![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Herryl melemparkan dirinya di kasur. Senyum tidak dapat hilang dari wajahnya. Bahkan, bila saat ini ada orang lain di kamarnya, orang itu akan melihat pipi Herryl yang memerah.
"Yes!" Herryl setengah berteriak dan berguling-guling di tempat tidur ukuran single miliknya.
GEDEBUK!!
"Aduh!" Herryl berteriak kesakitan saat menyadari dirinya sudah jatuh ke lantai kamarnya. Lelaki itu kemudian terduduk dan menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Kali ini ia tertawa kecil. Ia bangkit lalu mengambil ponselnya dan melihat wallpaper sambil mengingat percakapan di telepon tadi.
...***...
"May. Terima kasih, ya. Tolong jaga perasaan kamu," ucap Herryl.
"Iya, Ryl. Terima kasih, Ryl, untuk perasaan Herryl selama ini," jawab Maya sambil mengangguk. Hening kembali sampai akhirnya Maya mengakhiri sambungan telepon karena ia harus pulang dulu ke rumah.
...***...
Akhirnya kamu mengakuiku juga, May. So many thanks. Tunggu aku, ya.
Herryl seperti mendapat energi yang meluap. Ia kembali mengerjakan paper yang diberikan oleh Profesor McConfey, pria keturunan Amerika yang menjadi salah satu pengajar di jurusannya. Besok adalah jadwal tutorialnya bersama Tom sehingga hari ini ia harus memahami dan menyelesaikan papernya. Ia ingin saat sesi tutorial berjalan dengan baik.
...***...
Maya sedang berada di dalam bus ketika ia memikirkan kembali kejadian tadi. Ia terkejut mendapati dirinya begitu berani mengungkapkan perasaannya pada Herryl. Seketika pipinya memerah saat mengingat ucapannya yang terbawa suasana tadi.
"May, tadi Pak Albert gue lihat ...," ucap Randi menggantung. Maya menoleh ke arah temannya.
"Iya, benar yang kamu lihat," sahut Maya sambil mengangguk.
"Dia lemes pas lihat lo telepon cowok lo. Jadi gosip itu bener, May?" tanya Randi lagi. Maya memicingkan matanya, mencoba mencerna ucapan Randi. Bus tidak terlalu penuh sehingga mereka bisa mendapat tempat duduk.
"Gosip apa lagi?"
"Kalo Pak Albert suka sama lo. Orang-orang divisi suka ngomongin itu, soalnya Pak Albert nggak pernah sebegitu perhatiannya sama anak magang. Bahkan, sama siapapun," jawab Randi menjelaskan.
"Kamu itu ternyata tukang gosip, ya," komentar Maya. Didapatinya Randi memamerkan giginya.
"Kan gue pengen akrab sama semuanya, May, hehehe," jawab Randi membela diri.
"Tapi nggak harus ikutan gosip juga," negasi Maya.
...***...
__ADS_1
Sebuah panggilan video call dari Herryl telah muncul. Maya kini dilanda kegundahan di hatinya. Ia masih malu mengingat kejadian emosional tadi. Duh, pasti diledek. Kenapa, sih, tadi sampai nyebut kangen?
Jarinya tidak mengikuti kata hatinya. Ia menerima panggilan telepon itu. Dilihatnya wajah lelaki yang sedang tersenyum. Tiba-tiba pipi Maya memerah lagi. Gadis itu menunduk.
"Lho, aku telepon kok kamu malah menunduk?" tanya Herryl.
"Ng-nggak ap-apa-apa," jawab Maya tergagap. Jantungnya berdebar tidak karuan saat ini.
"Kamu malu? Ya ampun, nggemesin banget, sih," komentar Herryl.
"Ap-apa, sih, Ryl," elak Maya akan kesimpulan Herryl. Didengarnya Herryl tertawa kecil sehingga Maya mendongak, ingin melihat wajah tertawa Herryl.
Maya seperti terhipnotis menatap wajah di layar ponselnya.
"May, tadi kamu kenapa?" tanya Herryl sambil tersenyum. Maya menautkan kedua alisnya.
"Tadi?"
"Tadi kamu nangis. Ada apa?" tanya Herryl lembut. Kamu nggak akan nangis dan bicara seperti tadi kalau nggak ada apa-apa, May.
Maya terdiam agak lama.
Kurang ajar!
"Tapi kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Herryl yang dijawab Maya dengan gelengan pelan.
"May nggak apa-apa, Ryl. Tapi, semoga aja dia profesional, nggak bikin nilai KP May jelek," lanjut May yang membuat Herryl tersenyum geli. Maya sudah tidak menggunakan sebutan beliau lagi pada Albert karena rasa hormatnya yang semakin terkikis.
Masih seperti dulu, yang kamu pikirkan selalu nilai akademismu.
"Kamu ngeledek?" selidik Maya melihat senyum Herryl yang seolah menahan tawanya.
"Eh?"
"Itu, kamu mau ngetawain May?"
"Nggak. Cuma, merasa kamu nggak berubah aja. Yang kamu pikirin efek perbuatanmu ke nilai kamu. Jadi inget waktu SMA. Kamu juga khawatir ribut sama Thalita karena nggak mau catatan sikap kamu cacat. Lucu banget, sih, kamu, bikin gemes," jawab Herryl sambil mengingatkan Maya akan masa SMA mereka.
"Ryyyl." Maya kesal menyahuti yang membuat Herryl tertawa kecil.
"Kangen cubit hidung kamu," ucap Herryl menggoda Maya.
__ADS_1
"Nggak mau. Nanti hidung May makin kecil." Ketus Maya menolak.
"Aku pulang, ya?" tawar Herryl.
"Nggak usah. Buang-buang uang buat tiket nanti," elak Maya.
"Aku kangen. Emang kamu nggak kangen?"
"Ka-nggak," elak Maya. Herryl tertawa lagi mendengar jawaban itu dan melihat wajah gadisnya yang memerah.
Hening sejenak sampai akhirnya Maya buka suara.
"Ryl, kenapa, sih, laki-laki yang beristri masih bisa ngajak pacaran perempuan lain?" tanya Maya.
"Karena nggak bersyukur. Sebaik apapun istrinya, kalau dia nggak bersyukur dan melihat serta membandingkan perempuan lain dengan istrinya, dia nggak akan pernah merasa cukup," jawab Herryl.
"Jadi begitu."
"May, untuk aku, dari dulu sampai nanti ketika aku jadi suamimu, kamu satu-satunya untukku. Aku nggak bisa melihat perempuan lain seperti aku melihatmu," lanjut Herryl yang segera membuat wajah Maya semerah kepiting rebus.
"Jangan nggombal, Ryl," larang Maya. Hatinya menghangat mendengar ucapan Herryl tadi. Herryl tersenyum melihat wajah malu Maya.
Selalu begitu. Malu.
"Sudah malam di sana, kan? Tidurlah," ujar Herryl lagi sebelum memutus sambungan telepon.
...-bersambung-...
hai halo hai temans. Terima kasih, ya, sudah menyimak kisah Herryl dan Maya. Dukungan kalian begitu berharga.
oh, iya, sampai sejauh ini di ceritanya Maya dan Herryl, share, dong, menurut teman-teman adegan yang:
* bikin baper yang mana?
* lucu yang mana?
* ngeselin yang mana?
yuk cerita-cerita, ajak teman-teman lain buat baca biar bisa ghibahin bareng si Herryl sama Maya 😅
Jaa, matta ne
__ADS_1