[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Reaching for A Love That Seems So Far


__ADS_3

"May, kamu nggak mau masuk grup angkatan?" tanya Riana lewat telepon.


"Nggak, Ri. May nggak banyak kenal mereka. Lagipula May sudah disibukkan dengan kuliah May," jawab Maya menolak halus. Meski hatinya ingin mendapatkan informasi terkait teman-temannya, khususnya Hardi dan Adrian, tapi ia juga merasa tidak pantas untuk bersama mereka dalam grup angkatan. Grup yang Maya ikuti dari SMA hanya grup penerima beasiswa. Selain itu, Maya mengikuti grup kelas di kampusnya.


"Iya, sih. Sekarang kamu sibuk tugas apa?" Riana kembali bertanya. Sebagai mahasiswi fashion design, ia lebih santai daripada mahasiswi teknik.


"Pengenalan bahan bangunan. Masih agak santai karena kabarnya kalau masuk semester berikutnya lebih susah," jawab Maya lagi.


"Herryl gimana?" Sebuah pertanyaan yang membuat Maya terdiam agak lama.


"Dia ... sibuk belajar, sudah dekat kelulusan, kan," jawab Maya akhirnya.


...***...


Herryl baru selesai mengambil berkas kelulusan, yang artinya waktunya di SMA akan semakin sedikit. Sepulang dari sekolah, diputuskannya untuk ke kampus Maya.


"May, aku di kantin Teknik," tulis Herryl dalam pesannya terhadap gadis yang sangat ia rindukan. Mereka sangat jarang bertemu dan hanya bisa berkirim kabar melalui aplikasi percakapan. Itupun bila sedang senggang Maya akan membalasnya.


"Iya," jawab Maya melalui aplikasi yang sama. Gadis itu segera membereskan perlengkapannya kemudian bergegas menuju kantin yang dimaksud.


"May," panggil Herryl sambil melambaikan tangannya, menunjukkan posisi duduknya. Maya menghampiri lelaki itu kemudian duduk dan meletakkan seluruh perlengkapannya. Herryl menikmati setiap kesibukan Maya di hadapannya sambil tersenyum. Aku akan merindukan kegiatan ini, batinnya.


"Setelah ini kita ke taman kota, yuk," ajak Herryl setelah mereka memesan makanan. Mendengar itu, Maya mengangguk bersemangat. Melepas penat setelah kuliah tentu menyenangkan, bukan?


Herryl membawakan perlengkapan milik Maya. Sesampainya di taman kota, Maya berjalan ke sebuah kursi panjang. Herryl mengikutinya, ikut duduk di taman yang menghadap taman bunga mawar di depan mereka.


"May, kalau bunga mawar ini menggambarkan hubungan kita, kamu pilih mawar warna apa?" tanya Herryl lagi. Maya menoleh, menatap sejenak mata lelaki yang selama ini menjadikannya pusat dunia.

__ADS_1


"Me..eh, kuning," jawab Maya tergagap sambil melihat ke depan. Herryl tersenyum. Jangan terlalu banyak berharap, May, batin Maya.


"Kalau buatku warna lavender, boleh, kan?" tanya Herryl lagi. Maya menoleh ke arah Herryl lagi. Ia seperti terhipnotis dengan tatapan itu. Tatapan lembut yang selalu Herryl berikan padanya.


"La ... vender?" tanya Maya lirih. Di depan mereka hanya ada warna merah, pink, dan putih.


"Iya, melambangkan cinta yang spesial," jawab Herryl tanpa melepas tatapannya pada gadis di hadapannya. Didapatinya wajah Maya bersemu merah. Gadis itu kemudian menunduk.


"A-apa, sih, Ryl?" kembali Maya tergagap menanggapi ungkapan perasaan Herryl padanya. Ia merasakan degup jantungnya semakin tak beraturan.


"Aku mencintaimu, May. Semakin hari semakin kuat perasaan itu," ungkap Herryl. Maya mendongakkan kepalanya, mencari kebenaran di mata Herryl. Air matanya kini mendesak keluar, menyebabkan matanya berkaca-kaca.


"Nggak, Ryl. May nggak pantas. May cuma orang biasa, nggak pantas untuk kamu yang kaya. May ini kurang bergaul, nggak pantas untuk kamu yang populer," tolak Maya lagi.


"Lalu ini air mata apa, May? Yang berhak menilai kamu pantas atau nggak untukku cuma aku, May. Aku nggak peduli kamu dari kalangan mana, kamu siapa, yang aku tahu aku mencintaimu. Kulihat kamu juga punya perasaan itu untukku, May," tanya Herryl sambil mengusap air mata Maya yang terus keluar. Maya tidak menjawab dan hanya menangis. Ada yang meneteskan jeruk nipis di hatinya yang teriris. Herryl membiarkan Maya menangis. Syukurlah taman kota tidak terlalu ramai jadi mereka berdua tidak menjadi tontonan orang banyak.


"May, aku tahu kamu. Karena itu, aku ingin memantaskan diri untukmu," ucap Herryl lagi yang memunculkan raut wajah penuh tanya bagi Maya. Herryl mengangguk. "Aku mau kuliah di Oxford, lusa berangkat," lanjutnya lagi. Mendengar itu, Maya menegakkan duduknya dan menggeleng.


"Nggak, May. Aku serius. Aku sudah menyiapkannya sejak kelas 2," jawab Herryl.


"Dari kelas 2? Hal penting seperti ini kamu nggak kasih tahu May? Kamu mempermainkan May?" tanya Maya mengungkapkan kesedihannya. Lelaki di depannya ini bisa melambungkan sekaligus menghempas perasaannya dalam hitungan menit.


"Aku nggak bermaksud mempermainkanmu, May. Aku hanya takut kehilangan senyummu kalau aku bilang sejak awal. Aku sudah lihat bagaimana dirimu saat kau ditinggalkan Riana, Hardi, dan ... Adrian," jawab Herryl menjelaskan.


"Apa lagi, Ryl? Sekarang saat May sudah mulai terbiasa dengan keberadaan kamu, kamu mau pergi, dan kamu bilang bukan mempermainkan?" protes Maya tak berkesudahan. Akhirnya, May merasakan sakit ini, sesuatu yang sudah lama May takutkan.


"May, dinginkan kepalamu. Please, bijaklah. Aku hanya pergi 4 tahun," pinta Herryl.

__ADS_1


"Empat tahun kamu bilang hanya? Memang kamu itu bodoh dalam menghitung. Kamu tahu itu berapa lama?" ejek Maya tidak terima dengan pernyataan Herryl.


"Dibandingkan denganku yang menunggumu sejak TK sampai sekarang, 14 tahun, dengan kondisi kamu tak mengingatku, bahkan janji kita. Melihatmu lebih memikirkan laki-laki lain. Empat tahun ke depan rasanya cukup, May, untuk kita memikirkan kembali perasaan masing-masing," jawab Herryl dengan tatapan mata terluka. Meski aku yakin perasaanku akan tetap sama, May.


Adu argumen itu mulai mereda saat Maya terdiam, tidak lagi menjawab ucapan Herryl.


"Bisa kita pulang sekarang?" pinta Maya akhirnya. Terlalu banyak kejutan yang ia terima hari ini. Ia butuh waktu dan tempat untuk menenangkan dirinya.


Herryl mengiyakan permintaan gadisnya itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Diantarnya Maya pulang sampai depan rumah.


"Istirahatlah yang cukup, May," pesan Herryl sambil menepuk puncak kepala gadis itu. Maya tidak menanggapi dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa mempersilakan Herryl untuk mampir.


Maya bersegera membersihkan diri kemudian mengambil makanan. Setelah itu ia kembali ke kamar, memikirkan kembali semua ucapan Herryl. Sampai pada akhirnya ia teringat pada sesuatu yang janggal.


...***...


"Dibandingkan denganku yang menunggumu sejak TK sampai sekarang, 14 tahun, dengan kondisi kamu tak mengingatku, bahkan janji kita."


...***...


Janji? Janji apa? Herryl menunggu sejak TK? Siapa dia? Karena penasaran, Maya segera mencari album foto di ruang tamu.


"Kenapa, Nduk?" tanya Mama yang melihat Maya membongkar susunan album foto di lemari ruang tamu.


"Mama ingat, nggak, album foto waktu Maya TK di mana?" Maya balik bertanya sambil terus mencari di antara susunan album foto. Mama menghampiri putrinya kemudian membantu dalam pencarian album foto.


Sampai pada akhirnya sebuah album coklat dipegang oleh mama dan diserahkan pada Maya. Maya berterima kasih pada mama. Ia akan mengecek maksud dari ucapan Herryl.

__ADS_1


...-bersambung-...


hai halo hai. Akhirnya Herryl pamit.


__ADS_2