[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Menapaki Cita Tiga Masa


__ADS_3

Maya baru saja pulang kerja saat Herryl meneleponnya.


"Sudah di rumah?" tanya Herryl.


"Iya." Singkat Maya menjawab. Mereka baru sampai dari Oxford dua pekan lalu dan belum bertemu lagi karena kesibukan pekerjaan masing-masing.


"Besok aku libur." Herryl mengabari.


"Oh," respon Maya datar. Ia sedang lelah sekali malam ini.


Respon yang membuat Herryl gemas karena gadisnya tidak seheboh gadis lain bila pasangannya libur.


"Mau temani aku lihat tanah, nggak?"


"Kenapa tanahnya?"


"Kali aja kamu terinspirasi gitu buat desain kamu selanjutnya," ujar Herryl.


"Boleh."


"Besok dandan, ya," pinta Herryl.


"Nggak. Lihat tanah kok dandan," elak Maya. Herryl tertawa mendengarnya. Ya, turun ke lapangan menurut Maya harusnya memakai pakaian yang simpel dan aman.


...***...


Herryl memakai motor matic yang dibelinya sesaat sebelum mulai bekerja. Biar tidak macet, katanya. Herryl memulai pekerjaannya di lapangan, menemani karyawan dari berbagai divisi untuk bekerja. Maya sudah tidak heran dengan metode Herryl yang melakukan pendekatan seperti itu dalam bekerja. Gadis itu kemudian menaiki motor dan berpegangan di besi belakang.


"Aku bukan tukang ojek, May," keluh Herryl.


"Ya, sudah. May naik bus saja," sahut Maya sambil bersiap turun.


"Iya, May. Iya, kamu duduk begitu, deh," ujar Herryl mengalah.


Motor matic itu membelah jalanan di bilangan Jakarta Utara. Herryl menghentikan motornya di sebuah lahan kosong yang diapit oleh dua rumah mewah. Letaknya berada di sebuah perumahan lama.


"Nih, tanahnya," ujar Herryl setelah mereka turun dari motor.


"Punya siapa?" tanya Maya.


"Punyaku," jawab Herryl. Maya mengangguk-angguk. Herryl berjalan lebih dulu, membuat Maya mengikutinya untuk mengamati tanah seluas 100 meter persegi itu.


"Kamu mau bangun apa di sini, Ryl?" tanya Maya membuat langkah Herryl terhenti. Lelaki itu berbalik kemudian tersenyum.


"Rumah."


"Oh, gitu," komentar Maya singkat setelah ikut berhenti.


"May, kalau dibuat taman di sini bagaimana nanti?" tanya Herryl setelah ia kembali berjalan dan berhenti di salah satu sudut tanah itu.


"Taman belakang?" tanya Maya sambil menghampiri Herryl. Mereka berdua berdiri di sudut tanah itu.


Herryl bergerak lagi, kali ini menghadap Maya di sampingnya. Lelaki itu melakukan kebiasaannya, sedikit membungkuk dan mendekat untuk menatap Maya. Spontan Maya mundur hingga punggungnya menabrak dinding rumah sebelah, pembatas dengan tanah yang ia pijak.


"Ryl?" panggil Maya. Lelaki itu terus menatap Maya. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengungkung Maya.

__ADS_1


"May, aku mau kamu yang mendesain rumah kita. Kamu bersedia?" tanya Herryl lembut sambil menyodorkan sebuah cincin di telapak tangan kanannya.


"Ryl?" Maya menatap mata Herryl. Ada keyakinan di sana. Mata itu seolah menawarkan perlindungan untuknya.


"Aku yakin kamu mau hubungan yang pasti, kan? Boleh aku menawarkan hubungan itu?"


Mata Maya mengembun. Ada debaran jantung yang bersicepat dengan waktu, memompa darah ke seluruh tubuhnya sehingga ia merasakan panas terutama pada wajahnya. Meski sudah sering ia dengar dari Herryl terkait niat menikah, hari ini gadis itu tetap merasakan kebahagiaan yang membuncah saat lelaki di depannya melamar. Senyum sumringah tercipta di bibirnya.


"Iya, Ryl," jawab Maya singkat. Sudah saatnya May menerima Herryl sepenuhnya, batin Maya.


"Yes!" sahut Herryl kemudian menegakkan dirinya. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah Maya. "Terima kasih, May."


"Eh? Mau ngapain?" tanya Maya sambil melangkah mundur.


"Peluk," jawab Herryl.


"Nggak ada peluk-peluk," larang Maya. Herryl mendengarnya langsung menurunkan tangannya.


"Yah, nggak boleh. Ya, udah, sini kupakaikan cincinnya," keluh Herryl. Maya mengulurkan tangannya.


"Ryl, makasih, ya," ujar Maya. Ia tidak bisa menahan air mata yang mendesak keluar padahal bibirnya tersenyum sumringah. Herryl melihat itu segera menghapus air mata gadisnya.


"Aku yang berterima kasih, May. Aku kira kamu akan menolaknya karena kamu belum lama bekerja, kan?"


"Oh, iya. Lupa." Ucapan Maya membuat Herryl menegang. Akankah dibatalkan lamaran ini? Duh, kenapa keceplosan, sih, bahas kerjaan dia. Raut wajah Herryl berubah khawatir.


"Jadi? Gimana, May?" tanya Herryl dengan nada khawatir. Masa iya batal.


"Kenapa?" tanya Maya lagi.


"Ya, sudah."


"Apa?"


"Nikah."


"Lho? Impian kamu?" tanya Herryl bingung. Apa Maya goyah karena dilamar?


"Kamu meremehkan Maya Anggraini?" ucap Maya sambil tersenyum misterius.


"Nggak, sih. Memangnya kamu sudah mencapai impian kamu?"


"Sedikit lagi, Ryl. Jadi, selama magang kuliah di Metal Estate, May dapat banyak proyek dari Pak Rahmat. Sepekan kemarin juga ada dua proyek besar yang kami tangani," jawab Maya masih menahan tawa.


Langkahmu selalu di depanku.


"Jadi, kamu tadi ngerjain aku?" tanya Herryl sambil mengusap kepala Maya lalu menjitaknya.


"Aduh! Herryl, sini kamu!" pekik Maya karena kesulitan membalas perlakuan Herryl yang segera lari setelah menjitaknya. Jadilah mereka berkejaran di tanah kosong tersebut sambil berteriak.


Oke, sudah saatnya.


Maya memperhitungkan jarak yang akan mereka lewati kemudian memasang kuda-kuda. Gadis itu melakukan tendangan sudut sehingga membuat Herryl terjatuh.


"Wadouw!"

__ADS_1


Maya berdiri lalu menghampiri Herryl. Dijitaknya lelaki itu kemudian duduk di sampingnya. Membiarkan Herryl yang kesakitan.


"Sakit, May," keluh Herryl sambil memegangi kakinya.


"Anggap aja hukuman buat kamu," sahut Maya.


Lelaki itu kemudian ikut duduk di samping Maya, di atas rerumputan. Hening ditingkahi semilir angin menerpa wajah mereka.


"Terima kasih, ya, May," ujar Herryl lembut.


"Untuk?"


"Menerima lamaranku."


"May yang berterima kasih, Ryl. Herryl mau menunggu May selama ini," ujar Maya. Wajahnya sudah memerah.


Herryl tersenyum, menoleh pada gadis di sampingnya. Ia mengusap kepala Maya.


"Pulang, yuk," ajak Maya.


"Nggak mau makan dulu?"


"Makan di rumah aja, mama sudah masak."


"Bapak ada?"


"Iya."


"Ya, sudah. Sekalian aku lamar kamu ke orang tua kamu," ujar Herryl. Maya mendengar itu langsung tersenyum. Hatinya menghangat mendengar keseriusan Herryl.


"Terima kasih, Ryl," ucap Maya.


...***...


Herryl dan Maya mengucap salam yang dijawab oleh Bu Rini dan Pak Sugeng.


"Bagaimana, Nduk?" tanya Pak Sugeng.


"Nanti Maya buat desainnya, Pak," jawab Maya. Dilihatnya bapak mengangguk. Bu Rini kemudian menyuguhkan minuman dingin dan kroket.


"Bapak, Ibu. Kedatangan saya hari ini hendak melamar Maya untuk menikah dengan saya," ujar Herryl yang kemudian ditanggapi senyum oleh kedua orang tua di hadapannya.


"Bapak serahkan pada Maya, Nak. Bagaimanapun kalian yang akan menjalankannya. Bagaimana, Nduk?" jawab Pak Sugeng yang langsung bertanya pada Maya.


Gadis itu sudah meremas lembut jemari mamanya. Wajahnya sudah memerah karena bagaimanapun Herryl berbicara di depan orang tuanya.


"Iya, Pak," jawab Maya.


"Iya apanya?" goda Pak Sugeng.


"Iya, Maya menerima lamaran Herryl," jawab Maya sambil menunduk.


...-bersambung-...


Finally, dilamaaaar. Selamat, ya, Ryyyyyl.

__ADS_1


Terima kasih, temans, masih setia mengikuti kisah Herryl dan Mayaaaa


__ADS_2