[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Jelang Puncak Asa


__ADS_3

"Ryl." Maya memanggil lelaki yang bersandar di punggungnya. Mereka sama-sama sedang membaca edisi spesial Detektif Conan.


"Hm?"


"Cari tanah untuk kost-kostan yang bagus di mana, ya?" tanya Maya.


"Ada proyek?" tanya Herryl.


"May mau buat kost-kostan untuk mama dan bapak. Biar pensiun aja dan kelola kost," jawab Maya lagi. Herryl tersenyum mendengarnya. Lelaki itu berbalik perlahan. Diusapnya kepala gadis itu.


"Kamu baik banget, May. Rekanku ada kayaknya tanah yang cocok untuk kost." Herryl mengingat usaha properti teman SMPnya.


"Okay."


"Rumahnya?" tanya Herryl lagi.


"Kalau bisa di samping kost. May sudah siap uangnya," jawab Maya. Herryl sumringah mendengarnya.


"Jadi, kita bisa nikah?" tanya pemilik mata yang berbinar itu.


"Belum. May masih harus tabung biaya nikah," jawab Maya menegasikan asumsi Herryl.


TAKK!!


"Aduh!"


"Kamu lupa aku ini siapa? Biaya nikah dari aku saja, ya," bujuk Herryl sambil menjitak kepala kekasihnya.


"Tapi May nggak mau bergantung sama Herryl," elak Maya.


"Setelah menikah, kamu harus bergantung sama aku, May. Kamu mau kerja, punya tabungan, silakan. Tapi kebutuhan kamu, harus aku yang penuhi. Aku, kan, suami kamu," ujar Herryl.


"Calon," ralat Maya. Herryl tertawa kecil.

__ADS_1


"Maksudnya setelah kita nikah," jawab Herryl tidak mau mengalah.


"Tapi acara kita, kan, direncanakan sebelum kita nikah," ujar Maya lagi.


"Ya, udah, sekarang kita ke KUA biar nanti acara nikah kamu nggak larang aku tanggung biayanya," sahut Herryl.


TAKK!!


"Aduh!! Sakit, May."


"Bandel, sih," gerutu Maya. Herryl menyeringai kemudian dikepitnya kepala Maya. "Aduh! Sakit, Ryl. Sakit."


"Bandel, sih."


Pemandangan unik itu menghiasi kursi panjang dan taman bunga mawar di depan mereka.


...***...


Sudah tiga bulan berjalan dan akhir pekan ini Maya mengajak kedua orang tuanya ke area perkantoran Jakarta Timur.


"Kita di mana, Nduk?" tanya Pak Sugeng. Maya mengajak kedua orang tuanya turun dari mobil dan memasuki rumah baru yang masih tercium bau cat.


"Bapak suka? Mama? Ini rumah Bapak dan Mama," ujar Maya.


Seketika Pak Sugeng dan Bu Rini sujud syukur di ruang depan yang akan menjadi ruang tamu tersebut. Mereka kemudian memeluk anak gadis di depan mereka.


"Terima kasih, Nduk. Ini bagus sekali," ujar Pak Sugeng. Rumah tipe 60 itu memang lebih luas dibandingkan dengan kontrakan mereka.


"Syukurlah kalau Bapak suka." Maya menyahuti. Dilihatnya mata lelaki paruh baya itu basah. Tidak mungkin terkena debu. Bu Rini bahkan sudah sesenggukan karena mendapatkan hadiah yang indah dari anaknya. Herryl mengusap bahu perempuan itu. Menemani mereka mengecek tiap-tiap ruangan yang ada.


"Oh, iya, Pak. Di samping rumah ini Maya juga siapkan kost-kostan untuk Mama dan Bapak," lanjut Maya lagi. Bu Rini memeluk erat putrinya. Ada rasa yang membuncah sehingga air matanya terus menetes, membasahi bahu Maya.


"Kamu berusaha keras selama ini untuk kami, Nduk."

__ADS_1


"Nggak, Ma. Apa yang Maya lakukan nggak bisa membalas kerasnya usaha Mama dan Bapak dalam membesarkan Maya," jawab Maya.


Herryl memesan makanan untuk diantar ke rumah baru itu. Mereka berempat makan bersama kemudian berbincang mengenai rumah serta kost.


...***...


Penentuan tanggal pernikahan dilakukan dalam pertemuan resmi sepekan kemudian. Maya dan kedua orang tuanya sudah tinggal di rumah baru. Menurut rencana, pernikahan akan dilakukan 2 bulan kemudian. Riana sudah menyiapkan rancangan gaun pengantin yang sesuai dengan permintaan orang tua mempelai.


Bagaimana dengan Herryl? Lelaki itu masih berkutat dengan pekerjaannya di kantor Pak Ardhiwijaya. Entah mengapa, ia seperti tertekan menjelang pernikahannya dengan Maya.


"Kak, pernah merasa ragu waktu mau nikah?" tanya Herryl malam itu pada Rahmat. Ia meminta waktu senior Maya untuk makan malam.


"Kamu ragu?"


"Bukan. Tapi, aku seperti gelisah memikirkan akan menjalani kehidupan berdua dengan Maya. Entah pergi ke mana kesiapanku selama ini," keluh Herryl. Mendengar hal itu, Rahmat menghela nafasnya.


"Aku juga begitu. Kamu hanya gugup karena akan menyandang status baru, tanggung jawab baru, dan masalah baru kelak. Sebagian besar laki-laki mengalaminya, kok, Ryl. Kalau kamu menuruti perasaan itu, semakin mendekati hari pernikahan maka akan semakin besar rasa gugupmu. Pesanku, jalani harimu seperti biasa, jangan terlalu memikirkan hari pernikahanmu. Banyak kasus yang terjadi seperti yang kamu dan Maya alami ini malah membuat mereka semakin ragu dan membatalkan pernikahan," rinci Rahmat menjelaskan. Herryl membelalakkan matanya.


"Aku nggak mau pisah sama Maya, Kak."


"Maka tenangkan dirimu. Kamu tahu? Sekarang Maya juga pasti mengalami hal yang sama sepertimu. Bahkan, sebagai perempuan, bisa saja emosinya lebih labil. Dahlia dan teman-teman perempuanku juga begitu," pesan Rahmat.


"Jadi, aku harus mendukung dia?"


"Saling mendukung, tepatnya. Ini hubungan kalian, jangan hanya satu pihak yang berusaha."


Hening. Herryl menyeruput teh hijau kesukaannya.


"Untuk mendukungnya, aku ahlinya. Terima kasih, Kak," ujar Herryl. Segaris senyum terbit dari bibirnya, menunjukkan keyakinan akan kemauannya.


...-bersambung-...


Hai halo hai, terima kasih, temans, sudah setia mengikuti kisah Herryl dan Maya

__ADS_1


...IT'S PROMO TIME...


Temans, Herryl segera terbit dalam bentuk cetak dengan berbagai perubahan dan tambahan chapter! wow!


__ADS_2