[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Hal Penting yang Disebut "Tujuan"


__ADS_3

"Sudah kering," ucap Maya di ambang pintu. Herryl segera melepas alas kakinya kemudian duduk di ruang tamu. Maya sudah menyiapkan minum dan cemilan. Herryl tersenyum menatap jamuan itu. "Ada apa?" Maya bertanya setelah duduk di hadapan Herryl.


"Ini," jawab Herryl sambil menyodorkan sebuah paper bag kepada Maya. "Buat kamu," lanjutnya ketika Maya membuka paper bag tersebut. Sebuah kotak putih bergambar ponsel dan bersegel.


"Nggak mau. May bisa beli sendiri," tolak Maya, tangannya menyimpan kembali kotak ponsel ke dalam paper bag.


"May, kamu butuh hp, kan? Kali ini tolong diterima, ya," pinta Herryl sambil menggugah kebutuhan May.


"Tapi ..." May mulai ragu.


"May, aku janji, kamu nggak berhutang apapun sama aku. Aku ingin memberi ini karena aku sudah tahu kehidupan kampus sangat dinamis dan kamu membutuhkannya untuk keperluan kuliah. Kakak sepupuku bercerita bagaimana perubahan jadwal yang mendadak dikirimkan melalui grup percakapan di hp. Kamu mau terhambat belajarmu hanya karena terlambat mengetahui perubahan jadwal? Nggak, kan?" Herryl menjelaskan analisanya.


Iya, sih, mirip dengan ucapan Kak Natasha.


"Tapi ini mahal, Ryl," elak Maya lagi. Pertahanannya mulai melemah. Mendengar hal itu, Herryl tersenyum.


"Mahal tapi awet. Apa kamu mau yang murah tapi cepat rusak padahal kamu belum setahun pakai? Kalau rusak, menguras tabunganmu lagi, kan?" Bujuk Herryl sambil mengajak Maya berhipotesis. Maya terdiam agak lama sampai kemudian mengangguk lemah.


"Maaf, bikin kamu repot," ucap Maya akhirnya.


"Bikin repot kalau kamu nggak mau terima hp ini. Yuk, kuajari cara pakainya," jawab Herryl bersemangat.


"Kamu anggap May nggak ngerti cara pakai hp?" Kembali Maya mengelak ketus. Herryl tertawa kecil mendengarnya.


"Oh, iya, selama ini, kan, pakai hp mama, ya. Ya, sudah, pasang kartunya." Herryl menyahuti. Herryl kemudian membuka slot kartu dan memasangkan kartu SIM yang ia beli bersama dengan ponsel tersebut. Proses yang memakan waktu tidak lama itu selesai, kemudian Herryl menginstall aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan oleh Maya. Setelah selesai, dibukanya aplikasi kontak.


"Eh, ngapain?" Maya bertanya.


"Simpan nomorku," jawab Herryl santai. Maya ingin mencegah tapi ia menyadari pemilik asli ponsel tersebut adalah Herryl. Dibiarkannya Herryl melakukan apa yang ia suka.


"Terima kasih, Ryl. Kamu selalu baik padahal May selalu kasar sama kamu," ucap Maya akhirnya. Dilihatnya Herryl tertawa kecil. "Ryl?" Sesenang itukah dia mendapat terima kasihku?

__ADS_1


"Ini, aku dapat foto waktu kamu kecil," ucap Herryl. Lelaki itu menunjukkan wallpaper ponsel Maya berupa foto anak-anak berseragam di depan sekolah. Keki, itu yang Maya rasakan. Sudah susah payah menata kalimat dan merendahkan ego, lawan bicaranya malah sibuk dengan hal lain.


"Ryyyl. Kamu itu," rutuk Maya sambil melempar paper bag dan kotak ponsel ke arah Herryl.


"Aduh!" Herryl tidak siap menerima lemparan itu. Maya kenapa, sih? Dilihatnya gadis itu cemberut. Salah lagi jangan-jangan.


"Kamu dapat foto itu dari mana?" Maya bertanya, penasaran. Pasalnya itu fotonya bersama Hardi dan teman-teman playgroup lainnya.


"Siapa lagi?" Dari hpku sendiri, May.


"Hardi, ya?" Maya bertanya, wajahnya sendu ketika menyebut nama Tuan Muda Shiratori itu.


Eh? Masih belum mengingatku? Herryl membatin lalu tersenyum getir. Rasanya harus menyerah, tapi aku nggak mau menyerah, May. Aku yakin kamu akan mengingatku, mengingat permintaanmu padaku.


"Tumben bengong," tegur Maya. Herryl sedikit mengerjap lalu tersenyum pada Maya.


"Nggak apa-apa," elak Herryl.


"Siapa dia?" Lagi-lagi Maya bertanya. Wajah polosnya seakan haus akan jawaban. Terbetik sebuah ide dalam benak Herryl.


"Cemburu, ya?" Herryl menggoda Maya.


"Eh?"


"Tumben kamu begitu ingin tahu," lanjut Herryl. Maya mengalihkan wajahnya yang memerah.


"Ng-nggak, tuh." Maya bersikukuh membantah. Herryl tertawa kecil melihatnya.


"Lho, ada Nak Herryl," sapa Mama yang baru saja pulang dari tempat kerja. Herryl dan Maya bergantian salim padanya, takzim. Mata Mama terpaku pada ponsel dan kemasannya di meja. "Akhirnya kamu beli hp, Nak," ucap Mama bersyukur.


"Nggak, Ma. Herryl yang bawain," elak Maya. Ia tidak ingin Mama salah paham bahwa ia boros menggunakan tabungannya.

__ADS_1


"Eh, ini terlalu bagus. Terima kasih, saya nggak tahu harus bagaimana lagi membalas semua kebaikan Nak Herryl," ujar Mama kemudian.


"Nggak apa-apa, Bu. Menurut informasi, hp ini awet jadi Maya nggak perlu sering ganti hp nantinya," jawab Herryl menjelaskan. Mendengar itu, Mama tersenyum. Perempuan itu sangat mengerti perasaan dan perlakuan Herryl pada anak gadisnya. Bagaimanapun, ia tidak bisa menjanjikan apapun terhadap Herryl karena ia dan suaminya tidak ingin memaksa Maya. Soal hati, biar Maya yang memutuskan. Sebagai orang tua, suami istri tersebut hanya bisa mengarahkan agar Maya dan pasangannya nanti tidak salah memilih jalan. Kelak, yang menjalani kehidupannya adalah Maya sendiri, bukan?


"Eh, iya. Riana mau kuliah di Paris," ucap Maya. Herryl menangkap kesedihan dalam nada bicaranya.


"Sorbone?" tanya Herryl lagi. Maya hanya mengedikkan bahu.


"Dia pernah konsul ke Bu Yuniar jurusan tentang fashion, sih," jawab Maya menceritakan yang pernah ia dengar. "Sebagai teman yang baik, harus mendukung cita-citanya, kan?" lanjut Maya. Air matanya sudah mendesak untuk luruh. Mama sudah masuk ke dalam untuk membersihkan diri.


"May, kamu sekarang punya hp. Bisa, kan, kalian tetap berkirim kabar pakai aplikasi?" hibur Herryl seraya mengingatkan Maya akan fungsi benda yang dipegangnya. Sejenak Maya memikirkan ucapan Herryl. Benar juga, batinnya.


"Iya. Makasih, Ryl, sudah mengingatkan," sahut Maya.


"Sama-sama. Kamu mau antar dia ke bandara?" tanya Herryl. Melihat Maya mengangguk, Herryl melanjutkan, "kuantar, ya."


Maya kembali mengangguk lemah. Bagaimanapun, ia merasa baik-baik saja dengan penawaran Herryl. Herryl yang melihat Maya kurang fokus dan mengangguk, langsung tersenyum simpul.


"Setelah itu kita ke KUA, ya, nikah," ucap Herryl. Maya mengangguk setengah lalu menatap tajam Herryl. Dilemparinya lelaki iseng di hadapannya menggunakan buku manual hp yang ada di depannya.


"Ngomong yang bener," rutuk Maya. Herryl kini sudah bisa menghindar dari amukan kecil gadisnya. Eh? Gadisnya? Ya, Herryl mengklaim sepihak bahwa Maya adalah gadisnya.


"Coba kirim pesan ke Riana, tanya kapan mau berangkat?" usul Herryl. Maya melaksanakan usul tersebut. Jarinya lincah menekan layar smartphone yang ia genggam, mencoba menghubungi Riana. Dikirimnya pesan beeupa pertanyaan kapan Riana akan berangkat ke Paris.


"Kamu nggak apa-apa kalau kita antar Riana?" tanya Maya sambil menunggu jawaban Riana. Herryl menggeleng. "Terus, perempuan yang kamu suka juga nggak marah kalau kamu nganter aku?" Maya kembali bertanya pada Herryl.


Mayaaaaaaaaaa!!!! Herryl membatin gemas.


...-bersambung-...


Yeay, Maya punya HP

__ADS_1


__ADS_2