![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Perempuan itu duduk di depan meja kerjanya. Sebuah action figure bocah berkacamata menghias di salah satu sudut meja. Melihat hadiah sang suami, ia teringat kala mereka masih kuliah, saat Herryl memberikan salah satu merchandise itu padanya.
...-----...
"Ryl," panggil Maya malam itu di telepon usai berbincang tentang ujian akhir semester. "Kamu ...," ujar sang gadis menggantung. Ada ragu terdengar dari suaranya. Ingin bicara tapi tidak ingin ucapannya merepotkan Herryl.
"Conan tayang minggu depan, kan, yang baru?" tanya mahasiswa Oxford tersebut. "Hardi bilang Golden Week kemarin di Jepang sudah tayang."
Karena Adrian si penggemar Conan juga ke Jepang, May. Herryl hanya menggumamkan kalimat itu dalam hati. Tidak ingin ia mengabari sang gadis. Entah mengapa hatinya sedikit memanas ketika ingat tentang calon kriminolog itu. Katakanlah ia cemburu. Wajar, bukan?
"Ah, iya," jawab Maya singkat. Gadis itu terdiam lagi. "Sempat baca-baca katanya kali ini akan lebih seru dari film tahun lalu." Antusias ia ketika teringat beberapa info yang sempat dibaca terkait bocah kaca mata.
"Nggak mau nonton?" tanya Herryl pada akhirnya. Maya yang ia kenal sangat malas pergi ke bioskop karena buku lebih menarik bagi gadis itu.
"Nggak," jawab mahasiswi Teknik Sipil itu. "Tapi...."
Kali ini kerutan alis si mata elang muncul. Menanggapi kata tapi dari gadisnya.
Kamu mau nonton?
Berita terkait film terbaru detektif Jepang itu sangat massiv. Berbagai komunitas membahasnya dan mengadakan acara nonton bareng. Wajar kalau misalnya Maya juga terpengaruh kali ini. Begitu menurut Herryl.
"May, aku tutup sebentar, ya," pinta sang pemuda. Setelah Maya mengiyakan, sambungan telepon di antara keduanya terputus.
Di bawah langit jelang senja Jakarta, gadis itu menyanyikan reffrain soundtrack yang baru saja mereka bicarakan.
Nagareru manma
Nagasaretara
Aragaou ka
Utsukushii hire de
Kowareru yoru mo
__ADS_1
Atta keredo
Jibun de
Irareru youni
^^^Ketika kuterus hanyut ^^^
^^^terbawa arus,^^^
^^^haruskah kulawan ^^^
^^^dengan sirip yang indah? ^^^
^^^Meski ada malam ketika ^^^
^^^aku merasa hancur,^^^
^^^tapi semoga kubisa tetap ^^^
Sekitar sepuluh menit kemudian, lelakinya kembali menelepon. Maya yang merasa tidak berjanji akan berbincang kembali, hanya mengerutkan kedua alisnya. Tapi tak urung diangkatnya juga telepon.
"Sudah kukirim ke emailmu, May," uvap Herryl di seberang telepon.
"Email?" tanya Maya yang masih belum bisa mencerna maksud si penelepon.
"Tiket nonton premier Conan. Untunglah aku dapat tiket terbatas itu. Sekaligus bundling merchandisenya."
Apa?
"Ryl, itu ...," ucapan Maya terputus. Menggantung tepatnya. Ada sisi hatinya yang belum bisa menerima perlakuan sang lelaki. Tapi sisi lainnya menyukai kesempatan yang diberi.
"Maaf belum bisa nonton bareng. Jadwalku padat banget, May," ujar Herryl akhirnya.
"Bukan," sahut sang gadis. "Tapi kamu nggak perlu lakukan ini untuk May."
__ADS_1
Mendengar penolakan untuk yang ke sekian kalinya membuat sang pemuda menghela nafas. Ia seperti lupa bagaimana karakter seorang Maya.
"Memangnya kenapa?"
"Kamu menghamburkan uang, Ryl, untuk May," jawab gadis berkacamata tersebut. "Memangnya May siapa, sampai kamu belikan tiket, merchandise?"
"Kamu, kan, calon istri aku, May. Wajar, dong, kalau aku kasih hadiah."
"Siapa yang calon istri?" tanya Maya lagi dengan nada kurang suka. "Ryl, jangan suka menghamburkan uang Om Ardhi untuk May yang bukan keluarga kamu."
Nih, cewek, hobinya ngajak ribut, Herryl membatin.
"Itu bukan uang papa, May," sahut Herryl. "Itu uangku. Lagipula, aku cuma kasih hadiah itu. Anggap reward atas IPKmu yang selalu empat. Boleh?" Pemuda itu mulai melunak. Membujuk sang gadis yang sangat keras kepala.
"Tapi ...," gumam Maya ingin mengelak lagi.
"Nggak ada tapi. Kamu terima dan nonton. Selesai, kan?"
"Ryl... apa kamu akan begini sama orang lain?" tanya Maya.
"Tergantung."
Jawaban singkat pemuda itu membuat Maya mengerutkan alisnya.
"Tergantung?"
"Ya, tergantung. Apakah dia layak atau nggak untuk dapat perlakuan begini," jawab sang Tuan Muda. "Kamu nggak usah khawatir akan hal-hal begini, ya, May. Bisa, kan?"
Hening tercipta di antara mereka. Maya kemudian mengangguk setelah menyadari bahwa dirinya tidak bisa selalu keras kepala.
"Makasih, Ryl," ujar sang gadis yang disahuti senyuman pendengarnya di seberang. "Nanti May ganti setelah kerja."
Mulai lagi, diaaa.
------
__ADS_1
Yup, lagi hype banget movie conan 26 yang disebut sebagai film terbaik dari semua film keren detektif conan. Maya yang masih kuliah juga tentu pengen nonton sesekali. Siapa aja nih yang sudah nonton?