[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Burung Hantu Kesayangan


__ADS_3

"Ryl, ini kubuat khusus demi kamu," panggil seorang gadis cantik sambil berjalan ke arah Herryl. Thalita terlihat mengikuti Herryl yang sedang berjalan mendekat ke arah meja tempat Maya meletakkan piringnya.


Maya melihat Thalita membawa nampan dengan terampil. Thalita meletakkan masakan buatannya di seberang meja masakan Maya.


"Aku tahu kamu suka salad. Ada juga spaghetti bolognese," ujar Thalita sambil mendekati Herryl.


"Terima kasih," jawab Herryl. Ia kemudian beralih ke meja Maya. "Masakin aku apa?"


"Nggak. May masak buat dinilai Bu Tantri," jawab Maya datar. Dilihatnya Herryl mulai merajuk.


"Kamu jangan makan masakan dia, Ryl. Nanti bisa sakit perut," pesan Thalita. Maya mulai menatap tajam gadis di hadapannya itu. Beraninya menghina makanan.


"Saya sering makan di rumahnya, Kak. Sampai saat ini saya baik-baik saja," jawab Herryl berusaha membela Maya. Thalita menutup mulutnya demi mendengar itu.


"Kalian." Geram Thalita mendengarnya. Sementara Maya menyadari tatapan para pengurus OSIS mengamati dirinya karena ucapan Herryl tersebut.


"Lihat akibat ucapan kamu," gerutu Maya. Herryl menoleh ke arah Maya kemudian tersenyum.


"Biarin. Kamu fokus sama ujian saja, ya. Terima kasih kangkung dan tempenya," sahut Herryl menenangkan. Maya mengedikkan bahunya kemudian berlalu melewati Herryl dan Thalita.


"Lama banget," sapa Riana yang baru datang membawa masakannya. Mereka berpapasan di pintu aula.


"Biasa, urusan nggak penting," sahut Maya. Riana melihat ke dalam kelas dan melihat Herryl beserta Thalita di sana.


"Selain Bu Tantri, jangan ada yang makan yang di piring ini, ya. Ini masakan khusus dari pacar." Herryl mengumumkan sesuatu yang bagi Maya tidak penting. Maya yang sempat mendengar itu hanya memutar bola matanya kemudian melanjutkan perjalanan ke kelas.


"Ryl, kamu jahat." Thalita mengatakannya dengan nada seperti ingin menangis kemudian pergi.


"Jangan begitu. Maya bisa dalam masalah nanti," pesan Riana yang kemudian datang dan menata piringnya di samping masakan Maya.


"Maya itu kuat, Kak. Dia bisa lewati masalahnya. Lagipula ada aku yang njaga dia," jawab Herryl sambil memberi jalan pada Riana yang ingin kembali ke kelasnya.

__ADS_1


"Njaga apa? Kamu malah sering kasih masalah sama dia. Yang pasti, musuhmu banyak kalau kamu main-main sama Maya. Paham?" Riana mengucap sebuah ancaman.


"Iya, paham. Makasih, Kak, selalu di samping Maya," jawab Herryl lagi, tersenyum. Ternyata Kak Riana sebegitu perhatiannya sama Maya. Syukurlah. Herryl membatin sambil menatap punggung Riana.


Sementara itu, Thalita mengejar Maya yang baru akan naik tangga.


"May!" panggil Thalita. Tatapan matanya sangat tajam. Maya yang merasa namanya dipanggil segera menoleh. Sekolah sedang sepi karena memang sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar. Maya diam sementara Thalita mendekat dengan aura kemarahan.


"Lo nggak ngerti juga!? Herryl itu milik gue. Kenapa lo masih dekatin dia!? Ngapain lo undang dia makan di rumah lo!?" Thalita berang mengucap semua kalimat itu ketika mereka sudah berhadapan. Maya menghela nafasnya.


"Ta, maaf. May nggak ngundang, Herryl memang sering ada urusan dengan Bapak yang May nggak tahu. Maya juga bukan pacar Herryl, kok. Dan, May mau fokus sama ujian. Itu aja, karena May sadar May penyandang beasiswa di sini. Oke?" jawab Maya meredam marahnya. Kesal karena ia diikutkan dalam roman picisan Thalita dengan Herryl. Tanpa menunggu jawaban Thalita, Maya berbalik dan menaiki tangga menuju kelas.


Riana melihat hal itu dan tersenyum. Syukurlah kamu nggak apa-apa, May, ucapnya dalam hati.


...***...


Tanpa terasa pekan ujian praktik sudah berlalu. Para siswa kelas 3 diberikan waktu beristirahat di rumah selama sepekan untuk bersiap mengikuti ujian akhir sekolah yang akan dimulai Senin.


Minggu siang Bapak dan Mama menghadiri undangan kerabat di daerah selatan Jakarta. Karena Maya akan ujian, kedua orang tuanya tidak mengajak Maya. Malah, dua anak tetangga berumur 8 tahun menemani Maya di rumah. Mereka membaca komik Conan bundle detektif cilik.


"May, assalamu'alaikum," salam sosok laki-laki yang sudah sering datang ke rumah Maya.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Kak Herryl," jawab salah satu anak tetangga bernama Kia. Kia, dan Anggi temannya, adalah murid les Herryl sehingga mereka sangat mengenal pembimbingnya itu.


"Eh, ada Kia sama Anggi," sapa Herryl. Dilihatnya pemilik rumah cuek saja dengan kehadirannya. Ia pun hanya bisa tersenyum.


Maya akhirnya menoleh ke arah Herryl, kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air putih dalam teko dan gelas.


"Air putih bagus untuk tubuh, nggak usah protes," ucap Maya sambil meletakkan minuman di meja tepat di depan Herryl. Herryl tertawa kecil.


"Iya. Nih, coklat," sahut Herryl sambil menaruh bungkusan goody bag yang tadi ia bawa ke atas meja. Maya yang penyuka coklat segera membuka goody bag tersebut. Ada coklat berbentuk kotak, hati, bola, bermacam bentuk.

__ADS_1


"Wah, banyak banget. Makasih," ucap Maya.


"Iya, ini dikasih fans waktu valentine, padahal aku nggak suka konsep valentine. Kusimpan di rumah, nggak ada yang makan. Kubawa saja ke sini," jelas Herryl.


"Kamu mau kasih coklat apa mau pamer coklat dari fans?" gerutu Maya sambil menyipit kesal. Herryl tertawa.


"Mau minta temenin ngabisin coklat," jawab Herryl lagi. "Yang ini buat Bapak sama Mama, ya," lanjutnya sebelum Maya memakan coklat-coklat itu. Maya melihat bungkusan paling besar yang dipegang Herryl. Ia hanya bisa mengangguk melihat Herryl meletakkan coklat tersebut di meja pojok ruangan.


"Kia, Anggi, panggil yang lain ke sini," ajak Maya. Herryl mengangguk pada kedua anak kecil tersebut. Maka bersemangatlah anak-anak itu keluar, memanggil teman-temannya sehingga berjumlah 8 orang.


Maya, Herryl, dan 8 anak kecil itu membuat sebuah lingkaran lalu makan coklat bersama-sama. Meriah sekali karena diselingi celotehan tentang rasa coklat yang sangat enak. Tentu saja, itu kan coklat premium.


"Kalau nanti anak-anak kita sudah lahir, pasti semeriah ini, ya," gumam Herryl di samping Maya.


Sontak saja lengan kirinya dicubit Maya sekuat tenaga.


"Adaw!!" pekik Herryl kesakitan sampai air matanya ingin keluar.


"Ngomong yang bener," omel Maya datar.


"Sakit, May," keluh Herryl.


"Biar bisa bener kalau ngomong," sahut Maya.


"Kak Herryl kenapa?" tanya Kia melihat Herryl meringis.


"Nggak apa-apa, Kia. Cuma habis dicubit sama burung hantu kesayangan," jawab Herryl. Mata Maya menatap tajam ke arah Herryl.


"Mana burung hantunya? Siang-siang begini memangnya ada?" tanya Anggi. Herryl memasang wajah bingung ingin menjawab apa lagi. Padahal niat awalnya untuk menggoda Maya, tapi malah dia terjebak dengan pertanyaan anak-anak itu.


Maya? Ia tertawa melihat kikuknya Herryl. Rasakan.

__ADS_1


...-bersambung-...


__ADS_2