[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
I Lay My Love on You


__ADS_3

"Keras kepala banget, sih. Heran, kok aku bisa suka sama cewek keras begini?" Gerutu Herryl yang membuat Maya terdiam sejenak.


"Suka?" Maya memastikan pendengarannya tidak salah.


Herryl gugup begitu menyadari dirinya kelepasan bicara. Syukurlah makanan mereka sudah datang sehingga Herryl bisa menenangkan dirinya sambil makan. Mereka berdua makan dalam diam. Maya tanpa ragu memakan hidangan di hadapannya.


"Cepat juga," komentar Herryl selesai mereka makan.


"Iya. Ada banyak hal yang harus dikerjakan dengan waktu yang ada," jawab Maya menyahuti. Herryl tersenyum mendengarnya. Apa adanya tanpa merasa perlu jaga imej di depan laki-laki. That's you.


"Ryl, tadi kamu bilang...?" tanya Maya lagi. Herryl tersenyum kemudian mencondongkan badannya, mendekat ke arah Maya. Sementara tangannya menggenggam lembut tangan gadis di hadapannya, membuat Maya terkejut tapi tidak menghindar. Kali ini ia merasa akan baik-baik saja meski Herryl menggenggam tangannya.


"Ya. Aku suka kamu, May. Aku nggak bisa memikirkan perempuan lain selain kamu. Mungkin menurutmu pengakuanku klise, tapi aku selalu mencari cara agar kamu melihat ke arahku," jawab Herryl. Tatapan mata lembut yang menenangkan itu Maya dapatkan. Maya terdiam agak lama sebelum akhirnya berbicara.


"Terima kasih, Ryl, sudah mau jujur. Tapi, maaf, May nggak bisa. Kita baru kenal, kan? Apa semudah itu kamu suka sama orang?" jawab Maya menolak. Herryl tidak melepaskan genggamannya. Andai Maya tahu bahwa Herryl menyukainya sejak kecil.


"Kita nggak bisa milih untuk kapan suka sama siapa, May." argumen Herryl lagi.


"Ryl, apa kita sedang mendiskusikan statemen May?" Maya kembali bertanya.


"Bukan begitu," jawab Herryl lagi. Maya menghela nafas mendengarnya.


"Lagipula..." Maya terdiam lagi.


"Lagipula?" Herryl kembali bertanya. Dilihatnya Maya menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Lagipula... Ryl, May bukan mau jual mahal. May cuma merasa belum waktunya May berpacaran. May masih ingin mencapai cita-cita May, membahagiakan Mama dan Bapak. Maaf kalau ini egois. May hanya ingin menikah saat pencapaian May sudah sesuai dengan cita-cita," ucap Maya kembali. Mendengar itu, Herryl tersenyum dan mengusap kepala Maya.

__ADS_1


"Seperti yang diharapkan dari seorang juara sekolah bernama Maya. Bahkan, kamu udah mikirin nikah. Maaf kalau mengganggumu dengan pernyataan sukaku," sahut Herryl. Genggaman tangannya masih belum lepas. Ia ingin kuat mendengar jawaban Maya yang sebenarnya sudah ia duga. Salahnya juga keceplosan. Andai ia dapat memutar waktu, ia ingin menghentikan ucapannya tentang suka itu. Sesiap apapun dirinya, nyatanya ia belum siap mendengar penolakan Maya.


Bagaimana dengan Maya? Jantungnya berdebar lebih cepat mendengar pernyataan Herryl. Bagaimanapun ia adalah seorang gadis yang bahagia bila ada lelaki yang menyukainya. Lagi-lagi, ia harus menahan diri agar tidak merusak impiannya. Belum waktunya ia memadu kasih.


"Sebentar aku ke kasir dulu, kuantar pulang. Bagaimanapun, kamu itu tanggung jawabku pada Bu Rini," ucap Herryl setelah berhasil menguasai dirinya. Dilepasnya genggaman tangan pada Maya. Ia berdiri dengan iringan tatapan mata Maya.


"Terima kasih, Ryl," ucap Maya begitu mereka sampai di depan rumah kedua orang tua Maya. Dilihatnya Herryl mengangguk kemudian pamit. Maya menatap punggung Herryl yang menjauh. Setelah Herryl tak terlihat lagi, Maya masuk ke dalam rumah. Mama dan Bapak belum pulang sehingga ia hanya sendiri.


Maya berganti pakaian dan duduk di tempat tidurnya. Ia menitikkan air mata yang sejak tadi ditahannya. Ada rasa bahagia bercampur sedih dalam hatinya. Maya sendiri tidak mengerti bisa ada dua perasaan bersamaan saat ia menangis. Yang ia tahu hanya menangis sampai tertidur.


Hari sudah malam saat Maya terbangun dan terdengar suara Mama seperti sedang berbincang. Bapak sudah pulang juga? Maya segera keluar kamar dan mendapati Mama dan Bapak mengobrol sambil makan martabak telur.


"Sini, Nduk. Bapak bawa martabak telur," ajak Mama. Maya menurut dan ikut menikmati cemilan khusus malam minggu.


"Ma, Pak. Dulu Mama Bapak pacarannya gimana?" Maya bertanya setelah menghabiskan sepotong martabak. Mendengar pertanyaan putrinya, kedua orang tua itu tersenyum.


"Dia sudah nembung ke Mama, Nduk. Tapi Mama serahkan semua ke kamu. Kalau Mama dan Bapak dulu nggak pacaran, Nduk. Bapak suka, langsung nembung ke Mbah. Mama jawab iya dan kami nikah. Pacarannya kami setelah menikah, Nduk," lanjut Mama menceritakan sambil bernostalgia.


What? Herryl sudah bilang duluan ke Mama? Kapan? Duh, mau ditaruh mana muka May? Maya membatin.


"May sudah nolak, Ma. May mau fokus sama cita-cita. Pengen bahagiain Mama Bapak," ucap Maya yang diiringi pelukan dari Mama.


"Iya, Mama Bapak senang kamu semangat sama cita-citamu, yang penting kalian ngomong baik-baik. Jangan sampai bikin orang sakit hati, ya, Nduk. Ikuti kata hatimu, itu yang selalu Mbah pesan ke Mama," sambung Mama.


"Iya, Nduk. Ayo dimakan lagi martabaknya. Kalau Bapak sih sebenarnya suka sama Herryl," ucap Bapak sambil tertawa.


"Bapak emangnya kenal sama Herryl?" Maya menggerutu. Kadang Bapaknya suka menggoda Maya.

__ADS_1


"Tadi di jalan ketemu. Baru pulang ngajar katanya," jawab Bapak seolah itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan.


"Pasti Bapak kenal sebelumnya, kan? Nggak mungkin Bapak kenal Herryl begitu aja tadi," selidik Maya.


"Herryl, kan, anak teman Bos Bapak, Nduk. Tapi dia sering kumpul sama anak-anak kampung sini, ikut siskamling. Waktu kecil katanya sekolah di luar kota, baru ke sini lagi pas SMA." Bapak menjabarkan siapa Herryl yang dikenalnya.


"Apa?" Maya terkejut mendengarnya. Jadi Herryl selama ini sudah mengenalnya? Maya membatin.


"Kamu, kan, cuma di rumah, Nduk. Wajar kalau nggak tahu. Yang penting, kamu bahagia sama pilihanmu, Nduk. Bapak Mama hanya bisa mendoakan," ucap Bapak menenangkan Maya.


Maya kembali mengunyah martabak yang ada di tangannya. Terbayang kembali kejadian tadi di meja makan resto bersama Herryl, juga percakapan mereka. Mendadak pipinya memerah saat mengingat kejadian tadi. Herryl tidak melepas tangannya walau sekejap mata.


"Sudah, masuk kamar sana. Daripada bengong di sini mikirin Herryl," goda Bapak diselingi tawa.


"Apa, sih, Bapak," elak Maya gugup karena tertangkap basah sedang melamun. Dibawanya martabak yang tersisa ke kamar.


"Lho, martabaknyaaa," komentar Bapak yang baru saja akan mengambil potongan martabak lagi. Mama tertawa melihat raut wajah Bapak dan tingkah Maya yang tetap masuk ke kamar.


Di dalam kamar, Maya hanya diam menatap martabak yang ia bawa. Ia masih terpikir akan kejadian hari ini dan perasaannya sendiri.


...***...


Herryl baru saja sampai di rumah. Ada rasa sedikit ringan di dadanya setelah ia mengungkapkan perasaannya. Tapi, rasa kecewa itu tidak dapat dipungkiri muncul ketika ia mendengar penolakan Maya. Apakah sebenarnya Maya tidak menyukainya? Atau... Maya menyukai Hardi seperti dugaannya selama ini? Apakah Maya benar-benar ingin fokus pada cita-citanya? Herryl memiliki begitu banyak pertanyaan yang membuatnya tidak begitu bersemangat makan.


...-bersambung-...


Kira-kira Maya jadian nggak ya sama Herryl? Atau Maya pilih Hardi?

__ADS_1


__ADS_2