[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Seperti Musim yang Meluap


__ADS_3

Hardi baru saja selesai berkirim pesan dengan Herryl.


^^^[Tadi Maya kenapa?]^^^


[Biasa, ngambek. Aku juga emosi.]


^^^[Tumben.]^^^


[Iya, nih.]


Hardi menghela nafas. Bagaimanapun, Herryl adalah remaja yang bisa tersulut emosinya. Apalagi, selama ini ia lihat Herryl sudah sangat bersabar menghadapi Maya. Kenapa harus Maya, sih, Ryl?


Berkelebat kilasan kejadian tadi siang. Ia baru saja kembali dari kantin saat melihat Maya berlari dari arah lapangan. Baru saja ia ingin menghampiri gadis itu, sudah ada Herryl yang mengejar. Dilihatnya mereka berdua berdiri agak lama dan Maya berjalan cepat keluar gerbang. Tak luput juga dari pandangannya Herryl meninju dinding.


Sudah saatnyakah Herryl melepas Maya? Hardi bertanya dalam hati. Dilihatnya lagi sahabat kecilnya itu berbalik menuju koperasi dan tidak lama kemudian berlari keluar gerbang. Mengejar Maya?


"Di, belum pulang?" Riana menyapa. Mereka berpapasan ketika Hardi sedang menuju koperasi.


"Iya, masih ada pertemuan klub karate," jawab Hardi. Sebagai ketua, ia harus mendampingi adik-adik kelasnya meski untuk kelas 3 kegiatan klub dihentikan sementara waktu. Tentu tujuannya agar fokus dengan ujian.


"Oh, gitu," ucap Riana menanggapi.


"Nggak pulang bareng Maya?" tanya Hardi.


"Tadinya mau bareng. Tapi Maya tadi..." jawab Riana menggantung. Dilihatnya Hardi mengangguk, menyampaikan bahwa ia mengerti yang terjadi.


"Baru kali ini lihat Herryl marah. Serem," komentar Riana. Hardi mengerutkan alisnya kemudian meminta Riana menceritakan kronologinya.


"Maya tumben nggak cuek," komentar Hardi. Riana mengedikkan bahunya.


...***...


"May," sapa Riana yang baru datang pada teman sebangkunya itu.


"Ri, maaf, ya, kemarin May duluan," ucap Maya menyesal. Riana mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu baik-baik saja, kan, tapi?" Riana bertanya khawatir.


"Iya," jawab Maya sambil tersenyum. "Nanti kita latihan, kan?" tanya Maya memastikan. Riana mengangguk.


Urusan Inggrid sudah selesai dan mereka berlatih seperti biasa. Herryl sering mengecek dan membawakan mereka minum.

__ADS_1


...***...


Hari ini adalah waktu pengambilan nilai olahraga. Maya sudah siap karena sudah berlatih sepekan terakhir. Seluruh siswa kelas 3-7 antre, menunggu nama mereka dipanggil untuk pengambilan nilai. Hingga tiba waktunya nama Maya dipanggil.


Maya berdiri dan berjalan ke titik penilaian. Inggrid sebagai asisten Pak Gunawan telah siap dengan bola volinya. Pak Gunawan? Juga siap dengan lembar penilaian.


"Servis," perintah Pak Gunawan. Inggrid menyerahkan bola di tangannya pada Maya kemudian Maya mengambil posisi untuk melakukan servis. Bola voli putih itu diletakkan di tangan kiri sebelum tangan kanan Maya berayun dan melambungkan bola dengan pukulannya.


"Passing," perintah Pak Gunawan lagi. Inggrid menunggu Maya siap untuk melakukan passing saat bola voli mengarah padanya. Bola voli itu melambung ke arah Maya untuk kemudian ditangkis dengan kedua tangannya. Begitu terus mengikuti perintah Pak Gunawan.


Setelah seluruh siswa menjalani ujian praktik, saatnya Pak Gunawan mengumumkan nilai mereka untuk mengetahui siapa saja yang perlu mengikuti ujian ulang.


"Baik, kelas ini tidak ada yang mengulang, ya," ujar Pak Gunawan di depan barisan siswa kelas 3-7. Terdengar sebagian siswa bersorak. Wajar, bukan, kita bahagia kalau mendapat kabar baik?


"Sekarang kalian boleh main bebas sampai waktu olahraga habis. Baik, terima kasih atas kerjasama kalian, anak-anak," ujar Pak Gunawan mengumumkan. Maya duduk beristirahat bersama Riana. Pak Gunawan menghampirinya.


"Maya, saya bangga dengan peningkatan kemampuan kamu di voli. Herryl memang baik, mengajari pacarnya voli," ucap Pak Gunawan bangga. Riana menyenggol Maya, memberi kode.


Maya mengerutkan alisnya. Pak Gunawan kok halu begini, sih? Maya membatin. Di samping mereka, tidak jauh dari Pak.Gunawan, matanya menangkap sosok yang dibicarakan oleh Pak Gunawan sedang memegangi perutnya sambil tertawa. Herryl!


"Maaf, permisi sebentar, Pak," ucap Maya sambil berdiri dan mendekati Herryl yang masih tertawa.


Tumben Maya senyum gitu? Apa dia senang, ya? Batin Herryl sambil ikut tersenyum memandangi Maya yang berjalan ke arahnya.


"Aduh!" keluh Herryl memegangi kepalanya yang baru saja dijitak oleh Maya.


"Puas kamu ngetawain May? Kamu ngomong apa ke Pak Gunawan sampai beliau salah paham gitu?" omel Maya diiringi tatapan tajam.


"Ya ampun, dia marah lagi," keluh Herryl lagi. Maya tidak lama diam di sampingnya karena ia kembali ke lapangan, bersama yang lain. Selesai jam pelajaran olahraga, seluruh siswa berganti pakaian seragam.


"May, dua hari lagi kita ujian praktik Memasak. Kamu sudah kepikiran mau bikin apa?" Riana bertanya sambil melipat seragam olahraganya.


"Cah kangkung sama tempe," jawab Maya. Dia tidak pernah belajar membuat panganan seperti teman-temannya: spagheti, pizza, macaroni schotel, atau panganan lain yang asing dan bahannya mahal bagi kantong Maya.


"Lo yakin mau masak itu?" tanya Rima yang tidak sengaja mendengar.


"Mau bagaimana lagi, May bisanya masak itu," jawab Maya.


...***...


"Besok kelas gue ujian masak, sama kayak kelas lo, Rima," ujar Thalita saat mereka sedang berkumpul di kafe.

__ADS_1


"Iya. Mau masak apa, Ta?" tanya Rima. Thalita dikenal suka membuat makanan khas Italia.


"Karena besok sekalian mau ada rapat OSIS, gue masak pasta khusus buat Herryl," jawab Thalita.


"Spaghetti bolognese?" tanya Windy.


"Salah satunya, meski aslinya bukan dari Italia. Tapi nggak apa-apa, gue akan masak demi Herryl," jawab Thalita meralat. Yap, saat ke Italia, Thalita baru mengetahui fakta bahwa spaghetti bolognese bukan berasal dari Italia. Memang, saus dagingnya berasal dari Italia, tapi menunya sendiri bukan dari Italia.


"Lo tahu, nggak, Maya besok mau masak apa?" tanya Karen pada Rima.


"Kangkung sama tempe katanya," jawab Rima. Sontak keempat temannya tertawa.


"Dasar. Dia emang cocok muka sama masakannya, sama-sama kampung," ledek Thalita.


...***...


Maya sudah membawa potongan kangkung dan tempe yang dibelinya pagi ini di tukang sayur langganan Mama.


"Baik, silakan dimulai," perintah Bu Tantri, guru Keterampilan Memasak. Sebuah Mata Pelajaran yang dibuat oleh tim kurikulum SMA Angkasa agar para siswanya bisa mengolah masakan sederhana.


Maya menjadi salah satu siswa yang tercepat karena olahannya sederhana. Arkan membuat omelet, sama cepatnya dengan Maya. Beberapa teman lain bahkan ada yang membuat salad buah.


"Baik, yang sudah selesai silakan letakkan di aula. Nanti Ibu nilai bersama guru lainnya," perintah Bu Tantri. Maya dan beberapa temannya mencuci peralatan masak yang telah mereka gunakan, kemudian membawa hasil masakan mereka ke aula.


Di pintu aula, Maya berpapasan dengan Tiara.


"Kak Maya, Kak Ramdan, Kak Arkan," sapa Tiara.


"Kamu di sini?" tanya Maya. Tiara tersenyum sambil mengangguk.


"Iya, Kak. Kami ada rapat bersama guru siang ini," jawab Tiara.


Kami? Kok perasaan jadi nggak enak, ya? Maya membatin sambil berjalan ke dalam aula.


"May, bawain aku makan, ya?" sapa Herryl yang berdiri di dalam aula. Ia baru saja mengecek persiapan rapat.


Tuh, kan. Batin Maya sambil mendengus sebal. Ia terus berjalan sesuai arahan pengurus OSIS ke meja prasmanan.


Selesai meletakkan piringnya, Maya mengamati piring lain yang masakannya wah. Ia tersenyum kecut menyadari bahwa hanya masakannya saja yang sangat sederhana.


"Ryl, ini kubuat khusus demi kamu," panggil seorang gadis cantik sambil berjalan ke arah Herryl. Thalita terlihat mengikuti Herryl yang sedang berjalan mendekat ke arah meja tempat Maya meletakkan piringnya.

__ADS_1


...-bersambung-...


Hai, halo hai. Sudah update, yaaa. Semoga suka.


__ADS_2