminta maaf.
"Nggak apa-apa, Mbak. Malah saya senang karena Mbak Maya begitu tenang saat kami obati. Sekarang Mbak istirahat dulu semalam di sini. Semoga lekas sembuh, Mbak," jawab Dokter Tania ditambah anggukan dari suster di sampingnya.
"Terima kasih, Dok."
"Kamu istirahat, aku ke kasir dulu, ya," ujar Dahlia yang dijawab anggukan oleh Maya.
"Terima kasih, Kak," ujar Maya.
Keluar ruang tindakan, Dahlia segera menuju kasir. Rahmat segera menghampiri Dahlia untuk membayar biayanya. Setelah dari kasir, Rahmat dan Dahlia kembali ke ruang UGD.
"May, terima kasih sudah menolong Dahlia," ujar Rahmat. Maya mengangguk.
"Nggak nyangka saya, kamu bisa bela diri," ujar Rahmat lagi.
"Maaf, Pak, saya belum bisa lembur malam ini." Maya meminta maaf atas kondisinya.
"Nggak apa-apa. Kami besok antar kamu pulang, ya. Sekarang kamu istirahat saja," jawab Rahmat.
"Iya, May. Kamu istirahat saja," sahut Dahlia. Maya mengangguk dan berterima kasih.
__ADS_1
...-bersambung-...
Cepat sembuh, Mayaaa. Kemarin Herryl yang kecelakaan. Sekarang Maya. Teman-teman jaga kesehatan selalu, yaaa.