[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Shape of My Heart


__ADS_3

Maya mengambil buku diary miliknya. Setelah menulis perasaannya, dibacanya kembali buku diary di halaman awal. Ditelusurinya nama Adrian sering tertulis di tiap halamannya. Adrian yang suka meledeknya, Adrian yang suka mencontek, Adrian yang khawatir kalau ia sakit. Adrian yang marah kalau Hardi memanggil Maya. Adrian yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling. Dan... Adrian yang ia suka.


Suka? Aku suka Adrian? Maya membatin. Dibacanya kembali diary dirinya dengan Adrian yang polanya mirip dengan dirinya dan Herryl. Apa iya aku pada Herryl juga...? Maya menggeleng. Nggak boleh, Herryl nggak boleh jadi pengganti Adrian. Dia bukan pelarian. Maya membatin lagi. Lho, kok malah belain Herryl? Maya terus menggeleng.


...***...


Hari berganti dan sudah menjadi Senin. Maya bingung nanti ketika di sekolah harus bagaimana bila bertemu dengan Herryl. Maya pasrah, mempersiapkan hari ini adalah hari dia akan bertemu Pak Sam. Bersiap-siaplah menerima amukan Pak Sam bila ia tak bisa menjawab. Maya pamit lalu berjalan kaki menuju sekolah.


"Maya," panggil seorang laki-laki di pinggir lapangan saat Maya baru saja sampai di sekolah. Maya menghampiri lelaki itu, ketuanya. Maya ikut duduk di sampingnya, merasakan angin semilir. "Tumben agak murung," lanjut Hardi setelah Maya duduk.


"Di. Sabtu kemarin Herryl..." Maya berusaha menceritakan tapi ada keraguan dalam dirinya. Pantaskah bila ia bercerita pada Hardi? Meski ia menyukai Hardi, ia masih bebas mencurahkan keluhan pada Hardi dan akan ditanggapi sebagai sahabat.


"Herryl kenapa?" Hardi penasaran dengan kalimat Maya yang menggantung.


"Herryl bilang suka, tapi May tolak," lanjut Maya. Hardi hampir saja melompat saking terkejutnya. Gerak cepat juga dia, batin Hardi.


"Kenapa ditolak?" Hardi jadi penasaran dengan alasan Maya.


"May masih mau jadi arsitek, Di, masih mau bahagiakan Mama Bapak dari kerjaan May," jawab Maya menjelaskan. Melihat Hardi mengangguk, Maya melanjutkan,"May juga ngerasa nggak sebanding sama Herryl. Dia Ketua OSIS, populer, dan... kaya. May bukan siapa-siapa, Di." Ada senyum getir yang Hardi tangkap saat Maya melanjutkan ucapannya.


"Hmm, aku dukung untuk cita-citamu itu. Tapi May, berhenti merasa rendah diri, ya. Sensei sudah bilang, kan, kalau kita harus yakin sama diri kita sendiri supaya bisa maju?" Hardi mencoba mengingatkan Maya akan pesan pelatih karate mereka.


Maya terdiam mendengarnya. Ada sesak dalam hatinya yang seolah mendesak air matanya untuk keluar. Hardi melihat wajah yang akan menangis itu.


"Adrian..." Sebuah nama kini disebut oleh Maya. Lirih tapi bisa Hardi dengar.


"Kenapa Adrian?" tanya Hardi. Kenapa tiba-tiba ada nama Adrian? Apa kaitannya? Hardi bertanya dalam hati.


"Di," panggil Herryl yang baru datang. Ia berjalan mendekati mereka berdua. Maya yang mendengar suara Herryl langsung bangkit, berdiri, dan pamit pada Hardi. Ia belum bisa bertemu dengan Herryl saat ini.


"Makasih, Di," ucap Maya sebelum pergi. Hardi kembali menegakkan punggungnya, menunggu Herryl duduk bersamanya.


"Lho, Maya? Kok pergi?" Herryl seperti bingung melihat gadis yang disukainya pergi saat ia datang.


"Lah kan kamu yang bikin dia pergi. Ngganggu orang berduaan aja," sahut Hardi pura-pura kesal. Herryl kini duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Mana rela aku lihat kalian berduaan?" Herryl menyahuti sambil tertawa kecil.


"Yah, seharusnya kamu berterima kasih aku sudah jaga dia selama kalian belum ketemu," ujar Hardi lagi.


"Pamrih."


"Hahaha. Eh, kamu udah nembak Maya? Nekat," tanya Hardi kemudian. Herryl sudah tidak tertawa lagi mendengarnya.


"Iya, keceplosan," jawab Herryl dengan raut wajah menyesal. Hardi menoleh karena terkejut.


"Hah? Keceplosan?"


Kemudian cerita Herryl mengalir lengkap dengan alasan penolakannya.


"Sabar, ya. Yang kamu suka orangnya punya kemauan kuat, bukan orang sembarangan. Agak repot memang. Tapi, hormati dulu keinginan dia yang masih ingin fokus pada cita-citanya dan membahagialan orang tuanya dengan hasil jerih payahnya." Hardi menguatkan Herryl, menenangkannya. Dilihatnya Herryl tersenyum getir.


"Terima kasih, Di. Tapi, aku heran, kok dia seterbuka itu sama kamu? Cerita ke kamu," sahut Herryl.


"Iya, aku juga heran, padahal, kan, dari sikapnya selama ini dia tuh suka sama aku," jawab Hardi. Herryl mendengar itu langsung meninju bahu Hardi.


"Ge eR," celetuk Herryl. Hardi tertawa mendengarnya.


"Diiii. Udah, aku mau ke kelas dulu," elak Herryl. Lelaki itu berdiri, pergi meninggalkan Hardi yang bersemangat meledeknya. Setelah kepergian Herryl, Hardi menatap langit, teringat ucapan Maya yang terakhir tadi. Adrian. Kenapa dengan Adrian?


...***...


Maya sedang membaca majalah remaja yang dipinjamnya dari perpustakaan. Ditelusurinya topik yang tadi ia cari. Riana yang baru datang dari kantin jadi penasaran dengan apa yang Maya baca. Meski suka melahap berbagai macam buku, Maya selama ini tidak begitu tertarik akan majalah remaja.


"Baca apa, May?" Riana bertanya sambil duduk di samping Maya.


"Referensi pacaran," jawab Maya tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca. Jawaban yang membuat Riana menempelkan punggung tangannya di dahi Maya.


"Normal, nggak demam. Kok tumben baca gituan?" Riana bertanya lagi setelah memastikan kondisi Maya yang aneh bukan karena demam. Ada-ada saja Riana.


"Penasaran pacaran kayak apa. Hmm, jadi kesimpulannya, tentang mengungkapkan perasaan, berpenampilan yang disukai pasangan. Then, soal jalan, makan, menghilangkan stres. Makes no sense deh. Nggak pacaran juga bisa," ujar Maya menyimpulkan. Riana memutar bola matanya.

__ADS_1


"Nasib punya teman kelewat pintar, ngomong sendiri kayak Holmes," celetuk Riana. "Ayolah, May. Kita sudah pernah bahas ini dan kesimpulanmu sama," lanjutnya lagi.


"May penasaran aja pacaran itu gimana," jawab Maya lagi.


"Kita, kan, sudah lihat teman-teman yang pacaran, May. Masih kurang? Ayo, ada apa?" Riana beradu pendapat dengan alasan Maya yang menurutnya aneh.


"Herryl bilang suka," ucap Maya yang membuat Riana membelalakkan matanya.


"Apa?"


"Iya, tapi May nolak. May nggak mau pacaran, Ri."


"Cepat juga dia, kirain mau ngomongnya setelah kamu ujian," komentar Riana. Giliran Maya yang mengerutkan alisnya.


"Maksud kamu?"


"Semua yang ngelihat juga tahu kalau dia suka sama kamu. Kamunya aja yang nggak ngerti," lanjut Riana menjelaskan.


"Eh? Dia kan selama ini iseng."


"Iya, tapi dia juga sering nolong kamu apalagi kalau terkait Geng Red Hot. Dia juga yang njagain waktu kamu ketiduran di kelas," rinci Riana lagi menjabarkan maksudnya.


"Gitu, ya?" Maya kembali memastikan asumsi Riana.


"Terus? Hardi?" tanya Riana lagi.


"Tadi dia bilang sih dukung keputusan May untuk fokus sama cita-cita," jawab Maya. Riana mengerjapkan kedua matanya berkali-kali.


"Tunggu. Kamu curhat sama Hardi soal ditembak Herryl?" Riana bertanya. Melihat Maya mengangguk, Riana menepuk dahinya. "Ya ampun Mayaaaaaaa. Kamu curhat soal cowok lain ke cowok yang kamu suka? Anti mainstream emang nih anak," lanjutnya. "Dosa apa aku punya sahabat macam Maya?" Keluh Riana sambil menutup wajahnya.


"Nggak tahu, Ri. Waktu curhat kayaknya Hardi tuh sahabat buat May, bukan cowok yang May suka, Ri," elak Maya. Entah kenapa perasaan untuk Hardi mulai memudar, terganti dengan Adrian dan Herryl.


"Oke, oke, terus?"


"May kepikiran Adrian," jawab Maya lagi, pelan. Riana menghela nafasnya.

__ADS_1


"Aku dukung keputusan kamu, May," ucap Riana. Ia menyadari bahwa sahabatnya yang juara sekolah ini masih sangat perlu belajar tentang cinta. Polos banget kamu, May. Aku akan jaga kamu dari laki-laki yang cuma mau mempermainkan kamu.


...-bersambung-...


__ADS_2