![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
"Saya disuruh antar Mbak Maya ke bandara. Mau menjemput temannya, kata Mas Herryl," jawab Pak Asep tidak kalah sopan.
Mendengar itu, Maya mengerutkan dahinya. May nggak pernah minta, lho.
"Oh, sebentar, ya, Pak," ucap Maya. Diambilnya ponsel di dalam tas yang ia pakai. Segera ia hubungi nomor 1, tersambung langsung ke nomor ponsel lelaki di Oxford. Biarin dini hari juga. Suruh siapa bikin khawatir, kirain ada apa. Terdengar beberapa nada panggil sebelum akhirnya telepon tersambung.
"Ya, May?" sapa Herryl serak. Ia sedang tidur ketika Maya meneleponnya. "Kamu kangen banget sama aku?"
"Ryl! Siapa suruh kirim mobil buat May. May masih bisa naik bus." Ketus Maya mengomel di kamar, membuat Herryl duduk tegak dan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku, kan, nggak bisa nganter kamu. Kuminta tolong Pak Asep untuk mengantar, May," jawab Herryl.
"May, kan, nggak minta. Kasihan Pak Asep jadi repot," elak May.
"Nggak repot, May. Beliau senang, kok, kalau nganter kamu," sahut Herryl lagi.
"Tapi ...."
"May, aku nggak mau kalian, apalagi kamu, mengalami kejadian nggak mengenakkan sementara aku nggak ada untuk melindungi kamu," jelas Herryl yang tanpa ia sadari telah menghangatkan hati Maya.
__ADS_1
"Iya, deh, makasih," ucap Maya akhirnya.
"Makasih doang?" tanya Herryl menggoda.
"Maksud kamu?"
"Sayangnya mana?"
"Baru bangun udah kacau. Tidur lagi aja, deh, kamu, Ryl," nasehat Maya akhirnya.
"Mana bisa aku tidur kalau dibangunin pacar?" elak Herryl.
"Iya, tapi masa depan," goda Herryl lagi. Maya merasa wajahnya sudah memerah dan ia segera menutup sambungan telepon, khawatir Herryl makin kacau.
Sementara itu, Herryl yang tidak dapat tidur lagi langsung membuka buku yang semalam dibacanya. May, jaga dirimu.
...***...
"Pak, saya minta maaf kalau saya jadi merepotkan. Lain kali ditolak saja, Pak, kalau Herryl minta Pak Asep jemput saya. Bapak, kan, digaji Pak Ardhiwijaya bukan untuk hal sepele begini," ucap Maya di tengah perjalanan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya, kan, digaji sama Mas Herryl kalau ada perintah khusus begini," jawab Pak Asep menenangkan.
"Herryl? Uang dari mana?" tanya Maya spontan.
"Mas Herryl dari SMP sudah cari uang sendiri, Mbak. Kata Mas Herryl namanya impestipasi," jawab Pak Asep yang membuat Maya tersenyum.
"Investasi, Pak," ralat Maya sambil tersenyum.
"Iya, Mbak. Bapak ini, kan, bukan orang sekolahan, Mbak, jadi maaf nggak bener ngomongnya," ucap Pak Asep sambil tertawa, mengajak Maya ikut tertawa.
Perjalanan jadi menyenangkan karena cairnya suasana antara Pak Asep dan Maya. Pak Asep memilih berdiam di tempat parkir dan membiarkan Maya sendirian ke terminal kedatangan. Gadis itu membaca buku di salah satu kursi hall. Ingatannya melayang saat ia mengantar Riana, Adrian, Hardi, dan Herryl. Orang-orang berharga yang pergi demi cita-cita mereka.
"May," panggil Riana yang melihat dari kejauhan sosok sahabatnya sedang duduk. Maya mendongak. Dilihatnya Riana berjalan menenteng koper ke arahnya. Maya menutup dan memasukkan bukunya ke dalam tas biru. Kakinya melangkah agar segera bertemu di suatu titik dengan Riana. Kedua sahabat itu berpelukan melepas rindu.
"Makin cantik kamu, Ri," puji Maya tulus setelah melihat penampilan Riana yang terawat.
"Kamu juga cantik, kok, kalau mau perawatan kayak aku. Kita ke salon sama-sama, yuk," ajak Riana. Maya tersenyum kemudian menggeleng.
"Nggak usah, Ri."
__ADS_1
...-bersambung-...