![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Kamu yang semangat proyeknya, ya. Hati-hati di sana, May. Kita baru bisa ketemu tahun depan," pesan Herryl. Siang ini ia mengantar tiga orang kesayangannya ke Kidlington.
"Maya lebih bisa menjaga dirinya daripada kamu, Yil," jawab Nyonya Anggi.
"Deja vu, Ma. Mama pernah bilang begitu, ya?"
"Iya, dan belum berubah sampai sekarang," jawab Nyonya Anggi.
"Pa. Mama, tuh," rengek Herryl yang ditingkahi tawa kecil Pak Ardhiwijaya dan Maya.
"May pulang dulu, Ryl," pamit Maya. Herryl mengangguk.
"Ryl, kamu bisa lepasin genggaman tangan kamu sekarang," perintah Pak Ardhiwijaya.
"Belum, Pa. Herryl masih mau sama Maya," elak Herryl.
"Lepas sekarang atau nggak usah nikah," ancam Pak Ardhiwijaya. Seketika Herryl melepas genggamannya.
"Ja-jangan, Pa. Papa nggak kasihan sama Herryl? Herryl mau nikah, kok," ucap Herryl takut. Maya dan Nyonya Anggi tertawa kecil meningkahi sikap Herryl.
"Aku sayang kamu," bisik Herryl di telinga Maya yang membuat gadis itu menegang. Wajahnya memerah saat ini. Herryl kemudian menepuk kepala Maya.
"Ayo, Sayang," ajak Nyonya Anggi, Maya mengikuti kedua orang tua Herryl ke check in counter.
__ADS_1
...***...
"Kak, untuk peresmian besok, Kak Maya sudah siap?"
"Iya. Gimana dengan yang lain?"
"Aman, Kak. Pak Bambang juga sudah konfirmasi akan hadir." Tiara membicarakan peresmian esok hari di telepon dengan Maya.
Sudah sebulan sejak dirinya kembali dari Oxford. Hadi dan teman-teman dari Teknik Mesin sudah memastikan dan uji coba mesin pengolah bekerja dengan baik.
...***...
Berbagai pidato mengawali peresmian proyek tim Maya. Selesai pidato, setiap anggota tim sudah siap di posisi mereka masing-masing. Kirana di bank sampah, Tiara dan teman-temannya di pos daur ulang. Hadi dan teman-teman dari Teknik Mesin sudah bersiap di bangunan lain yang kedap suara sehingga kebisingan mesin mereka tidak terdengar di bank sampah dan posko daur ulang.
"Bisa nabung, lagi," sahut perempuan lain yang seusia Bu Rini.
"Iya, Bu. Ini juga usaha teman-teman sehingga manfaatnya nanti akan dirasakan oleh ibu-ibu," jawab Maya masih merendah. Bagaimanapun, Maya tidak suka dengan kesan bahwa dirinya adalah pusat dari proyek. Maya lebih menyukai kerja tim.
...***...
"Gimana tadi?" tanya Herryl di telepon.
"Lancar, Ryl. Tinggal pelaksanaannya. May juga lagi bersiap kuliah profesi mulai pekan depan."
__ADS_1
"Istirahatlah, kamu lelah."
"Iya. Oyasumi, Ryl," ujar Maya kemudian memutus sambungan telepon.
"Tidur nyenyak, ya," tulis Herryl dalam pesannya. Maya tersenyum membaca pesan Herryl.
"Harus terbiasa nih nggak bilang sayang kalau kamu nutup telepon cepat banget, May," gumam Herryl. Senyumnya terbentuk karena ia menyadari sesuatu. Biarlah, rindu akan sebutan sayang itu biar bertumpuk dan akan terasa lebih dalam ketika lama tak terucap. Iya, kan, May?
Lelaki itu kemudian belajar lagi tentang bisnis dan manajemen sesuai disiplin ilmu yang ia pelajari. Ia juga harus mempersiapkan tesis. Setahun yang berat baginya. Namun, ia adalah satu dari sedikit orang yang beruntung. Dirinya tidak perlu bingung mencari pekerjaan, ia bertugas meneruskan usaha papanya. Bahkan, ia bisa berbangga dapat menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.
Bagaimana dengan kamu, May? Apakah kau juga akan menjadi pencari kerja? Atau dengan cita-citamu, akan mencipta lapangan kerja?
"May sudah ngantuk. May pastinya mau ciptakan lapangan kerja. Tapi sebagai batu loncatan, May perlu bekerja di sebuah perusahaan. May tidur dulu, ya, Ryl," tulis Maya di layar percakapan mereka.
Ternyata aku tidak hanya bertanya dalam hati, tapi menanyakannya juga pada May. Sepertinya Herryl lupa telah mengetikkan sebuah tanya di layar percakapan.
"Iya, maaf, ya, aku ganggu," tulis Herryl sebagai jawaban.
...-bersambung-...
hai halo hai
terima kasih, temans, sudah setia menyimak kisah Herryl dan Maya yg sering diisi dengan diskusi.
__ADS_1
jaa, matta ne