[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Reuni Tak Terduga


__ADS_3

"Maya, kita sudah dapat banyak proyek. Portofolio kamu sudah bertambah, ya?" tanya Rahmat siang itu. Mereka sedang menunggu Dahlia untuk makan bersama.


"Iya, Pak. Terima kasih atas bimbingan Bapak," jawab Maya.


"Hari Senin kita survei ke rumah proyek berikutnya. Klien kita minta rumahnya diubah menjadi kost-kostan karena tidak ditempati lagi."


Maya mengangguk dan merapikan meja kerjanya.


Sejak di Metal Estate, permintaan desain berdatangan kepadanya. Bahkan hari libur digunakannya untuk mengerjakan proyek. Maya seolah terlihat seperti penggila kerja. Seperti hari ini, Herryl datang ke rumah dan hanya ditemani Pak Sugeng karena Maya masih menyelesaikan desainnya.


"Kami harus pergi, Nak Herryl. Ada pernikahan kerabat," ujar Pak Sugeng setelah mereka berbincang sebentar. Herryl mengangguk. "Titip Maya," lanjut Pak Sugeng.


"Baik, Pak," jawab Herryl. Lelaki itu menyalami takzim kedua calon mertuanya. Setelah keduanya pergi, Herryl berjalan ke arah kamar Maya, berdiri di pintunya dan bersandar di kusen. Mengamati Maya yang terus saja bekerja.


"Ngapain berdiri di situ?" tanya Maya tanpa mengalihkan tatapannya dari laptop.


"Aku harus masuk kamarmu, nih?" goda Herryl.


"Nggak."


"Aku cuma ngelihatin kamu yang cantik banget kalau lagi serius."


"Nggak usah nggombal." Respon yang sudah diduga dan terus membuat Herryl tertawa kecil.


Herryl tetap diam menikmati apa yang dilihatnya saat ini. Berjauhan selama empat tahun membuatnya ingin terus melihat Maya.


"May, sekarang aku sudah berkantor di ruangan papa," cerita Herryl.

__ADS_1


"Baguslah," jawab Maya singkat.


"Berarti, kita bisa nikah sebentar lagi," ujar Herryl. Seketika Maya menghentikan gerakan kursornya. Matanya menatap layar laptop, tapi pikirannya terpengaruh oleh ucapan Herryl.


"Kita ... menikah?" tanya Maya.


"Ya. Ah, sebentar. Ada tamu di luar," ujar Herryl.


Menikah? Maya segera membuka sebuah laman, mengetikkan ID dirinya untuk masuk ke laman khusus nasabah. Gadis itu tersenyum. Nilai tabungan emasnya mungkin akan tertutup setelah proyek berikutnya. Dengan tabungan itu ia bisa membangun rumah untuk kedua orang tuanya.


Terima kasih, Kak Dahlia. Menabung emas lebih bermanfaat. May nggak usah khawatir terkait penurunan nilai mata uang.


"Nih, jus alpukat." Herryl mengulurkan sekantong plastik yang disambut oleh Maya.


"Terima kasih." Maya menerima kantong tersebut.


"Kangen," ucapnya sambil mengusap kepala gadis di depannya. Seketika wajah Maya memerah karena ucapan dan perlakuan Herryl padanya. Ia tidak bisa menahan degup jantungnya yang selalu saja tak beraturan atas sikap Herryl.


"May lanjutin, Ryl," ujar gadis itu sambil menunjuk laptop di mejanya. Herryl mengangguk.


"Iya. Semangat, ya," sahut Herryl menyemangati.


...***...


Pagi ini Rahmat mengajak Maya ke lokasi survei. Maya memasuki perumahan elit yang terletak di belakang Jakarta International Expo.


"Kalau membuat kost di sini pasti banyak yang menyewa," gumam Maya.

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Kebetulan penyewa rumahnya sudah berakhir masa kontrak bulan lalu. Pemiliknya tempo hari menelepon untuk kita survei dan desain kostnya." Rahmat menjelaskan.


"Siapa namanya? Pasti bukan orang sembarangan yang tinggal di perumahan elit begini," tanya Maya.


"Madam Van Coen," jawab Rahmat.


Van Coen?


Maya terdiam. Ingatannya pada pecinta detektif Shinichi kini muncul. Namanya bisa mirip, batin Maya.


"Oke, kita sampai, May."


Seorang perempuan paruh baya menyambut Maya dan Rahmat.


"Madam, saya Rahmat. Rekan saya, Maya, akan membantu saya dalam perencanaan kost," ujar Rahmat mengenalkan dirinya dan Maya. Nyonya Van Coen kemudian menjabat tangan kedua tamunya dan mengajak mereka untuk duduk di ruang tamu.


Setelah berbasa-basi sebentar, Rahmat dan Maya meminta izin untuk mengecek rumah 2 lantai tersebut.


"Maya?" sapa seseorang yang suaranya tidak asing bagi Maya. Gadis itu berbalik dan mendapati lelaki tinggi berkulit putih mengenakan pakaian kasual berupa polo shirt dan celana jeans.


"Adrian?" panggil Maya dengan mata membulat. Jantungnya kini tidak beraturan berdegup.


...-bersambung-...


Wah, ada Adrian.


Teman-teman, terima kasih sudah mengikuti kisah Herryl dan Mayaaaa

__ADS_1


__ADS_2