[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Karena Aku Ingin Menghapus Ketidaknyamanan Ini


__ADS_3

Pagi ini Maya bersama teman-temannya bergantian mengumpulkan tugas kliping olahraga di meja Arkan untuk kemudian Arkan bawa ke meja Pak Gunawan. Setelah itu, mereka berganti pakaian olahraga untuk pelajaran pertama bersama Pak Gunawan.


"Baik, hari ini kita akan berlatih voli. Pekan depan kita akan melakukan pengambilan nilai voli," perintah Pak Gunawan ketika siswa kelas 3-7 selesai melakukan pemanasan. Beberapa siswa yang tidak mahir mengeluh ketika mendengar perintah tersebut. Mereka berbaris untuk berlatih passing, servis, dan smash.


Maya yang kemampuannya memang kurang dalam voli berlatih terus bersama Inggrid dan Riana. Bahkan, ia meminta bantuan Inggrid untuk melatihnya sepulang sekolah.


"Hm, oke deh. Setiap hari sepulang sekolah, ya. Sebagai gantinya, kamu ajari aku matematika, gimana?" Inggrid menawarkan sebuah kesepakatan pada Maya. Tentu saja Maya mengangguk. "Mulai siang ini?" tanya Inggrid lagi. Maya mengangguk.


...***...


Pulang sekolah, Maya membawa seragam olahraga bersama Riana ke toilet. Mereka berdua hendak ganti pakaian karena akan berlatih bersama Inggrid.


"Belum pulang?" tanya Herryl yang berpapasan dengan mereka di dekat koperasi dan toilet. Maya menggeleng.


"Kami mau latihan voli. Minggu depan ujian praktik," jawab Riana menjelaskan. Herryl mengerutkan kedua alisnya.


"Sudah izin Mama?" tanya Herryl lagi pada Maya. Maya menggeleng. Bagaimana mau izin? Maya bertanya dalam hati.


Tapi Maya terkejut karena Herryl menyodorkan ponselnya.


"Izin dulu, supaya Mama nggak khawatir," usul Herryl. Tepatnya memerintah. Maya menatap Herryl sebentar. Melihat Herryl mengangguk, diambilnya ponsel tersebut dan menekan nomor telepon Mama.


Bu Rini - Maya Angkasa


Begitu nama yang tertera di layar ponsel Herryl. Formal sekali penyebutannya. Maya menunggu beberapa nada panggil hingga akhirnya telepon tersambung.


"Ma, Maya pulang sekolah latihan voli, ya. Minggu depan ujian praktik," ucap Maya meminta izin.


"Sama Nak Herryl?" tanya Mama. Maya mencebik sambil melihat Herryl di depannya.


"Bukan, Ma. Sama Riana, Inggrid," jawab Maya. Mama menyetujui permintaan Maya kemudian mereka beruluk salam dan menutup sambungan telepon. Diserahkannya ponsel hitam itu kepada pemiliknya. "Terima kasih."


"Sama-sama. Semangat, ya, latihannya," jawab Herryl yang kemudian pergi lebih dulu.


"Maaf, May. Aku nggak kepikiran untuk izin dulu sama mama kamu," sesal Riana. Maya menggeleng dan tersenyum. Bukan salah Riana sepenuhnya karena Maya sendiri tidak terpikir untuk meminta izin kepada Mama. Mereka berdua kemudian mengganti seragam olahraga lalu berlatih bersama Inggrid di lapangan voli.


...***...

__ADS_1


Sudah dua hari Maya berlatih voli. Kemampuannya untuk passing mulai meningkat. Hari ini Maya berlatih hanya berdua dengan Riana. Inggrid berhalangan hadir karena ia memiliki urusan di rumahnya. Maya sedang akan melakukan servis saat Herryl datang.


"Ayo, servis, May," perintah Herryl. Maya gagal melakukan servis. Herryl mendekat, mengecek tangan Maya.


"Pakai kepalan tangan," lanjut Herryl sambil mencontohkan cara servis bawah yang benar.


"Kamu bisa pulang, Ryl," ucap Maya sambil mengambil bola dari tangan Herryl.


"Eh?"


"May nggak mau Geng Red Hot lihat," lanjut Maya lagi.


"Aku, kan, mau melatihmu," elak Herryl.


"May bisa sama Riana," sahut Maya.


"Buktinya tadi kamu salah servis," balas Herryl tak mau kalah.


"Ryl, please, pergi. Nanti Thalita lihat," pinta Maya akhirnya.


"Kamu khawatir Thalita lihat? Kamu mikirin perasaan Thalita? Pernah, nggak, kamu mikirin perasaan aku?" tanya Herryl berang.


"May, fokus sama latihan. Oke? Soal Geng Red Hot ribut itu urusan nanti," ujar Herryl lagi.


"Tapi May nggak mau kita semua ribut, Ryl. Thalita juga teman May," sahut Maya bersikeras.


"Aku aja nggak peduli sama Thalita, kenapa kamu peduli banget!? Nggak habis pikir aku sama kamu, May!" hardik Herryl akhirnya. Sepertinya lelaki itu sudah tidak dapat menahan diri lagi.


Dibentak seperti itu, Maya hanya bisa menitikkan air mata. Herryl tersentak melihat air mata gadis di depannya.


"May... Maaf, aku-" ucapan Herryl terpotong oleh ucapan Maya di tengah tangisnya.


"Kamu nggak perlu semarah itu, Ryl. May tahu, perasaan May juga nggak perlu dipikirin. May tahu, kok, siapa May di sekolah ini. Cuma penyandang beasiswa. Tapi bukan berarti May bisa dibentak begitu." Maya meraih tasnya dan melangkah pergi dari lapangan, meninggalkan Herryl.


Herryl berbalik, mengejar Maya yang berjalan dengan membawa kekesalan dalam hatinya.


"May!" panggil Herryl seperti orang gila. Suaranya sangat lantang. Ia semakin mendekati Maya dan berusaha menangkap tangan gadis itu.

__ADS_1


GREPP!!


"May, maaf. Aku nggak bermaksud begitu," ucap Herryl ketika sudah berhasil menangkap tangan Maya. Dilihatnya wajah Maya sudah basah oleh air mata. Sakit, ya? Diusapnya air mata di wajah Maya.


Maya diam saja. Ia merasa tidak pantas mendapat perlakuan lembut dari Herryl. Tak lama kemudian ditepisnya tangan Herryl yang baru saja menyeka air mata yang meluruh. Ia menggeleng perlahan.


"Sudah, Ryl, jangan begini," pinta Maya. Kembali ia berjalan keluar gerbang, pulang. Herryl meninju dinding di sampingnya. Tapi tak lama kemudian Herryl seperti tersadar. Maya sedang sedih, bagaimana kondisinya di perjalanan pulang? Segera ia ambil tas di koperasi kemudian mengejar Maya.


Semoga kamu baik-baik saja, batin Herryl sambil berjalan cepat. Maya adalah pejalan kaki handal. Langkahnya cepat sekali. Herryl tidak mendapati Maya sepanjang perjalanan pulang. Ia baru melihatnya saat berbelok ke dalam gang menuju rumahnya. Herryl merasa tenang melihat Maya baik-baik saja.


Sementara itu, Maya segera berganti pakaian, makan siang, lalu ke kamar. Karena sedih, ia tertidur.


Maya terbangun saat Mama pulang membawa tamu.


"Nduk, mi ayam," ujar Mama di balik pintu kamar. Maya membuka pintu kamarnya dan bersegera ke ruang tamu. Biasanya Mama mengajak makan mi ayam di ruang tamu.


"Ayo, May, makan," ajak lelaki yang tadi siang memarahinya. Herryl berdiri kemudian membimbing Maya dengan mengarahkan bahunya untuk duduk dan makan.


"Mama tadi lihat tukang mi ayam dan Mama ingat kita sudah lama nggak makan mi ayam. Sekali-kali Mama beli, ternyata Herryl juga beli," ucap Mama sambil membawakan air minum. Maya akhirnya makan bersama dua orang di hadapannya. Kesedihannya berkurang seiring dengan mi ayam yang ia makan.


"Besok latihan lagi, ya," ucap Herryl setelah mereka selesai makan. Maya juga baru selesai mencuci mangkok bekas makan mereka bertiga.


"Iya, sama Riana dan Inggrid," ujar Maya. Herryl tersenyum mendengarnya.


"Iya, sama mereka berdua. Mudah-mudahan ujianmu lancar, ya," sahut Herryl sambil menepuk pucuk kepala Maya.


"Kamu nggak pulang?" tanya Maya datar. Gadis itu sudah kembali ke mode biasanya.


"Tega, deh," keluh Herryl. Baru juga mereka berdamai, Maya sudah mengusirnya.


"Ma-"


"Bu, saya pulang dulu, ya," pamit Herryl memotong ucapan Maya. Melihat raut wajah Maya yang kesal seperti biasa, Herryl tertawa kecil. Bu Rini kemudian mengantar lelaki tinggi itu ke pintu.


Saat itu Maya menyunggingkan senyumnya sambil menyentuh kepalanya yang tadi ditepuk oleh Herryl.


...-bersambung-...

__ADS_1


Kayaknya tanda-tanda, nih, Maya....


Apa di episode ini Maya sensitif banget, ya? Anggap aja lagi PMS 😁


__ADS_2