[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa

[TAMAT] 3 Masa 1 Rasa
Every Little Thing


__ADS_3

"May," sapa Riana. Sudah tahun terakhir ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Angkasa. Riana mengajak Maya ke mall untuk berbelanja. Maya sudah menunggunya di ruang tamu. Riana yang sudah memiliki SIM kini mengendarai mobil magenta yang mungil.


"Aku diterima di BAZAAR, May," ucap Riana mengabarkan sambil menyetir. Maya yang mendengarnya segera menoleh, sumringah karena bahagia atas kabar tersebut.


"Kalau sudah selesai May kerja di mana, ya?" gumam Maya.


"Kamu freelance aja, biar bebas atur waktu kamu dan maksimal sebagai istri Herryl," jawab Riana.


Maya membelalak saat mendengar kata istri. Wajahnya memerah.


"Apa, sih, Ri?" gerutu Maya yang membuat Riana tertawa kecil.


"Ya ampun masih malu, padahal udah bisa bilang kangen sama Herryl," goda Riana.


"Udah, deh. Fokus nyetir aja, Ri," usul Maya.


"Iya, iya. Kamu udah ngabarin Herryl, kan, kalau pergi sama aku?" tanya Riana.


"Kenapa harus kabarin dia?"


"Maaaay. Nanti kalau dia khawatir gimana?"


"Nggak, kok. Kami nggak seperti yang lain yang harus mengabari kalau pergi sama temannya."

__ADS_1


Riana terdiam. Ia sudah sering mendengar rewelnya pasangan teman-teman di Paris yang pacaran kalau mereka mau jalan-jalan.


"Kamu nyaman, May?" tanya Riana. Dilihatnya Maya mengangguk. "Kamu percaya Herryl juga melakukan hal yang sama?" tanya Riana lagi dan ia kembali mendapati Maya mengangguk. "Kenapa kalian bisa sesantai itu?" kembali Riana bertanya. Dilihatnya Maya tersenyum.


"Kami-sebentar," jawaban Maya terputus karena teleponnya berdering. Maya melihat nama pemanggil dan menjawab video call tersebut.


"May, kamu di mobil?" tanya Herryl si penelepon saat melihat latar belakang Maya.


"Herryl, ya? Taruh dashboard, May, biar aku juga bisa ngobrol," pinta Riana. Maya menuruti permintaan sahabatnya.


"Oh, apa kabar, Ri?" sapa Herryl.


"Baik, Ryl. Kudengar kamu lanjut S2 di Oxford? Wah, selamat, ya. Oh, iya, Maya kuajak jalan, ya," ucap Riana.


"Naik tingkat jadi calon istri, nih?" goda Riana.


"Apa, sih." Maya mengelak sambil menatap ke depan.


"Iya, Ri. Sudah nggak zamannya jadi pacar," jawab Herryl sambil tertawa.


"Oh, iya, Ryl. Tadi aku tanya Maya tapi belum dijawab. Coba kamu yang jawab."


"Hmm?"

__ADS_1


"Kalian sesantai ini kalau pasangannya jalan sama teman-temannya. Nggak nanya pergi ke mana, sama siapa, pulang kapan, ngapain aja. Nggak izin juga. Kenapa sesantai itu?"


"Karena Maya selalu jaga kepercayaanku padanya," jawab Herryl sambil memfokuskan tatapannya ke Maya. Riana menangkap senyum lembut yang tidak pernah berubah milik Herryl. Senyum yang hanya ditunjukkan untuk Maya.


"Duh, jadi ikut baper. Manis banget, sih, kalian," komentar Riana. Sementara Maya, wajah gadis itu memerah.


"Makanya, cari cowok, Ri. Atau mau kukenalin sama anak Oxford?" celetuk Herryl sambil tertawa kecil.


"Aku maunya yang di Jakarta, repot LDR," elak Riana.


"Hahaha. Titip Maya, ya," pinta Herryl yang dijawab jempol oleh Riana. Maya mengambil ponselnya dari dashboard.


"Maya bisa jaga diri sendiri." Ketus Maya menolak.


"Iya, aku tahu kamu bisa jaga diri sendiri. Tapi boleh, kan, aku nitipin orang yang kusayang ke sahabatnya?" sahut Herryl lembut.


"Apa, sih," ucap Maya kemudian menutup teleponnya. Wajahnya memerah terus sedari tadi. Sementara jantungnya sudah berdegup tidak karuan.


"Manis banget Herryl ke kamu," komentar Riana. Dilihatnya Maya masih memerah wajahnya. Kalian selalu merasa jatuh cinta, ya?


"Usil kalau dia, Ri," elak Maya. Riana tersenyum mendengarnya. Sahabatnya ini sepertinya belum berubah. Biarlah, yang penting kamu bahagia, May.


...-bersambung-...

__ADS_1


hai halo hai. Sudah sejauh ini, terima kasih atas dukungannya terhadap kisah ini, ya.


__ADS_2