[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Toga: Batas Dunia Baru


__ADS_3

Maya sudah didandani mama pagi ini. Make up tipis seperti keinginan Maya, hanya berusaha agar tidak pucat saja. Gadis itu sudah memakai kebaya dilapisi jubah toga wisuda. Mama dan bapak juga sudah memakai sarimbit batik yang dibelikan Maya saat menerima gaji pertama magang di Crown.


"Ayo Ma-" panggil Herryl yang terpotong karena matanya tidak berkedip saat melihat penampilan Maya. Cantik.


"Jangan bengong. Anak saya memang cantik," goda bapak sambil menepuk bahu Herryl. Herryl terkesiap lalu menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Terlihat sekali malu karena dipergoki bapak Maya. Herryl kemudian membukakan pintu penumpang. Saat Maya sudah di depannya, Herryl tersenyum lagi.


"Habis ini kita langsung akad, ya," ucapnya lembut.


GYUTT!!


"Aduh. Sakit, May," keluh Herryl saat Maya mencubit lengannya.


"Nggak usah iseng makanya," sahut Maya.


"Ya, aku, kan, udah pakai kemeja. Jas ada di mobil. Kamu udah pakai kebaya."


"Bisa kita berangkat? Nanti takut terlambat," tanya Maya mencegah Herryl lebih melantur lagi. Herryl kemudian menutup pintu mobil dan duduk di depan bersama Pak Asep. Mereka menuju Aula Universitas Angkasa untuk mengikuti wisuda. Sepanjang perjalanan, Herryl sesekali melihat spion atas untuk melihat Maya.


Sesampainya di depan aula, Tiara menyambut Maya dan keluarganya. Deja vu. Dulu saat seminar di SMA juga Tiara yang menyambut. Tiara juga mengarahkan Maya ke kursinya, terpisah dari para undangan.


"Nggak boleh aku duduk sama Maya?" tanya Herryl.


"Ryl, jangan melantur, deh," ujar Maya.


"Aku dulu Ketua OSIS SMA Angkasa, Tiara. Masa nggak ada privilege buat aku, sih," rajuk Herryl.


"Ryl, nggak ada yang begitu di sini. Kak Maya aman, kok," jawab Tiara sambil tertawa.


"Dia nggak duduk sebelah laki-laki, kan?"


TUK!!

__ADS_1


"Aduh! Sa- eh, Bapak," ucap Herryl sambil memamerkan giginya.


"Kamu mau masuk, nggak?" tanya bapak gemas akan sikap Herryl yang ajaib itu. Sementara mama, Maya, dan Tiara tertawa melihat kejadian itu.


Herryl masuk bersama kedua orang tua Maya setelah ia memastikan gadis kesayangannya duduk di kursi wisudawan-wisudawati.


"Herryl posesif gitu, ya? Dari kapan mereka pacaran?" tanya Hadi pada Tiara yang ia ketahui adalah teman sekolah Herryl.


"Baru lihat juga, sih, soalnya baru Kak Maya pacar dia. Kalau dari kapan, aku nggak tahu karena di sekolah dulu dia nggak punya pacar," jawab Tiara. "Kalau perhatian sama Kak Maya, sih, dari SMA," lanjutnya lagi.


"Lucu aja sikapnya. Kemarin-kemarin dewasa banget, Kak Maya kelihatan dimanja sama dia. Hari ini, tingkahnya mirip ABG," komentar Hadi. Tiara ikut tertawa.


"Nggak ada yang sempurna, kan, Di? Contohnya Herryl. Dia juara debat tingkat nasional tapi suka kalah kalau debatnya sama Kak Maya," sahut Tiara.


"Seharusnya Kak Maya yang juara debat nasional, hahaha."


"Masalahnya sebelum ketemu Herryl, Kak Maya itu pendiam, pemalu sama orang asing. Herryl yang nyemangatin Kak Maya."


"Cinta bisa mengubah orang, ya."


"Iya benar."


...***...


Herryl melihat gadisnya naik ke podium untuk dilantik seperti wisudawan wisudawati lainnya. Terdengar isakan tangis di samping lelaki itu. Herryl menoleh dan mendapati Bu Rini sedang meneteskan air mata. Sigap ia sodorkan tisu pada perempuan yang telah melahirkan gadis kesayangannya.


"Terima kasih. Ibu nggak nyangka Maya sudah dewasa sekarang, sudah wisuda," ucap Bu Rini. Herryl tersenyum. Perjuangan Ibu tidak mungkin sepadan dengan apapun terkait Maya.


"Iya, Ma. Anak kita sudah sarjana. Dia anak baik yang bikin kita bangga," sahut bapak yang duduk di samping Herryl. Herryl kini duduk diapit oleh kedua orang tua Maya.


Lelaki muda itu melihat bapak juga sedang mengelap matanya yang berkaca-kaca. Perjuangan Bapak tentu sangat besar dan berat untuk membesarkan Maya, kan, Pak?

__ADS_1


"Terima kasih, Pak, Bu, sudah mendidik Maya sampai sehebat itu," ucap Herryl kemudian. "Saya ingin meminta izin Bapak dan Ibu untuk lebih serius menjalin hubungan dengan Maya. Boleh, Pak, Bu?" pinta Herryl sambil menatap kedua orang tua Maya bergantian.


"Nak, kami nggak melarang kalian. Tapi keputusan akhirnya ada di tangan Maya karena yang akan menjalani adalah Maya. Kami sebagai orang tua hanya bisa memberi masukan dan doa saja," jawab bapak setelah terdiam agak lama. Segurat senyum nampak di wajah beliau.


"Terima kasih, Pak, Bu," ucap Herryl setelah mengangguk ketika mendengar jawaban bapak.


...***...


"Selamat, ya, Nduk," ucap Mama sambil memeluk Maya. Hal yang sama dilakukan bapak.


"Makasih, Ma, Pak," ujar Maya. Setelah agak lama, mereka melepaskan pelukan itu.


"Selamat, ya, May," ucap Herryl mendekat.


"Mau apa kamu?" tanya Maya curiga.


"Lho, sama seperti bapak dan ibu, May," jawab Herryl sambil mengangkat tangannya.


"Nggak boleh," larang Maya sambil mengacungkan tabung ijazahnya. Siap memukul Herryl kalau macam-macam.


"Kok nggak adil, sih, May?" rengek Herryl.


"Biarin."


Herryl menurunkan kedua lengannya. Ia hanya menepuk kepala Maya seperti biasa.


"Selamat, ya," ucap Herryl sambil tersenyum.


"Iya, terima kasih."


...-bersambung-...

__ADS_1


Selamat, ya, Maya. Sudah sarjana. Jadi, selesai, nih, novelnya? Tenang, mereka masih akan menemani teman-teman, kok. Ikuti terus kisah mereka, yaaa.


jaa, matta ne


__ADS_2