![[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa](https://asset.asean.biz.id/-tamat--3-masa-1-rasa.webp)
Sudah satu bulan Maya kerja praktek di Crown Construction. Albert termasuk arsitek yang baik karena ia tidak segan-segan mengajari Maya dan Randi terkait bagian yang tidak mereka mengerti.
Maya dan Randi mengikuti Albert ke lapangan. Hari ini mereka seharian di lapangan, mengawasi pekerjaan para tukang, mencatat penjelasan Albert dan Pak Gani, ikut memeriksa pekerjaan yang telah dilakukan.
Hari sudah sore saat mereka selesai bekerja di area proyek. Randi dan Maya diantar pulang oleh Albert. Karena jarak yang jauh dan lalu lintas macet, Randi tertidur di mobil.
"Kalau dari sini, rumahmu atau Randi yang lebih dekat?" tanya Albert pada Maya.
"Randi, Pak," jawab Maya. Randi pernah bercerita mengenai lokasi rumahnya saat mereka mengerjakan tugas kelompok. "Saya bisa turun bersama Randi sehingga Pak Albert tidak perlu mengantar saya sampai rumah saya yang jauh," lanjutnya lagi.
"Saya tidak berkeberatan mengantar kalian. Lagipula, kalian berdua merupakan tanggung jawab saya selama kerja praktek di Crown," elak Albert menegasikan ucapan Maya.
"Baik, Pak," jawab Maya menurut. Bagaimanapun ia tidak ingin mengacaukan nilai kuliahnya dengan melawan Albert.
Ketika mereka sampai di depan rumah Randi, Maya menepuk bahu temannya itu.
"Bangun," panggil Maya. Randi segera bangun dan melihat gerbang rumahnya sudah di depan mata.
"Eh, sudah sampai. Duluan, May. Terima kasih, Pak Albert," ucap Randi sambil melepas seatbeltnya. Maya dan Albert menyahuti dan mereka melaju kembali setelah Randi turun.
Jarak rumah Maya termasuk jauh dari rumah Randi. Karena kelelahan, Maya akhirnya tertidur. Albert menyetir mobil dalam suasana hening sampai di jalan dekat rumah Maya.
"Maya, rumah kamu di mana?" tanya Albert. Merasa tidak dijawab, Albert mengambil mainan anaknya kemudian dilempar ke arah Maya di belakangnya.
"Aduh!" keluh Maya saat merasakan ada benda yang mengenai kepalanya.
"Saya tanya, rumah kamu di mana?" tanya Albert lagi. Ia juga lelah, tapi mahasiswi ini malah enak tidur. Dipikirnya saya driver taksi online? Albert menggerutu dalam hati.
"Eh, iya, Pak. Gang sekitar 300 meter di depan," jawab Maya kikuk. Albert kemudian menepikan mobilnya di depan gang rumah Maya.
"Terima kasih, Pak," ucap Maya kemudian turun dari mobil tersebut. Albert mengangguk.
...***...
Esoknya, di grup angkatan tersebar gosip terkait Maya dan Albert. Randi yang bekerja bersama Maya membelanya. Maya hanya membaca sekilas isi pesan di grup angkatan dan hanya diam saja. Ia mencoba fokus pada kerja prakteknya, sampai saat jam makan siang Randi memintanya mengecek ponsel.
"May, saya mendapat kiriman foto kamu dengan arsitek di tempat KP. Kamu bisa jelaskan?" tanya Natasha dalam layar percakapan mereka. Maya mengunduh kiriman foto yang dimaksud oleh Natasha.
Mata Maya membulat, tampak Albert berdiri sangat dekat sambil menjelaskan sesuatu di depannya dan dirinya sedang fokus mencatat. Wajar banyak yang salah paham bila melihat foto mereka berdua.
"Maaf, Kak. May tidak ada hubungan seperti yang dituduhkan," jawab Maya di layar percakapannya dengan Natasha.
"Iya, ini foto yang gue kirim di grup," ucap Randi. Maya segera menoleh.
__ADS_1
"Kamu kirim?"
"Iya. Gue nggak nyangka bakal begini. Gue cuma upload foto kegiatan kita saja, May," jelas Randi.
"Randi, kalau cuma May yang kena gosip, sih, nggak apa-apa. Kalau Pak Albert, dia, kan, punya anak dan istri," nasehat Maya setelah menghela nafas.
"Lo, kok, malah mikirin Pak Albert? Jangan-jangan ... benar kalian berdua ada hubungan?" protes Randi.
"Hubungan kerja aja, kok. Lagipula kita seharusnya fokus sama kuliah kita di sini, Randi. Mumpung di tempat yang tepat, kita serap ilmunya," elak Maya sambil mengingatkan tujuan mereka di Crown.
"Lo bisa fokus dengan adanya gosip?"
"Buat apa mikirin gosip yang unfaedah, sih," sahut Maya lagi.
"Tapi, cowok lo gimana? Dia tahu?" tanya Randi lagi yang segera menghentikan sendokan makan Maya.
Herryl. Dia nggak tahu, kan? May nggak mau hal sepele begini mengganggu kuliahnya.
"May percaya, dia nggak akan terganggu sama hal sepele begini," jawab Maya. Meski terkadang Herryl akan histeris untuk hal yang juga sepele, batinnya.
Berkelebatan dalam bayangannya saat Herryl meninju berandalan hanya karena menyebut Maya imut. Herryl bilang cuma dia yang boleh bilang May imut? Susah ditebak memang anak itu, batin Maya. Maya menggeleng kemudian melanjutkan makannya.
"Sudah, yuk. Kita balik kerja," ajak Maya setelah mereka selesai makan. Randi menurut.
"Nggak apa-apa, Randi," jawab Maya kemudian duduk di mejanya. Saat itu Albert juga baru selesai makan siang.
"Maya, laporan ke lapangan sudah selesai?" tanya Albert. Maya mengangguk. "Oke, saya cek via email, ya," lanjutnya sambil menepuk bahu Maya.
...***...
Sementara itu di Oxford, Herryl sedang bersiap-siap saat sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dibukanya layar percakapannya dengan salah satu nomor tidak dikenal. Alisnya berkerut saat ia melihat foto yang terunduh secara otomatis itu. Tertera keterangan: Skandal mahasiswa di tempat magang.
Herryl memperbesar foto yang diterimanya itu. Matanya membelalak begitu ia menyadari wajah salah satu orang yang berada dalam foto tersebut.
Maya? Herryl bertanya dalam hati. Tidak berapa lama Herryl menyunggingkan senyum. Ia berangkat setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memakai tasnya. Kelas pagi ini akan dimulai.
...***...
Sudah seharian ini Maya tidak mendapat kiriman pesan apapun dari Herryl. Ponselnya berdering saat gadis itu baru selesai membersihkan diri. Dilihatnya nama pemanggil, Riana.
"Maaaay, aku udah luluuuus!!" ucap Riana bernada riang saat telepon mereka tersambung. Kuliahnya di fashion design bisa ia singkat dari 3 tahun jadi 2,5 tahun.
"Selamat, ya, Riii," ucap Maya ikut tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Sebentar lagi aku balik. Kita bisa barengan lagi. KP kamu gimana?" tanya Riana.
"Iya, May juga baik-baik aja KP," jawab Maya.
"May? Cerita, ada apa?" tanya Riana lagi. Ia merasa kalimat Maya belum selesai. Hening sejenak.
"May lagi digosipin skandal sama Pak Albert," jawab Maya.
"Arsitek senior itu? Biasanya kamu cuek," komentar Riana.
"May kepikiran tanggapan Herryl," sahut Maya menjelaskan. Riana menghela napasnya.
"Memang Herryl tahu?"
"Entah. May cuma nggak mau kuliahnya terganggu gara-gara gosip begini."
"Kamu mikirin kuliahnya? May, kamu nggak mikirin perasaannya?" komentar Riana lagi. Anak ini belum berubah juga.
"Bukannya kalau dia nggak profesional, perasaan nggak nyamannya bisa ganggu kuliah dia?" analisa Maya.
"Sejauh itu kamu mikirnya? Oke, oke. Gini aja, deh. Lebih baik kamu telepon dia, jelasin semuanya. Biar kamu nggak kepikiran, gimana?" saran Riana. Maya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengiyakan saran Riana. Mereka berdua menutup telepon kemudian Maya mencoba menghubungi Herryl.
Ini jam istirahatnya bukan, ya? Maya bertanya dalam hati. Setelah beberapa nada panggil, telepon tersambung.
"Ya, May," sapa Herryl lembut.
Mendengar suaranya saja membuat Maya ingin menangis. Herryl terlalu baik kalau sampai terluka karena gosip ini.
...-bersambung-...
hai halo hai, terima kasih sudah setia menyimak kisah Herryl dan Maya sampai saat ini. Share ke teman-teman, ya, link cerita ini, biar bisa ngghibahin kelakuan Maya dan Herryl bareng, hehehe.
...GIVEAWAY TIME ^_^...
Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih pada para pembaca setia kisah Herryl dan Maya yang nggemesin ini, sya mau buat giveaway, nih. Seru-seruan yang manfaat aja ceritanya. Gimana caranya?
Teman-teman sudah ngikutin ceritanya, kan? Sekarang, teman-teman boleh komentar (ajak teman buat komentar kalau perlu) di salah satu part novel ini. Sya akan pilih 2 komentar paling greget untuk jadi pemenang.
Terus, hadiahnya? Karena baru mulai, sya mau bagi pulsa Rp 10.000. Pulsanya all operator, kok, jadi nomor manapun bisa diisi, hehehe. Lumayan, kan, buat telepon keluarga pas lebaran, atau whatsapp Herryl biar cepat pulang #eh
Pengumuman pemenangnya kapan?
Tanggal 10 Mei 2021 di update terbaru, yaaa. Stay tune, temans
__ADS_1
Jaa, matta ne