[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Kegundahan Tuan Muda


__ADS_3

"Hiyaa!!"


Adrian melompat kemudian menendang berandal yang ada di depannya tepat di wajah hingga berandal itu tersungkur. Seolah belum puas, Adrian meninju wajah berandal tersebut hingga ia pingsan.


"Berani-beraninya sebut dia cantik dengan mulut kotormu!" Adrian menggeram kesal.


Salah seorang berandal lain menyerang Adrian dengan pukulannya tapi Adrian segera menghindar. Bahkan, lelaki itu bisa menangkap tangan berandal tersebut lalu memelintirnya hingga lawannya itu berteriak kesakitan.


KREK!!


Sebuah bunyi terdengar akibat pelintiran Adrian yang tiada ampun. Belum puas juga, Adrian melakukan tendangan cangkul yang membuat berandal itu pingsan.


Sementara itu, Maya sedang melawan dua berandal di hadapannya. Gadis itu menggunakan tendangan samping sehingga mengenai ulu hati lawannya.


"Argh!!" teriak berandal tersebut. Ia tersungkur. Rasa sakit yang tidak tertahankan menyerang berandal tersebut hingga pandangannya menggelap. Ia pingsan.


Maya menghadapi satu berandal lagi yang hendak memukul tengkuknya. Maya segera menghindar lalu menendang pinggang berandal tersebut.


"Argh!!" teriak berandal tersebut. Ia tersungkur dan tidak bisa segagah tadi. Adrian menendang tulang rusuk berandal itu hingga tidak berkutik. Pingsan.


"Yan! sudah." Maya memberi perintah. Gadis itu baru ingat sifat Adrian yang temperamen. Sedikit saja diganggu maka ia akan meledak-ledak. Saat SMA, hanya Maya lawan yang sepadan bagi lelaki itu. Bukan karena fisik, tapi kata-kata Maya yang tajam membuat Adrian menurut.


...***...


Herryl memutuskan untuk menelepon Bu Rini. Setelah terdengar beberapa nada sambung, Herryl mendengar suara perempuan paruh baya itu dan mereka beruluk salam.


"Bu, Maya sudah pulang?" tanya Herryl di telepon.


"Belum, Nak. Mungkin lembur," jawab Bu Rini.

__ADS_1


"Baik, terima kasih, Bu," ujar Herryl sebelum akhirnya beruluk salam kembali


dan memutus sambungan telepon.


Kamu di mana, May?


Herryl kembali menelepon nomor Maya meski harus memanggil ulang karena tidak juga diangkat.


Semoga kamu baik-baik saja, May.


Lelaki berkemeja yang lengannya digulung sampai siku itu masih mondar-mandir di ruang kerjanya. Seketika ia ingat ucapan Maya. Pasti dia bersama Pak Rahmat, seniornya.


Herryl membuka ponselnya yang masih diisi daya. Memeriksa kontak atas nama Rahmat kemudian meneleponnya menggunakan pesawat telepon. Lagi, setelah nada sambung, Herryl mendengar suara Rahmat beruluk salam.


"Kak, mohon maaf. Apakah Maya sedang bersama Kakak?" tanya Herryl setelah mengenalkan diri.


Adrian?


"Baiklah, Kak. Terima kasih," ujar Herryl. Setelah telepon ditutup, Herryl menyugar rambutnya frustrasi. Kamu ke mana, May?


Herryl mengecek ponsel kemudian membereskan tasnya, bersiap keluar dari ruangan itu. Nanti aku hubungi dia lagi. Semoga tidak jauh dari resto Medio.


...***...


Maya melihat masih ada satu berandal di depan mereka. Adrian memasang kuda-kuda dan memberi kode pada Maya untuk mendekati tas laptop miliknya. Maya menuruti Adrian.


"Kaliaaaan!!" teriak berandal tersebut menyerang Adrian dengan pukulannya. Adrian berkelit sehingga berandal itu hanya memukul angin. Dicobanya lagi dan Adrian menghindar lagi sehingga tetap saja angin yang ia pukul.


Emosi telah menguras tenaga berandal terakhir. Siapa yang tidak kesal melihat keempat temannya dikalahkan oleh dua pemuda?

__ADS_1


Adrian menggunakan kesempatan untuk memukul tengkuk berandal itu. Tapi ia kalah gesit karena berandal terakhir bisa menghindar. Adrian melompat dan hendak menendang perut si berandal tadi. Lagi-lagi berandal itu bisa menghindar sehingga Adrian hanya menendang tanah.


Maya secepat kilat mengambil tas laptop miliknya dan meletakkan di dekatnya. Gadis itu menoleh ke arah Adrian dan lawannya yang masih bertarung.


"AARGH!!" teriak Adrian. Lelaki itu menendang lawannya yang tersungkur. Maya mendekati Adrian.


"Sudah, Yan!" perintah Maya yang merasa Adrian keterlaluan. Lawannya sudah pingsan tapi masih saja ditendangi.


Adrian tidak lagi menendang. Tubuh lelaki itu merosot. Tergeletak. Mata Maya menangkap warna merah di kemeja Adrian. Tepat di perutnya.


Adrian!


"Dia ... tusuk ... May," ujar Adrian tersengal.


^^^Perasaan meluap^^^


^^^Dan cinta bersinar padamu, menjadi cahaya^^^


^^^Sangat menyakitkan^^^


^^^Bahkan jika aku tak akan berada di sana^^^


^^^Di masa depan yang kau tarik^^^


^^^Aku akan memelukmu perlahan sekarang *)^^^


...-bersambung-...


*) Petikan lirik lagu 'Hikari e' by Miwa. Musiknya cocok untuk adegan bertarung Maya dan Adrian. Liriknya juga cocok untuk Adrian 😢

__ADS_1


__ADS_2