[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Menyapa Rasa


__ADS_3

Maya terus berjalan mendekat ke arah lelaki di depannya. Teman-temannya sudah menyingkir, memberi jalan.


"Herryl," panggil Maya. Bahkan jika ini mimpi, izinkan May merasakan sebentar saja bertemu dengannya.


Lelaki itu tersenyum. Di tangannya sudah tergenggam sekotak coklat. Mereka sudah berhadap-hadapan saat ini. Maya terus menatap mata lelaki yang juga melihatnya. Maaf, siapapun kamu, May sudah tidak sopan melihatmu terus sebagai Herryl.


"May," panggil lelaki itu. Bahkan suaranya sama seperti Herryl.


"Kamu siapa?" tanya Maya. Air mata sudah mulai mengalir karena hatinya yang perih. Sakit, sakit menyadari bahwa May terlalu mikirin kamu, Ryl.


"Kok nangis?" tanya lelaki di depannya. Segera ia membungkuk, menghapus air mata di pipi Maya menggunakan ibu jarinya. Maya menepis tangan itu.


"Maaf, May salah orang," ucap Maya.


"Kamu cari siapa?" tanya lelaki itu heran.


"Dia cowok lo, kan?" tanya Randi yang berjalan mendekati Maya. Maya menoleh ke arah Randi. Cowok May?


"Iya. Terima kasih sudah menjaga Maya selama ini," jawab lelaki yang sedari tadi berdiri di depan Maya pada Randi. Tak lupa ia mengusap kepala gadis di depannya.


Maya membelalakkan matanya.


"Ini ...." Gadis itu terbata karena masih tidak mempercayai ucapan dua lelaki di sekitarnya.


"May, aku datang. Selamat, ya, kamu sudah lulus," ucap Herryl lagi, kali ini sambil memegang kedua bahu Maya dan sedikit membungkuk. "Maaf untuk yang sudah terjadi," lanjutnya sambil menatap mata gadis di hadapannya.


Jantung gadis itu bersicepat dengan waktu. Jadi, bukan halusinasi? Herryl benar-benar datang?


"Ryl, ka-" ucapan Maya terpotong oleh tingkah lelaki di depannya. Tiba-tiba Herryl menyuapkan sesuatu ke mulut Maya. Manis. Lelaki berkemeja biru muda dengan lengan digulung sampai siku itu kemudian mengangsurkan kotak coklatnya pada Randi.


"Buat teman-teman," ujar Herryl.


"Makasih," sahut Randi.


"Yuk, ke kantin," ajak Herryl sambil menggandeng tangan Maya. Gadis itu menatap genggaman tangan Herryl sambil merasakan coklat manis yang sedikit pahit di mulutnya. Jadi seperti ini, ya, rasanya? Sama seperti coklat yang sedang kumakan. Segaris senyum telah muncul karena hatinya menghangat. Ia membalas genggaman itu, menyebabkan Herryl menoleh dan tersenyum padanya.


"Minum." Herryl menyodorkan jus alpukat saat mereka sudah sampai di kantin. Lelaki itu hanya bertopang dagu, mengamati gadis di depannya yang segera minum sesuai perintahnya. Masih seperti dulu, minum tanpa merasa perlu menjaga imej sebagai perempuan lembut.


"Jangan lihat May terus," larang Maya sambil berusaha menyembunyikan rona wajahnya.


"Aku harus melihat ibu kantin?" tanya Herryl merajuk.


"Mulai, deh," gerutu Maya.

__ADS_1


"Setelah ini ke taman, yuk," ajak Herryl lagi. Maya terdiam. Gelasnya sudah kosong. Kini gadis itu beranjak dari duduknya, memakai tas ransel biru miliknya dan membawa skripsi keluar kantin.


"May mau ngurus proyek," elak Maya. Ia sedang mencari alasan agar tidak terus bersama Herryl. Ia merasa belum siap dengan kondisi tiba-tiba ini.


"Kata Tiara nggak ada jadwal tim kamu hari ini, kok," ujar Herryl. Maya berbalik dan menatap tajam lelaki di depannya.


"Kamu stalker?"


"Bukan, aku pecinta kamu," jawab Herryl sambil tersenyum.


"Kamu nyebelin."


"Tapi ngangenin."


"Herryl."


"Apa? Mau dinikahin?"


Maya menatap tajam Herryl.


"Wadouw!!" teriak Herryl kesakitan. Lengannya dicubit sedemikian keras oleh Maya.


"Lama di Oxford belum bisa bikin kamu ngomongnya bener," ujar Maya kesal.


"May, merah, nih." Herryl mengeluh sambil menggulung lengan bajunya. Tadi ia menggulung sudah sebatas siku tapi sekarang ia harus menggulung lagi agar tampak warna merah bekas cubitan Maya di kulitnya yang berwarna kuning langsat.


"Aduh! Sakit, Ryl."


Maya kalah tenaga dengan Herryl yang berlatih di gym setiap pekannya itu.


"Bandel, sih," ujar Herryl sebelum akhirnya ia melepaskan Maya.


"Kita naik bus nggak apa-apa, kan?" tanya Herryl lagi. Dilihatnya Maya mengangguk. Lelaki itu menepuk kepala gadis di sampingnya sambil tersenyum.


Sesampainya di taman, Maya duduk kembali di kursi panjang yang dulu mereka duduki.


"Kenapa pulang?" tanya Maya.


"Karena aku sudah lulus ujian akhir," jawab Herryl.


Maya menoleh mendengarnya.


"Kamu masih harus me-" ucapannya terpotong oleh Herryl.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku harus segera pulang dan menyelesaikan masalah kita, setelah itu aku baru bisa melanjutkan S2 dengan tenang." Herryl menjelaskan sambil menatap Maya. Maya terdiam.


"Maaf, aku salah. Aku terlalu khawatir sampai tanpa sadar menyakiti kamu," lanjut Herryl.


"Bodoh."


"Eh?"


"May yang sudah menyakitimu dengan nggak merespon kamu sama sekali. May sadar May salah saat kamu sudah nggak menghubungi May. May siap kalau harus berpis-" ucapan Maya terhenti karena Herryl menyentuhkan jari telunjuknya di bibir gadis itu.


"Dengarkan aku, May," ucap Herryl. "Saat aku memutuskan untuk tidak menghubungimu, itu adalah saat aku menyadari bahwa aku harus fokus dengan kuliah serta ujianku agar bisa lulus dan pulang menemuimu. Aku sudah berjanji untuk memantaskan diri untukmu, kan? Sejak saat itu aku menyibukkan diri dengan berbagai macam buku, tutorial, dan seminar yang mendukung kuliahku. Bulan lalu, selama tiga minggu aku ujian lisan dan tulisan untuk lulus S1. Sesuai rencanaku, aku akan pulang setelah hasil ujianku keluar. Aku nggak mau kita berpisah, May. Aku cuma membayangkan masa depanku adalah kamu," lanjutnya menjelaskan.


Maya tidak bisa berkata apapun lagi. Hatinya menghangat saat ini. Kembali bulir air mata jatuh karena ada haru yang telah memenuhi dirinya.


"Terima kasih, Ryl. Maaf May sudah salah paham," ucap Maya sambil terisak. Lelaki itu kemudian mengusapkan ibu jarinya di pipi Maya, menghapus air mata yang nampak di sana. Herryl membingkai wajah Maya dengan kedua tangannya kemudian mendekatkan wajah mereka. Matanya menatap dalam mata Maya.


"I do love you, May," ucap lelaki itu lembut diiringi senyum.


Maya mengangguk kemudian memegang tangan Herryl, mengangkatnya dari wajahnya. Wajah gadis itu sudah sangat merah kali ini.


"Jadi, kapan kamu ke Oxford lagi?" tanya Maya setelah mereka sedikit berjauhan.


"Akhir bulan depan. Aku mau melihatmu wisuda," jawab Herryl.


"Tapi, undangan wisudanya cuma untuk orang tua. Kalau mau tambah lagi, harus beli."


"Aku bisa beli sendiri," ujar Herryl yang membuat Maya tertawa kecil.


"Undangan untuk diri sendiri tapi beli sendiri."


Herryl tersenyum melihat Maya yang tertawa. Waktu, berhentilah. Aku masih ingin bersamanya seperti ini. Lelaki itu lalu merebahkan tubuhnya, membiarkan kepalanya berada di pangkuan Maya.


"Eh?"


"Capek, May. Baru sampai tadi malam. Aku tidur dulu, ya," pinta Herryl sebelum akhirnya ia memejamkan mata.


Maya tersenyum menatap wajah lelaki yang tidur di pangkuannya. Gadis itu mengamati garis wajah Herryl yang semakin tegas. Dia sudah semakin dewasa. Tatapan Maya kemudian beralih pada taman mawar di depan mereka. Sekarang May boleh pakai mawar merah, kan, Ryl? Lagi-lagi Maya tersenyum. Terima kasih, Ryl. Terima kasih.


...-bersambung-...


*) I DO LOVE YOU berarti aku benar-benar mencintaimu. Penambahan kata “DO” ini sebagai bukti ketulusan dalam mencintai, tidak hanya memandang kelebihan tapi juga menerima kekurangan.


Yeay! Herryl pulaaaaaang. by the way, saya baper pas baca part ini 😲.

__ADS_1


Dikepit itu apa, sih? Di bawah ini ada visual Maya waktu dikepit Herryl.



__ADS_2