[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Mencoba Percayai Keajaiban


__ADS_3

"Syukurlah operasinya berhasil. Sekarang Adrian sedang melewati masa kritisnya pasca operasi. Maaf, Madam, tadi saya menandatangani persetujuan operasi tanpa menunggu Madam," ujar Maya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Tindakanmu sudah tepat. Terima kasih. Syukurlah operasinya berhasil," ujar Nyonya Van Coen.


Sekitar satu jam kemudian, Maya hampir saja tertidur saat mendengar derap langkah yang tergesa. Dilihatnya dokter yang tadi mengoperasi Adrian datang, wajahnya terlihat tidak setenang tadi.


"Dokter," panggil perawat tersebut sambil berjalan melewati Maya. "Dokter, pasien Adrian," lanjutnya yang membuat Maya menegang.


"Ada apa?" tanya Maya. Gadis itu berdiri dan menghampiri perawat yang berada paling belakang. Perawat hanya berbalik sebentar dan menenangkan Maya. Herryl ikut berdiri karena ingin tahu. Mereka bertiga hanya bisa berdoa karena tidak ada keluarga yang diizinkan masuk ke dalam ruang steril semacam recovery room.


Sementara itu di dalam recovery room terjadi tindakan cepat dari para tenaga medis yang ada.


"Oksigen," perintah dokter. Perawat mengecek oksigen yang sejak tadi terpasang selangnya di hidung Adrian.


"Dok, denyut jantungnya," ujar perawat menginformasikan isi monitor. Para tenaga medis yang ada melihat monitor dan menyadari garis penanda denyut jantung semakin mengecil. Dokter sudah menggunakan alat pacu untuk menaikkan denyut jantung Adrian, tapi tubuh itu tidak merespon.


"Bertahanlah! Adrian!" Dokter memanggil sambil meletakkan alat pacu jantung yang sudah diolesi gel ke atas dada pasiennya. Tetap saja tidak ada respon dari pemilik nama yang dipanggil oleh dokter.

__ADS_1


"00:16." Dokter melihat jam tangannya dan mengabarkan kematian Adrian pada para perawatnya. Mereka berdiri mengitari tubuh Adrian, mendoakan jenazah lelaki tersebut. Kemudian dokter itu segera keluar untuk memberi kabar pada keluarga pasien.


"Keluarga Adrian, bisa ikut saya sebentar?" tanya dokter di depan Maya, Herryl, dan Nyonya Van Coen saat ia sudah berada di luar ruangan. Nyonya Van Coen segera maju dan mengikuti dokter putranya ke sebuah ruangan di samping ruang operasi. Maya dan Herryl juga mengikuti mereka. Baik Herryl maupun Maya merasa ada yang membuat mereka tidak nyaman.


"Nyonya, saat dibawa kemari pasien Adrian mengalami pendarahan akibat luka tusuk dan mengenai hatinya. Kami berusaha semaksimal mungkin agar operasinya berhasil. Namun, Adrian tidak dapat melewati masa kritisnya sehingga tepat pukul 00:16 Saudara Adrian meninggal," rinci dokter dengan raut wajah menyesal.


"Dok?" tanya Maya. Gadis itu bukan tidak mengerti arti kalimat yang disampaikan dokter. Ia hanya ingin memastikan bahwa apa yang didengarnya adalah kenyataan.


"Kami turut berduka cita atas meninggalnya Saudara Adrian," ujar dokter sebelum akhirnya ia permisi untuk membuat laporan. Dokter itu juga nampak tidak baik-baik saja. Tidak ada yang akan baik-baik saja bila melihat pasiennya meninggal, bukan? Apalagi operasi yang dilakukannya berhasil. Takdir berkata lain, Adrian mengalami pendarahan saat di recovery room.


"Adriaaaan!" Histeris Nyonya Van Coen memanggil nama anaknya. Tubuhnya merosot yang langsung ditangkap oleh Herryl.


Wajah damai yang memucat, menunjukkan tidak ada lagi kehidupan di dalamnya. Hati Maya kini terasa teriris.


Kamu pergi, Yan? Selalu begini. Kamu datang untuk pergi.


"Kami turut berduka cita atas kepergian Adrian," ujar petugas di depan Maya yang tidak berekspresi itu. Sekitarnya seperti berubah menjadi bayangan, hanya ada dirinya dan tubuh kaku Adrian. Maya menatap tubuh itu, merasa seperti sedang berada di ruang hampa. Bahkan suara di sekitar terdengar jauh dari ruang dengar Maya. Perlahan ia menjejakkan kakinya mundur.

__ADS_1


Jadi benar, kamu pergi? Kita belum ke bianglala lagi, Yan. Kita berempat sudah janji, kan?


"Kami akan memulai proses pemulasaraan jenazah," ujar petugas lain, memberitahu pada Maya bahwa jenazah Adrian akan dimandikan dan dikafani. Maya mengangguk kemudian pamit agar tidak mengganggu para petugas.


Sementara itu, Herryl mencoba menenangkan Nyonya Van Coen dengan memapah perempuan paruh baya itu ke kursi di luar ruangan yang mereka tempati. Ia memberikan usapan di punggung Nyonya Van Coen.


"Adrian anak yang baik," ujar Nyonya Van Coen. Masih dalam keadaan meratapi kepergian anaknya.


"Iya, Bu. Dia anak yang baik," sahut Herryl.


Maya yang masih berlinang air mata segera kembali dan bergabung dengan mereka. Nyonya Van Coen memeluk gadis itu. Tidak ada yang bisa memahami bagaimana rasanya seorang ibu kehilangan anaknya dengan cara tragis. Anak baik yang sudah dibesarkannya berpuluh tahun dan sedang menapaki cita-citanya.


"Mohon maaf, Bu. Saya urus jenazah Adrian dulu," ujar Herryl. Bagaimanapun, ada setitik cemburu di hatinya melihat Maya menangisi rivalnya. Tapi Adrian juga menolong gadisnya sehingga ia akan membalas kebaikan itu dengan mengurus jenazahnya. Melihat Nyonya Van Coen mengangguk, Herryl menuju bagian administrasi untuk mengetahui tata cara pengurusan jenazah dari rumah sakit ke rumah duka. Lelaki itu mengurusnya sendiri kemudian mengabari rumahnya dan keluarga Maya bahwa Maya baik-baik saja.


...-bersambung-...


Terima kasih, Adrian. Selamat tinggal.

__ADS_1


Terima kasih, semuaaa, untuk dukungan kalian. Sebenarnya saya juga sedih kalau Adrian meninggal, tapi di outline saya seperti itu.


Sampai saat ini, cerita, yuk, apa, sih, yang bikin tertarik membaca novel ini?


__ADS_2