![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Maya sudah mendapatkan jadwal penerbangan Riana. Semalam Riana mengabarkan kalau 3 hari lagi ia akan berangkat. Maya kemudian menggunakan ponselnya untuk menghubungi nomor Natasha, menanyakan keperluan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Universitas Angkasa. Dibukanya aplikasi percakapan, dipilihnya nama kontak Natasha dan ia mulai mengirim pesan.
"Selamat pagi, Kak. Saya Maya Anggraini, calon mahasiswa baru Jurusan Teknik Sipil Universitas Angkasa. Mohon maaf telah mengganggu waktu Kakak. Saya ingin menanyakan terkait PKKMB, apakah tugasnya hanya menulis esai terkait motivasi memilih jurusan?" tanya Maya dalam pesannya. Setelah selesai mengirim pesan, Maya melanjutkan pekerjaan rumahnya. Ya, Maya tidak selalu terpaku pada ponselnya meski itu barang baru yang ia miliki.
"May, ada pesan," suara Herryl terdengar. Maya celingukan. Masa iya sepagi ini? Dan ... ada pesan? Jangan-jangan ... Maya mengecek ponselnya. Benar saja ada pesan di sana. Jadi, tadi suara Herryl dari sini? Anak itu! Bersegera Maya mengganti nada pengingat pesan di ponselnya kemudian membuka pesan yang masuk, dari Natasha.
"Pagi, May. Kamu juga harus mempresentasikan esai kamu, ya, di depan dosen tamu. Oh, iya, apakah ini nomor barumu? Saya simpan dan masukkan ke dalam grup angkatan kamu, ya," jawab Natasha yang diakhiri permintaan izin. Tanpa menunggu lagi, Maya segera menjawab dengan mengiyakan permintaan Natasha. Agak aneh bagi Maya ketika Natasha menanyakan apakah itu nomor barunya. Tapi mungkin memang teman-temannya teebiasa berganti nomor ponsel. Jadi, wajar jika Natasha menanyakan hal yang sama pada Maya.
Dalam beberapa menit, Maya sudah dimasukkan ke dalam grup angkatan. Sebagai anggota baru, ia memperkenalkan dirinya.
"Selamat pagi. Kenalkan, saya Maya Anggraini," tulis Maya di papan pesan. Maya mengecek sebuah pesan yang belum dibacanya. Herryl, begitu nama kontak itu tersimpan.
"Ada agenda apa hari ini?" Begitu kalimat yang terbaca saat ia membuka pesan tersebut. Huh, apa May harus melaporkan semua agenda May padanya?
Maya menyelesaikan tugasnya setelah memutuskan untuk tidak menjawab pesan dari Herryl. Dia tidak ingin terlalu meladeni pesan Herryl yang dikhawatirkan terlihat seperti memberi harapan.
Setelah selesai membersihkan rumah, Maya melanjutkan tugasnya menulis esai terkait jurusan yang ia pilih. "Mengapa Saya Memilih Jurusan Teknik Sipil". Maya menulis judul esai tersebut, sesuai arahan Natasha saat wawancara kemarin.
Hari sudah siang saat Maya selesai mengerjakan esai miliknya. Karena lelah, ia memilih untuk tidur sebentar.
...***...
Hari ini Maya bertemu dengan Riana. Gadis itu mengajak sahabatnya makan di kafe kekinian terdekat.
"Jadi, kamu nggak tahu kalau Herryl beli hp?" tanya Riana sambil mengaduk jus mangga miliknya. Maya menyeruput choco float miliknya kemudian mengangguk. "Terus, kapan kamu terima dia?" lanjut Riana lagi, menyebabkan alis Maya berkerut.
"Kok ke sana arahnya? May dan Herryl itu teman, Ri. Belum ada yang bisa ganti posisi Hardi," elak Maya kemudian.
Melihat wajah sahabatnya mendung, Riana mengalihkan topik pembicaraan terkait kuliah masing-masing. Setelah selesai, mereka berdua pulang.
Maya dan Riana sedang berjalan berdua sore itu ketika segerombolan anak tanggung mendekatinya.
"Neng, jalan sama kita, yuk," ajak salah satu anak tanggung itu bernada nakal. Tangannya menyentuh bahu Riana sehingga refleks Riana mengelak. "Galak, coy," lanjut anak berkaos coklat tersebut sambil meledek Riana.
__ADS_1
"Galak bikin makin gemes. Main sebentar doang, kok," bujuk anak lainnya yang berkaos tengkorak kuning.
"Kami mau lewat," ucap Maya. Baru kali ini ia berpapasan dengan kelompok yang mengepungnya. Biasanya di jalan ini tidak ada mereka karena memang sepi.
"Galak banget, sih. Coy, yang ini nggak cantik kayak neng itu tapi imut," sahut si kaos hitam.
Empat? May harus bisa melawan mereka. Kasihan Riana. Maya mencoba menganalisa gerakan anak tanggung itu. Si kaos hitam sudah mulai menyentuh bahu Maya yang kemudian ditepis oleh pemilik bahu. Sementara Riana sudah dipegangi kedua anak lainnya, si kaos coklat dan tengkorak kuning.
"Lepas!" Riana berteriak. Maya meninju perut kaos hitam yang lengah sehingga lelaki kurus itu kesakitan memegangi perutnya.
"Berani, lo, ya!?" hardik lelaki lain, dia berkaos biru tua. Lelaki itu hendak meringkus Maya sebelum akhirnya gagal.
DUAKK!!
Lelaki itu tersungkur, pingsan, karena ada yang memukul lehernya dari belakang.
"Beraninya ganggu pacar saya," ujar Herryl yang Maya lihat berada di belakang si kaos biru tua.
Pegangan pada Riana terlepas, ia tersungkur kesakitan. Sementara itu si kaos coklat mulai gemetar melihat Maya dan Herryl.
"B-bang ...," terbata si kaos coklat memanggil Herryl.
Lengah, Maya diringkus oleh si kaos hitam. Perutnya sudah tidak sakit lagi. Kedua tangannya ditahan di belakang sementara lehernya ditahan dengan tangan kanan si kaos hitam.
"Diam! Lo kira gue kalah? Lo harus ikut gue," perintah si kaos hitam sambil menahan Maya yang terus berontak. Melihat ada bahaya bagi lawan mereka, Herryl mencoba menenangkan anak tanggung tersebut.
"Kalian nggak ngerti," keluh Herryl.
"Apa lo bilang?" Si kaos hitam kembali membentak.
DUAKK!!
Singkat, dalam sepersekian detik Maya sudah berbalik dan menendang perut si kaos hitam.
__ADS_1
"Kan sudah saya bilang, kalian nggak ngerti," lanjut Herryl. Lelaki terakhir langsung lari tunggang langgang meninggalkan temannya yang pingsan dan kedua temannya yang kesakitan akibat tendangan Maya. Herryl menghampiri si kaos hitam, berjongkok, kemudian meninju bibir lelaki itu.
"Cuma saya yang boleh bilang dia imut," ucap Herryl posesif. Ia berdiri setelah mendengar lawannya memohon ampun.
Herryl dan Riana menghampiri Maya.
"Terima kasih, May, Ryl," ucap Riana.
Herryl segera memegang bahu Maya dengan satu tangannya, sedangkan tangan lainnya merapikan anak rambut Maya yang berantakan akibat kejadian tadi. Setelah rapi, Herryl menumpukan kedua tangannya di bahu Maya sambil menunduk sedikit.
"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Herryl sambil tersenyum. Maya menunduk begitu mendapati tatapan Herryl yang intens.
"Ehem." Riana berdehem mengingatkan Herryl bahwa mereka sedang bertiga. Herryl kembali berdiri tegak.
"Yuk, pulang," ajak Herryl akhirnya sambil menepuk puncak kepala Maya. Maya mengangguk. "Tapi ...," lanjut Herryl kemudian.
Dilihatnya Herryl melepas kemejanya kemudian diserahkan pada Maya. Lelaki itu kini hanya memakai kaos putih.
"Eh?"
"Pakai ini. Kancing bajumu lepas," ujar Herryl sambil membuang muka ke samping. Maya mendengar itu segera mengamati dirinya. Benar, kancing kemeja raglannya lepas satu di bagian tengah, sepertinya efek perkelahian tadi. Maya terkesiap dan segera menyambar kemeja Herryl untuk ia pakai sebagai pelapis kemejanya. Maya sudah tidak tahu lagi apakah warna wajahnya saat ini merah tomat atau seperti udang rebus.
Mereka bertiga berjalan bersisian dengan Herryl di depan. Setelah sampai di depan rumah Riana, mereka berpisah.
"Besok kuantar, ya," ucap Maya sambil melambaikan tangan. Riana mengangguk kemudian masuk ke dalam gerbang. Maya dan Herryl kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
"Ryl, terima kasih," ujar Maya.
"Ya," jawab Herryl singkat. Tidak biasanya Herryl banyak diamnya. May, apa kamu baik-baik saja nanti kalau aku pergi?
"May, kamu hati-hati, ya," ucap Herryl lagi. Maya mengangguk. Kejadian sore ini menyadarkannya bahwa ia harus lebih sering berlatih karate.
...-bersambung-...
__ADS_1