![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"May, nanti malam papa mau ngajak makan di rumah," ucap Herryl ketika mereka berdua sedang antri mengambil paspor.
"Makan ... di rumah?" tanya Maya terbata. Maya bukan tidak mengerti arti makan malam di tengah keluarga Herryl. Tapi, Maya masih mengkhawatirkan status sosial mereka yang berbeda.
"Iya. May, kamu nggak perlu khawatir. Papa itu sepertiku, terbiasa bergaul dengan semua orang. Lagipula ada aku di sana." Herryl mencoba meyakinkan gadisnya.
"Apa nggak apa-apa?" tanya Maya lagi. Herryl menepuk kepala gadis itu.
"Nggak apa-apa. Yuk, sudah dipanggil." Herryl mengajak Maya untuk mengambil paspornya di loket pengambilan. Mereka memeriksa data yang tertera di halaman pertama paspor itu kemudian segera ke lobi karena sudah selesai. Pak Asep dan mobilnya sudah menunggu.
"May mau mengecek proyek," ujar gadis itu.
"Oke, kuantar," sahut Herryl. Kemudian mobil melaju ke tempat yang Maya maksud.
"Kak Maya," sapa Tiara. Hadi dan teman-teman dari jurusannya juga ada di sana. Mereka sedang membuat mesin pengolah sampah.
"Kalian dari tadi?" tanya Maya kemudian bersalaman dengan teman-temannya. Herryl yang merasa terancam dengan keberadaan para mahasiswa Teknik Mesin segera menggandeng tangan Maya. Ia ingin menegaskan posisinya. Hal itu malah membuat Tiara tertawa.
"Ryl, bisa tolong lepas tangan kamu? May lagi bicara soal proyek," pinta Maya. Herryl seolah tidak ikhlas melepaskan genggaman tangannya.
"Oh, iya, Kak. Soal drainase sudah saya sampaikan ke pemborong untuk mengikuti revisi yang kita buat," ucap Tiara.
__ADS_1
"Terima kasih, ya. Nanti May absen seminggu tolong diawasi, ya," pinta Maya. Tiara mengangguk.
Maya kemudian menghampiri para tukang yang sedang bekerja. Herryl membawakan sekantong plastik minuman isotonik untuk para tukang.
"Pak, ini, kami bawakan minum, ya," ujar Maya.
"Terima kasih, Mbak Maya," ujar bapak-bapak yang sedang bekerja dengan peralatan pertukangan itu.
...***...
Sore ini Maya sudah siap dengan dress batik selutut dan lengan sampai siku. Maya juga sudah meminta izin mama dan bapak. Herryl kemudian mengajaknya ke rumah Ardhiwijaya.
Maya baru kali ini ke rumah lelaki itu. Sebuah rumah besar bergaya minimalis futuristik dengan banyak dinding kaca sehingga memudahkan cahaya matahari masuk dan menerangi seisi rumah. Warna yang dipilih merupakan kombinasi abu-abu dan putih.
"Ma, Eyil mau siap-siap, ya," ujar Herryl. Nyonya Anggi membimbing Maya ke ruang tamu.
"Desain rumahnya kekinian tapi ada sentuhan klasik, ya, Tante," komentar Maya saat mereka berdua sudah duduk.
"Seperti yang diharapkan dari seorang Maya, mengenali dalam sekali lihat. Tante yang minta ada gaya klasik. Menurut Tante itu gaya yang romantis," jawab Nyonya Anggi sumringah. Sepertinya ini rumah impiannya.
"Oh, iya, Tante. Tadi May mampir toko kue. Ada Japanese Cheesecake kesukaan Tante," ujar Maya sambil menyodorkan kantong kue yang ia bawa. Tadi ia lupa segera menyerahkannya karena terlalu fokus pada desain rumah ini.
__ADS_1
"Wah, terima kasih. Papa Herryl mungkin akan sampai rumah setengah jam lagi. Kamu mau melihat-lihat rumah dulu?" sahut Nyonya Anggi sambil menawarkan tur kecil di rumahnya yang besar. "Kalau kamu tertarik, di mezzanine itu perpustakaan. Herryl dan papanya sering menghabiskan waktu di sana," lanjut perempuan itu sambil menunjuk ke arah tangga tempat mezzanine berada. Maya mengangguk.
Memakai split level, dibuatlah sebuah mezzanine yang diisi dengan rak buku dan bean bag. Maya menelusuri rak buku coklat tua itu. Berbagai judul buku ada di sana, kebanyakan terkait ekonomi, fashion, dan sastra.
"Suka?" tanya Herryl yang sudah berdiri di belakang gadis itu.
"Iya. Buku-bukunya bagus, penataannya apik," jawab Maya.
"Kalau sama aku? Suka?" goda Herryl. Maya mengalihkan pandangannya.
"Ap-apa, sih?"
Herryl tertawa. Ditepuknya kepala Maya. Ia hanya ingin gadis itu tidak gugup lagi di rumah ini. Karena cuma kamu yang ingin kukenalkan pada keluargaku sebagai pilihanku, May.
"Ke bawah, yuk. Sebentar lagi papa pulang," ajak Herryl yang dijawab anggukan oleh Maya. Digandengnya tangan gadis itu.
Baru saja mereka sampai di lantai bawah, Pak Ardhiwijaya sudah muncul di pintu.
"Jadi, kamu Maya Anggraini?" tanya Pak Ardhiwijaya.
...-bersambung-...
__ADS_1
Hai halo hai, terima kasih sudah mengikuti kisah ini yaaa.
Waduh, respon papanya Herryl kok horor ya?