![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Bagus sekali. Nanti kalau sudah jadi akan seperti ini?" tanya Rony pagi itu di ruangan pertemuan. Matanya takjub melihat maket yang dibawa oleh Hadi dan timnya.
"Kami usahakan seperti ini, Pak," jawab Hadi. "Ini juga proyek impian kami, maka akan kami berikan yang terbaik dari kami demi terwujudnya proyek ini," lanjut lelaki itu mewakili teman-temannya.
"Saya setuju. Metal Energi juga tidak salah telah menyetujui proposal teman-teman." sahut Rony.
...***...
Maya tidak dapat tidur dengan mudahnya. Besok adalah sidang skripsinya. Sudah lebih dari satu bulan sejak pembuatan maket. Artinya skripsinya juga sudah mengendap sekitar satu bulan.
Kalau besok berhasil, berarti tinggal kuliah profesi sambil mengerjakan proyek.
...***...
Pagi ini Maya sudah siap dengan kemeja putih dan celana hitam. Tak lupa ia memakai jas almamater biru miliknya. Penampilan hari ini adalah yang terbaik yang harus ia tunjukkan.
Bapak ikut mengantar karena Maya membawa maket. Juga merupakan hari penting untuk putrinya.
"Sebentar lagi lulus, ya, Nduk," ujar Bapak sambil menyetir. Maya di sampingnya tersenyum menanggapi.
"Doakan, ya, Pak."
"Bapak mama selalu mendoakan, Nduk. Rasanya baru kemarin Bapak gandeng tangan kamu ke playgroup. Hari ini sudah mau jadi sarjana."
Hubungan antara ayah dan anak perempuannya selalu menjadi kedekatan yang sangat istimewa. Tidak jarang anak perempuan menganggap ayah adalah cinta pertamanya, atau kalau mencari pendamping cirinya seperti sang ayah. Begitu pula dengan Maya dan Bapak, lelaki yang selalu menjadi panutan Maya dalam berbagai tindakannya.
"Terima kasih, ya, Pak. Sampai saat ini selalu mendukung Maya," ucap Maya yang ditanggapi senyum oleh bapak.
__ADS_1
Mobil Pak Wimono sudah sampai di depan gedung jurusan Teknik Sipil. Maya menyalami tangan Bapak takzim sebelum kemudian mengeluarkan maket di bagasi.
"Hati-hati, Nduk. Semoga lancar," pesan bapak yang ditanggapi anggukan mengiyakan dari Maya.
Maya bergegas ke koridor jurusannya, menuju ruang sidang untuk menunggu gilirannya.
"May, sini gue bantu," ucap Edwin sambil menyambut temannya. Maket itu bersama mereka letakkan di dalam wadah kaca yang bisa dibuka tutup.
"Terima kasih," ucap Maya setelah mereka selesai meletakkan maket.
"Lo setelah Randi, kan?" tanya Edwin memastikan dan dijawab anggukan oleh Maya. "Ya, udah. Lo duduk dulu sama yang lain." Edwin yang merupakan ketua angkatan memberi arahan untuk temannya itu.
Maya berjalan menuju kursi panjang di depan ruangan yang menjadi ruang sidang.
Setelah menunggu selama 1 jam, Maya melihat Randi keluar dari ruang sidang. Lelaki itu tersenyum saat teman-teman berdiri. Ada yang memukul bahunya, memeluk. Maya berdiri di depannya.
Maya diberi kesempatan mempresentasikan skripsinya sebelum akhirnya keempat dosen penguji mengajukan berbagai pertanyaan.
"Saudari Maya, mengapa Anda membuat perencanaan struktur yang kompleks seperti ini?" tanya Pak Irwanto, dosen senior.
"Saya ingin mengajak warga untuk menjaga kebersihan, Pak, sekaligus memberdayakan mereka sehingga memiliki pekerjaan," jawab Maya.
"Saudari Maya Anggraini, bisa Anda sebutkan warna sampul buku metode penelitian Wesli yang Anda gunakan?" tanya Bu Herawati, salah satu dosen penguji.
Maya terkesiap ditanyai hal seunik itu. Namun, ia mengingat aturan untuk tidak terlihat gugup atau terkejut saat sidang.
"Orange, Bu," jawab Maya. Dilihatnya Bu Hera tersenyum kemudian mengangguk. Kemudian Maya diminta duduk terlebih dahulu, di tengah ruangan layaknya pesakitan. Gadis itu memang sedang mempertanggungjawabkan skripsinya.
__ADS_1
Setelah menunggu begitu lama menurut Maya, padahal tidak lebih dari 15 menit, Pak Irwanto memanggil namanya. Maya kemudian berdiri.
"Saudari Maya Anggraini, berdasarkan hasil sidang hari ini, kami nyatakan Anda lulus dengan beberapa revisi. Selamat," ucap lelaki necis dengan uban yang memenuhi kepalanya tersebut.
Ada hangat di dalam hati gadis berjas almamater biru itu. Pelupuk matanya sudah mulai membasah. Bu Herawati bahkan sampai menghampirinya.
"Selamat, Maya. Proyekmu mengharumkan nama kampus. Semoga berhasil," ucap Bu Herawati sambil menjabat tangan Maya. Maya berterima kasih kemudian menghampiri meja dosen penguji lainnya, menyalami takzim para pendidiknya sehingga ia bisa melalui jenjang pendidikan saat ini.
Setelah selesai, gadis itu keluar ruangan. Di depan ruangan sudah berkumpul teman-teman yang memberi ucapan selamat.
Itu ....
Maya melihat seperti ada sosok laki-laki di depannya, dibatasi oleh barisan teman-temannya.
Lelaki itu tersenyum.
"May, selamat, ya," ujar sosok itu.
"Ryl ...." Maya tercekat setelah menyebut sebuah nama.
Bahkan May berhalusinasi dia datang saat ini, batin May. Maya tersenyum sambil menghampiri sosok itu. May sampai melihat teman May sebagai Herryl. Mungkin May setelah ini perlu ke psikiater, memeriksa kejiwaan May.
...-bersambung-...
Hai halo hai temans. Maya sudah selesai sidangnya. terima kasih, ya, sudah mengikuti kisah Maya dan Herryl sampai saat ini.
Maya halu terus, ya, jadinya?
__ADS_1